loading...

Selasa, 19 Juni 2018

Es Kepal Milo, dan Bangsa Pembelajar


By Ahmad Fahrizal Aziz


Es kepal milo begitu mewabah. Dalam hitungan minggu, sudah banyak orang jualan. Sepanjang jalan, bahkan di daerah yang sama, bisa ada 3-4 stand.


Tulisan ini saya buat sebagai pengingat. Bahwa di tahun ini (2018), terutama antara bulan April-Juni, es kepal milo jadi trend. Jika tulisan ini dibaca beberapa tahun mendatang, mungkin trendnya sudah berganti.


Mewabahnya es kepal milo tak terlepas dari sosial media. Orang gampang penasaran dan terpengaruh dengan trend. Hal tersebut ditangkap dengan baik oleh pelaku usaha.


Dan, bangsa Indonesia memang terkenal kreatif. Pembelajar sejati. Tidak harus sekolah khusus, untuk menguasahi sesuatu. Tinggal see and do. (Lihat dan praktekkan).


Itulah kenapa banyak yang tidak pernah sekolah otomotif atau perbengkelan, tetapi bisa membuka jasa bengkel. Banyak yang tidak sekolah elektro, atau sejenisnya, namun punya usaha jasa servis alat elektronik, dan Hp.


Tidak perlu sertifikat atau ijasah, sebab yang dibenahi adalah benda mati. Bahkan untuk urusan kesehatan, hidup dan mati, kadang ada jalur khusus yang ditempuh.


Ketika orang sakit dan berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh, larinya ke "orang pintar" : dukun, paranormal, tetua, dsj.


Atau keluarga dikumpulkan, mengundang tetangga terdekat. Lantas dibacakan yasin. Menurut kepercayaan, setelah dibacakan yasin, jika masih bisa sembuh maka akan disembuhkan. Jika sudah waktunya, maka "jalan pulang" akan dimudahkan.


Sewaktu tetangga saya sakit keras, dan nafasnya nampak tersendat di bagian perut, ada orang pintar berkata : satu jam lagi akan dijemput. Maksudnya dijemput malaikat.


Sebagian besar orang percaya, meski ada satu orang yang cara berfikirnya ilmiah, menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Sebab kakinya masih hangat. Itu berarti jantung masih berfungsi dengan baik, tranmisi darah masih lancar.


Tetapi kadung percaya orang pintar itu, padahal prediksinya keliru. Baru keesokan harinya, lewat 15 jam kemudian akhirnya meninggal. Memang sulit memprediksi nasib orang, dan seharusnya memang jangan dibuat main-main.


Kembali ke es kepal milo, yang sedang jadi trend. Ternyata bisa dengan mudah ditirukan. Barangkali dengan bantuan google, atau tutorial di youtube atau dari membeli lalu membuat sendiri.


Kita harus menyadari betapa banyak orang kreatif di sekitar kita, dalam berbagai bidang, tanpa perlu sertifikat atau ijasah tertentu.


Proses kreatif yang sebenarnya merupakan warisan leluhur, yang ahli mengolah. Bayangkan, ketela saja bisa diolah menjadi macam-macam. Berbagai menu masakan tercipta, dengan ke-khasan daerah masing-masing.


Bahkan nasi sisa pun masih diolah, dipanasakan jadi karak atau jadi kerupuk puli.


Kecerdasan-kecerdasan tradisional seperti ini, jarang sekali kita hayati. []


Blitar, 18 Juni 2018


My Plukme

My Plukme
Klik gambar