loading...

Senin, 06 November 2017

Profesor Imam dan Berbagai Obrolan yang Belum Tertulis (1)



Sebagai wartawan kampus kala itu, setidaknya saya dua kali wawancara beliau, dan dua kali pula, secara esklusif, datang ke kantor untuk menyerahkan undangan acara IMM.

Sebagai rektor yang sibuk, saya kira beliau akan melewatkan begitu saja setiap tulisan yang saya buat, kemudian dengan sengaja saya tag ke akun facebook beliau. Tentu tulisan tersebut yang berkaitan dengan beliau.

Ternyata tidak, bahkan beliau sempat membacanya. Satu tulisan, yang saya buat ketika masih semester pertama, bahkan dikomentari langsung melalui kolom komentar pada note tersebut.

Ketika beliau kemudian ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan lahan kampus II, saya juga membuat tulisan, dan tak dikira pula tulisan tersebut dibaca Prof. Imam, bahkan setelah itu beliau menelepon hampir satu jam lamanya, menjelaskan detail kronologi pengadaan lahan dsb.

Alhamdulilah kemudian kasus itu tidak berlanjut dan status tersangka beliau pun dicabut.

Tapi saya tidak dekat dengan beliau, selain hanya sebagai mahasiswa dan dosen. Meski kerap kali ada anggapan begitu, sebab karena saya bekerja di Majalah Suara Akademika milik Kemahasiswaan, dan karena kedekatan tersebut saya bisa masuk dan jadi P.J rubrik wawancara di kemudian hari.

Tidak begitu adanya, meski Kabag Kemahasiswaan adalah orang yang loyal dengan Prof. Imam, dan terkenal lincah dalam membangun komunikasi dengan OMEK.

Bahkan masuknya saya ke Suara Akademika, tidak atas rekomendasi IMM. Meski ada peluang untuk itu. Saya daftar, mengikuti seleksi sangat ketat, termasuk seleksi lapangan.

Bahkan Kabag Kemahasiswaan baru tahu kalau saya IMM, setelah saya masuk. Seleksi semacam itu konon tidak diberlakukan lagi pada tahun-tahun berikutnya, sehingga Majalah tidak terbit lagi. Karena sifatnya rekomendasi, belum tentu memenuhi kualifikasi.

Prof. Imam pun ketika bertemu saya, belum tentu ingat sepenuhnya, baru ingat kalau misal ditambahi penjelasan, anak IMM, yang ngurusi penelitian.

Ya, sebab ketika saya menjadi Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) PC IMM Malang, meski kala itu statusnya sudah resign, Prof. Imam bersedia hadir mengisi stadium general pada acara Workshop Riset.

Bangga karena beliau bersedia hadir, dan tentu saja selalu menolak diberi fee. Bahkan tak jarang kemudian malah dimarahi, "mahasiswa dana minus kok coba-coba ngasih amplop?" Tentu dengan nada bercanda. Artinya, beliau memang senang berbagai ilmu dan pengalaman, terutama dengan anak-anak IMM.

Tapi ada perbincangan menarik, ketika suatu saat saya menemui beliau di kantor. Suasana sepi waktu itu, Prof. Imam duduk di meja sambil menandatangani sertifikat yang menumpuk. Kantor rektor sangat luas, mewah dan ada kursi tamu yang memanjang.

Waktu itu Prof. Abdul Munir Mulkhan mau datang ke Malang dalam rangka safari buku terbarunya. Informasi tersebut disampaikan oleh mantan pengurus DPP IMM mas Ulul Azmi Rizal.

Saya mengajukan surat permohonan kepada Prof. Imam sebagai pembanding, sekaligus menyerahkan buku terbaru Prof. Munir Mulkhan. "Kok baru bikin buku ndak bilang saya ya?" Ucap Prof. Imam sembari membolak-balik buku tersebut.

"Pak Munir itu selalu, kalau bikin buku mesti yang berat-berat," lanjutnya, disertai tawa.

Tentu Prof. Imam sendiri tidak bisa memastikan apakah waktu itu bisa menjadi pembanding. Saya harus menemui sekretarisnya untuk mengecek jadwal. Pada hari pelaksanaan bedah buku, Prof. Imam akan kedatangan tamu dari Sudan, jam 10 pagi.

Sementara jadwal bedah buku dari jam 08.00-11.30. Itupun biasanya molor. Setelah itu saya kembali ke ruangan Prof. Imam, biasanya kalau ada tamu jam segitu, sudah termasuk pagi. Sehingga agenda lain tidak bisa terpenuhi.

Sayangnya, karena IMM agak telat menyampaikan surat, dan jadwal rektor tentu sangat padat. Tapi saya bilang saja ada waktu, apalagi setelah "agak berbohong" kalau ini langsung permintaan dari Prof. Mulkhan.

Benar, acara dimulai sekitar pukul 09.00. Sementara Prof. Imam berada di forum sampai sekitar pukul 10.30. Berulang kali saya dihubungi sekretaris beliau, karena Prof. Imam jarang buka hp kalau sedang di forum, apalagi kalau sudah berbicara, sangat berapi-api.

Tapi akhirnya sekretaris berhasil juga menjangkau ponsel beliau, sehingga sebelum acara berakhir, beliau pamit kembali ke kantor. Demi IMM, tamu dari Sudan harus menunggu hampir satu jam.

Blitar, 6 November 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

Disarikan dari berbagai obrolan dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang.


My Plukme

My Plukme
Klik gambar