loading...

Kamis, 11 Januari 2018

Azwar Anas dan Personalitas yang Terbuka




Mungkinkah kecermelangan A. Azwar Anas sebagai Bupati Banyuwangi, dan sebagai tokoh muda, terhapus hanya karena beredarnya foto mesum yang diduga dirinya? Andaipun itu benar, seberapa berhak kiranya kita mempertanyakan?

Perihal etika memang sangat penting di negara ini. Selain karena itu nilai yang dijunjung oleh masyarakat, namun disatu sisi keterbiasaan kita memandang realitas yang hitam putih, sehingga selalu kaget ketika ada seseorang yang menurut kita terpandang, namun menerabas sisi etik.

Sosok A. Azwar Anas yang basicnya sebagai tokoh pergerakan Islam, alumnus pesantren, serta dari keluarga religius, menjadi sangat kontras dengan foto mesum yang beredar. Sebab kita mengira nilai agama dan latar belakang keluarga bisa menjadi tameng dari godaan duniawi semacam itu.

Namun pada sisi personal, apa yang salah? Andai benar itu foto Azwar Anas, sebenarnya itu bagian dari preferensi individu, selama tidak ada yang merasa dirugikan. Perihal tugasnya sebagai Bupati, itu soal lain. Selama ia bisa menjalankan tugasnya dengan baik, itu sudah cukup.

Di negara seperti Amerika Serikat, hal semacam ini mungkin tak begitu bermasalah. Banyak video Donald Trump yang—jika terjadi di Indonesia—akan melanggar batas-batas nilai sosial di Masyarakat. Kita mungkin hanya perlu sedikit merubah cara pandang kita atas realitas.

Bahwa realitas tidak hitam putih. Pada orang yang menurut kita sangat penyabar, bisa jadi terdapat letupan emosi yang terkumpul. Begitu pun sebaliknya, pada orang yang terlihat cerewet dan pemarah, ada sisi penyabar yang mengagumkan.

Dulu orang terkaget-kaget dengan kasus Ryan Jombang. Anak lulusan pesantren yang membegal belasan orang, yang pernah menjalin hubungan asmara sesama jenis. Apa karena ia takut topeng kesuciannya terkuak?

Dalam politik, atau bahkan dalam keseharian kebanyakan orang, poles memoles seringkali terjadi. Orang yang tengah dihadapkan pada skandal mega korupsi, bisa tiba-tiba berpakaian busana Muslim lalu berkunjung ke pesantren, membaur dengan santri dan kyai.

Begitupun sebaliknya, orang yang nampak tak sholeh sama sekali, ternyata memiliki sisi religius yang kuat setelah kita lebih dekat mengenalnya. Meski tak sekalipun ia menampakkan diri berbusana layaknya orang alim lain.

Namun bukan berarti yang berpenampilan alim itu selalu menyembunyikan sisi buruknya. Pada akhirnya, kita harus melihat dua sisi yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan seseorang, agar tidak kaget. Sebab sebenarnya, banyak hal yang mengejutkan di sekitar kita. []

Blitar, 11 Januari 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

My Plukme

My Plukme
Klik gambar