loading...

Rabu, 10 Oktober 2018

Mungkinkah Semua Orang Menulis?



Tentu tidak. Apalagi kita tidak pernah benar-benar serius belajar menulis (baca : mengarang). Dan apakah itu perlu?

Sejak SD hingga SMA, bahkan sampai kuliah, selalu dicekoki pelajaran bahasa Indonesia. Selalu. Materinya berputar-putar, dari stuktur kalimat, ejaan, tanda baca, hingga majas-majas.

Muter-muter disitu saja, dan tragisnya setelah lulus banyak yang lupa. Lihat saja postingan-postingan orang di sosial media. Tidak semua bagus. Tidak semua bahasanya tertata, dan itu jumlahnya dominan.

Lalu untuk apa bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia? Seolah tak ada gunanya. Sia-sia. Buang-buang waktu. Meski ujian nasional nilai bahasa Indonesianya tinggi.

Tentu itu menggelisahkan, sekaligus jadi refleksi bersama tentang kegiatan sekolah selama ini, yang tidak efektif membentuk siswa agar bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Padahal bahasa itu penting. Tidak saja sebagai alat komunikasi, namun juga identitas bangsa, instrument budaya, dan nasionalisme yang paling awal membentuk bangsa ini.

Selepas merdeka pada 1945, hanya bahasa Indonesia yang bisa menjadi alat pemersatu. Sebagian besar masyarakat belum tahu soal ideologi negara, bangsa, dan sebagainya.

Ketika orang Papua bertemu orang Sunda, orang Bugis bertemu orang Jawa, orang Minang berjumpa orang Madura, yang menandakan mereka satu adalah bahasa Indonesia.

Karenanya merawat bahasa Indonesia penting. Selain di sekolah, juga melalui gerakan-gerakan literasi, khususnya kepenulisan, yang mana bahasa Indonesia dengan serius dijadikan kajian sekaligus "diamalkan", dituangkan lewat tulisan.

Lalu jika sekolah saja tidak mampu, bagaimana dengan gerakan-gerakan literasi yang hanya swadaya?

Inilah tantangan peliknya. Tidak semua orang bersedia. Tidak ada duitnya. Beberapa yang biasanya melapak buku, menyediakan buku bacaan gratis, juga sedikit yang bertahan.

Lainnya gulung tikar ; tak digubris, sering diremehkan, buku-bukunya dipinjam dan tak kembali, yang meminjam pun belum tentu baca.

Bagi para pejuang literasi yang saya temui, jika buku dipinjam dan tak dikembalikan, itu tak jadi soal. Namun yang jadi masalah, ketika buku-buku sudah tidak lagi dibaca.

Lalu lebih sulit mana dengan mengelola komunitas kepenulisan? Ibarat tangga, menulis adalah tangga berikutnya dari membaca. Tentu tidak gampang pula. Meski optimisme selalu ada.

Mereka yang mau menulis, tentu harus melewati dulu "tangga membaca" tersebut. Karena itu jadi salah satu bahan bakarnya.

Karena itulah jumlah yang menulis pasti tidak lebih banyak dari pembaca. Jumlah pembaca juga jauh lebih sedikit dari pendengar dan penonton.
Orang lebih suka melihat dan mendengar, dibanding membaca dan menulis. Maka jumlah penulis tidak banyak, namun tidak sedikit. Banyak yang bisa menulis di antara yang sedikit tersebut.

Akan tetapi membaca (dan menulis) menjadi ukuran kemajuan sebuah negara. Mereka yang menulis, otomatis seorang pembaca yang baik. Setidaknya, memiliki pengetahuan kosa kata yang cukup.

Serta, semua orang bisa menulis. Ahli ekonomi, budaya, politik, kesehatan, pertanian, nuklir dan lain sebagainya, kadang juga perlu menuliskan bidang keilmuan mereka, agar dipelajari generasi berikutnya.

Setiap orang, terutama di era digital seperti ini, ketika sosial media dan media daring mudah diakses, menulis jadi menemukan relevansinya tersendiri. Salah satunya, menuliskan pengalaman pribadi.

Ada banyak hal pribadi yang asyik dan mungkin penting untuk ditulis. Tulisan yang barangkali akan dibaca keluarga, teman, anak, cucu dan seterusnya. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda.

Sekolah bisa membiasakan untuk itu, komunitas kepenulisan perlu menguatkan iklim menulis tersebut. Namun pasti tidak banyak yang tertarik.

Terlalu banyak godaan, seperti ponsel pintar. Daripada menulis panjang-panjang, mending ambil foto dengan sedikit kutipan, atau ambil video. Menulis bikin capek.

Karenanya tidak semua orang akan menulis, kendati menulis tetap perlu. Bahkan sebuah tulisan bisa lebih komplit "memotret" suasana hati dan pikiran. []

Blitar, 10 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar