loading...

Selasa, 24 April 2018

Jurnalisme Kuliner, Bukan Sekedar Makan-makan


Oleh A Fahrizal Aziz


Seperti pengetahuan saya tentang Pak Rosihan Anwar, agaknya saya juga terlambat mengetahui sosok satu ini, yang kalau kita cari namanya di google, selalu ditulis pakar kuliner. Pokoknya, sosok satu ini selalu identik dengan makanan.


Padahal, sebelum menjadi presenter acara kuliner, beliau adalah wartawan, dari wartawan biasa sampai menjadi pimpinan redaksi. Tidak banyak yang tahu juga rekam jejaknya sebagai pengusaha. Orang taunya beliau sering incip-incip makanan lalu bilang "maknyus".


Sebenarnya sejak lama saya tahu sosok ini, lewat acara wisata kuliner, atau iklan-iklan di televisi. Beberapa episodenya pernah saya ikuti, terutama ketika mengangkat kuliner di Malang dan Surabaya.


Hanya, saya kurang begitu memperhatikan dengan seksama, sebagimana dulu ketika mendengar nama Rosihan Anwar. Baru setelah membaca esai-esai Pak Rosihan, saya jatuh hati.


Persis, ketika saya melihat playlist channel youtube "Manusia Indonesia" (MI) yang dibawakan Fahmi. Ada sesi wawancara dengan tokoh ini. Pikir saya, kok yang diangkat tokoh ini?


Beberapa episode MI mengangkat tokoh-tokoh "berat" seperti Haidar Bagir, Franz Magnis Suseno, Dahlan Iskan, bahkan pernah juga mengangkat tokoh luar negeri. Kenapa kali ini mengangkat presenter kuliner?


Ah, ternyata saya keliru. Mendengar wawancaranya, ternyata tokoh ini bukan sekedar tukang incip, bukan sekedar presenter kuliner yang sekarang mungkin jumlahnya sudah banyak, dengan wajah yang lebih muda, lebih segar.


Tapi tokoh ini punya perspektif tersendiri soal kuliner, termasuk ketika menjelaskan soal kecap manis.


"Kecap manis ini khas Indonesia, ini pusaka nusantara, kalau kecap asin dari China. Orang sering menganggap sepele kecap, padahal ini mahakarya," jelasnya.


Lalu, apa perbandingannya ketika beliau membawakan acara kuliner, dengan presenter lain? Mungkin kalau presenter lain hanya akan berkomentar biasa : enak, garamnya pas, agak pedas, bumbunya meresap, dagingnya empuk, dan seterusnya.


Tokoh ini agak beda. Waktu di Lawang, Malang, ia sempat mengkritisi rawonnya. Mengkritisi kriteria rawon. "Ini enak, tapi kayaknya tidak cocok disebut rawon. Mungkin sup pedas lebih pas," ujarnya.


Belum lagi, ketika mencicipi masakan di sebuah warung atau rumah makan, selepas mencicip langsung bisa menebak bumbunya, bahkan bumbu yang tidak umum digunakan.


"Ini agak ada rasa pahitnya, dari gingseng ya?" Tanyanya pada pemilik warung, dan pemilik warung langsung membenarkan.


Kadang juga, beliau membandingkan masakan yang dicicipinya, dengan masakan lain di luar negeri. Wawasannya soal "budaya makan" pun juga sungguh memukau.


"Orang eropa, khususnya Italy, mereka lebih suka makanan yang aldente, artinya setelah dimakan rasanya masih nyangkut di gigi dan mulut, seperti spageti. Beda dengan orang Indonesia, yang kalau ada makanan seperti itu, dikiranya belum matang," jelasnya dalam salah satu episode.


Bagaimanapun, tokoh ini memang bukan sekedar presenter, namun adalah seorang Jurnalis. Ketika memutuskan terjun ke dunia kuliner, Jurnalismenya tetap kuat. Kemampuannya mendeskripsikan obyek juga sangat khas. Khas Jurnalis senior.


Meski beliau sendiri merasa khawatir, sebab diusianya yang tidak lagi muda, masih terus incip-incip makanan yang lezat menggoda, yang belum tentu baik untuk tubuhnya.


"Pekerjaan ini sebenarnya mengandung resiko yang besar, saya bisa mati," ucapnya ketika wawancara dengan Rhenald Kasali.


Satu hal yang beliau sesalkan, yaitu pemahaman publik bahwa kuliner berarti makan-makan. Padahal ingin sekali bisa berbagi soal makanan sehat dan bergizi. Namun belum terealisasi, karena program semacam itu ratingnya rendah di televisi.


Sampai akhirnya ia memutuskan pensiun, dan impiannya untuk membuat program televisi makanan sehat juga tidak akan terwujud, sebab Tuhan telah memanggilnya 29 November 2017 lalu, diusia 67 tahun.


Beliau adalah Pak Bondan Winarno. []


Blitar, 24 April 2018


My Plukme

My Plukme
Klik gambar