loading...

Minggu, 20 Mei 2018

Menjadi Individualis, Kenapa Tidak?

Lawan kata individualis, sebenarnya bukan bersosial. Bergitupun ketika menyebut introvert, bukan lawan sifat dari ekstrovert. Harusnya pengertian ini lebih diperluas.


Individualis juga tak berarti apatis. Tak berarti pula anti sosial. Meskipun individualis, dalam beragam pengertiannya lebih berfikir individu atau diri sendiri. Akan tetapi menjadi individualis itu perlu.


Sifat individualis memang melekat pada masyarakat perkotaan, tetapi perkotaan elite, atau minimal kelas menengah. Sebab perkotaan pinggiran, atau perkampungan dempet, hubungan sosio-kulturalnya tak berbeda jauh dengan masyarakat pedesaan.


Ciri masyarakat individualis sebenarnya bukan tidak peduli dengan lingkungan atau tetangga. Tetapi waktu mereka memang lebih banyak untuk urusan yang kaitannya dengan pribadi, terutama pekerjaan.


Sifat individualis ada sisi positif, yaitu tidak suka mencampuri urusan orang lain, juga tidak suka urusannya dicampuri. Sehingga tradisi ghibah tidak akan berkembang dikalangan masyarakat individualis.


Sisi positif lainnya, orang individualis biasanya independen. Tidak suka bergerombol, apalagi memanfaatkan gerombolan untuk menjadi tameng dirinya. Meski ada kecenderungan egois dan keras kepala.


Kaum individualis juga bisa aktif dalam komunitas, organisasi, bisa juga bekerja tim. Mereka bukan mahluk apatis, apalagi anti sosial. Mereka bersosial, namun lebih introspektif, apa yang bisa ia perbuat dalam kelompok sosial itu? Mereka tidak mau sekedar mengekor.


Pada dasarnya, sifat individualis dimiliki semua orang, namun tidak semua orang mampu benar-benar berperikalu individualis. Dalam bependapat, kaum individualis akan lebih getol bersuara, karena ia memiliki independensi. Sementara lainnya hanya ikut suara terbanyak.


Orang individualis selalu punya "me time", waktu khusus untuk merefleksikan dirinya sendiri. Inilah yang tidak dimiliki banyak orang. Karenanya ia disebut individualis.


Padahal proses refleksi itu juga untuk kehidupan bersosialnya. Seorang pemimpin selalu ingin menyendiri, karena dalam kesendiriannya itu ada banyak hal yang ia fikirkan, untuk kepentingan orang banyak.


Seorang musikus juga demikian. Musikus atau seniman secara umum sering disebut mahluk paling individualis ; sulit diatur, dan tidak selalu mau ikut aturan. Tetapi karya-karyanya bisa dinikmati banyak orang, bahkan merasuk ke relung hati dan jiwa banyak orang.


Penulis juga demikian, menghabiskan waktu membaca dan menulis dalam kesendiriannya. Tetapi setelah tulisan jadi, pembacanya banyak orang, penikmatnya banyak orang. Untuk siapa ia menulis? Jelas bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain.


Sekarang bandingkan dengan yang nampak bergerumul dengan masyarakat, menyerap aspirasi demi aspirasi, tetapi punya kepentingan untuk sebuah posisi.


Jika nantinya ia berhasil memperolehnya, belum tentu gajinya akan dibagi, belum tentu keuntungan materi yang menyertainya, akan juga kita nikmati.


Seorang individualis itu memang terlihat seperti penyendiri, egois, tak mau kalah, keras kepala, tetapi mereka sesungguhnya sangat peduli. Hanya caranya saja yang kadang bikin geregetan. []


Blitar, 20 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar