loading...

Rabu, 16 Agustus 2017

Menangkal Hoax (bagian 3)





Berfikir kritis dimulai dari sikap sketis. Skeptis artinya ragu, namun berbeda dengan keragu-raguan. Skeptis adalah keraguan yang berupaya untuk mempertanyakan lebih jauh tingkat kebenaran berita tersebut. Ada beberapa aspek yang bisa dianalisis.

Pertama, jika itu bersifat berita, maka dilihat dulu alamat websitenya. Kira-kira familiar atau tidak, atau bahkan sekedar blog seperti blogspot, wordpress, tumblr, dsj. Kalau pun tidak familiar alamat websitenya, bukan berarti itu hoax juga, bisa jadi karena kita baru mengetahuinya.

Kedua, cari struktur redaksi dan alamat medianya. Jika media itu merupakan milik sebuah organisasi atau komunitas, maka cari profil organisasi atau komunitas tersebut. Media yang bertanggung jawab pasti akan mencantumkan struktur redaksi, alamat, dan bila perlu narahubung jika ada berita atau konten yang merugikan orang lain atau kelompok. Jika tercantum narahubung, maka media tersebut berhak memberikan ruang khusus semacam hak jawab.

Jika media tidak mencantumkan struktur redaksi dan alamatnya, maka sulit untuk mempercayai tingkat validitasnya. Apalagi jika sebagian besar isinya adalah konten provokatif yang menyerang pihak tertentu.

Ketiga, teliti antara keterkaitan judul, foto ilustrasi dan isinya. Banyak foto editan yang sekilas nampak asli. Kecanggihan teknologi menyusahkan orang awam untuk membedakan foto asli dan editan. Dan mungkin juga foto lama, kemudian dijadikan justifikasi untuk sebuah berita baru. Fotonya asli, namun informasinya diperbaharui sesuai keinginan para pencipta hoax.

Namun kita juga bisa menganalisis ketertakitan judul berita dengan isinya. Apakah judulnya bombastis sekali? Perlu diingat bahwa tidak semua judul bombastis otomatis hoax. Di era sekarang ini, judul bombastis kadang perlu dimunculkan untuk mengejar pengunjung. Tapi akan menjadi soal jika judul tersebut sangat jauh kaitannya dengan isi.

Ini juga seringkali terjadi pada warganet yang kemudian membagikan tautan website, hanya karena membaca judulnya. Belum sampai ia membaca isinya, sudah menyimpulkan berdasar judul yang bisa jadi sangat jauh tingkat kesesuaiannya dengan isi.

Keempat, meneliti sumber berita atau informasi tersebut. Sebuah berita tetaplah harus memiliki sumber rujukan yang jelas. Unsur 5w+1h yang harus terpenuhi. Kalaupun terpenuhi, maka dipastikan sudah valid atau belum, hal semacam ini disebutnya cover both side.

Nyatanya yang ahli dalam menciptakan berita hoax membuat segala aspeknya terpenuhi. Peristiwanya ada, narasumber yang terlibat dalam peristiwa tersebut juga ada, hanya topik pembicaraan diplesetkan sesuai dengan keinginan pencipta hoax. Meski belum bisa secara langsung memastikan apakah itu hoax atau bukan, sebenarnya nalar kritis kita agak meragukannya terlebih dahulu, kebenarannya.

Seperti misalkan, pertemuan 10 tokoh yang fakta sebenarnya bisa jadi hanya reuni, makan malam, dsj. Lalu bisa diplesetkan menjadi 10 tokoh yang hendak makar. Tempat, waktu, dan tokohnya memang ada, terjadi di waktu itu, namun beritanya diplesetkan. Misalkan 10 tokoh tersebut masing-masing memiliki latar belakang politik dan jabatan yang berbeda.


Bisa juga begini, statement satu tokoh kemudian digeneralisir menjadi statement pertemuan tersebut. Saya masih ingat ketika media gembor-gembor bahwa Mantan komisioner KPK sengaja berkumpul untuk menyatakan sikap menolak hak angket. Kita mungkin akan berfikir bahwa pertemuan tersebut memang sengaja dilakukan karena merespon hak angket itu.

Tapi ketika salah satu mantan komisioner kemudian diundang diskusi ke salah satu stasiun televisi, ia menyatakan bahwa pertemuan tersebut sebenarnya hanya halal bi halal antar komisioner dan mantan komisioner KPK. Baru karena ada dan sekaligus media menanyakan sikap terkait hak angket, tentu mantan komisioner KPK akan menolak.

Namun pada media tersebut berita yang dimunculkan adalah, bahwa pertemuan tersebut memang disengaja untuk merespon hak angket. Padahal tidak. Bagi saya ini hoax, sebab fakta utama dikesampingkan. Fakta utamanya adalah halal bi halal. Namun yang seperti ini tidak begitu menciptakan kegaduhan, sebab publik sudah bisa menebak sikap komisioner KPK yang pasti menolak.

Lalu bagaimana andaikan ini terjadi dalam peristiwa lain? Apa wartawannya tidak paham? Atau salah data? Tentu sangat kecil kemungkinan itu terjadi. Sebab wartawan pasti memahami framing yang hendak dibidik, dan ada celah yang kemudian dimunculkan, meski mengesampingkan fakta utama.

Hoax bisa juga dari kesimpulan. Anda masih ingat ketika dulu merebak berita hoax dimana Din Syamsudin memuji Jokowi yang bagus menjadi Imam Shalat? Barangkali wartawannya hanya bertanya, atau justru hanya mendengar, bahwa Jokowi menjadi Imam dan kemudian Pak Din hanya berkomentar begini : tadi Pak Jokowi menjadi Imam dengan baik.

Baik ini kemudian dilebarkan ke bacaan Alfatihahnya, surat pendeknya, dll padahal faktanya Din Syamsudin tidak bicara demikian. Hanya bicara “baik” saja. Baru ketahuan, bahwa tidak mungkin Din Syamsudin memuji bacaan shalat Jokowi karena itu shalat dhuhur. Barangkali berita hoax ini akan tenggelam, jika waktu itu Jokowi jadi Imam Shalat magrib dan Isya’.

Statement yang diplesetkan juga sering terjadi. Seperti tokoh yang dimintai pendapat terkait dua lembaga yang berseteru, ambil contoh KPK dan Polri. Tokoh tersebut hanya memuji KPK, dan mungkin tidak sempat mengomentari Polri. Lalu muncul berita bahwa tokoh tersebut menyatakan bahwa KPK lebih baik dibanding Polri. Ini pasti sering kali terjadi.

Dengan membuat pola dua hal, jika yang satu disebut baik maka satunya langsung dipastikan buruk. Padahal yang satunya belum dikomentari. Ini yang sering membuat para tokoh pusing karena mereka harus mengklarifikasi hal-hal yang tak pernah mereka lontarkan, yang itu sebenarnya hanya kesimpulan dari pewarta atau pencipta hoax. Atau memang sengaja disalah pahamkan demi tujuan mereka. []


Blitar, 15 Agustus 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

baca jug, klik dibawah ini :
Menangkal Hoax (1)
Menangkal Hoax (2)

My Plukme

My Plukme
Klik gambar