loading...

Kamis, 20 Juli 2017

Menikmati Karya Sastra (6)


__________________________
Selepas kuliah bahasa arab, sekitar pukul empat sore, saya menuju kerumunan orang di beranda gedung pusat informasi UIN Malang. Biasanya setiap hari senin dan jum'at. Disana ada sekelompok--lebih sering segelintir--orang yang mendiskusikan sastra.

Mereka tergabung dalam FLP Ranting UIN Malang. Setiap hari Ahad, pertemuan bersama FLP Cabang Malang, dua tempat yang paling sering adalah di Car Free Day Jalan Ijen, dan depan rektorat UIN Malang.

Dua penulis yang pernah hadir adalah Pak Masdhar Zainal dan Ai El Afif. Mereka berdua cerpenis handal. Ai El Afif pernah dua kali secara beruntun memenangkan LMCR (Lomba Menulis Cerpen Remaja) Rotho, dimana salah satu jurinya adalah Bu Naning Pranoto.

Masdhar Zainal? Ah tidak usah ditanya lagi, karyanya sudah dimana-mana. Di koran lokal sampai nasional. Cerpennya juga pernah masuk kumpulan cerpen terbaik Kompas.

Karena terbawa suasana, saya yang jarang membuat cerpen, jadi ikut-ikutan nulis cerpen, lalu mengirimkannya. Tapi selalu di tolak. Tidak sekali dua kali, mungkin sekitar lima kali.
"Lah, saya belasan kali ditolak Kompas," kata Masdhar.

Ya maklum, Kompas termasuk salah satu "altar" tertinggi bagi cerpenis di Indonesia. Selain honornya konon juga paling tinggi, Kompas selalu memberikan apresiasi lebih, terutama ketika diterbitkannya kumpulan cerpen terbaik.

***
"Ini apa belum tuntas?" Tanya saya kepada peserta diskusi, ketika suatu waktu mempelajari cerpen koran-koran.

Bagi saya banyak cerpen yang belum selesai, alias ngambang ceritanya. Lha, kok cerpen seperti ini bisa dimuat? Dan ternyata tidak hanya satu dua cerpen yang semacam ini, ada banyak.

"Itu penulis mengajak pembaca menafsirkannya sendiri," kata Mas Hafidz Mubarak, Ketua FLP UIN Malang waktu itu.

Jadi begitu? Memang benar kata orang, karya sastra itu lebih baik disalah pahami, daripada dipahami. Dengan disalah pahami, maka akan muncul pemaknaan-pemaknaan lain.

Misalkan dengan cerpen yang "belum tuntas" itu, masing-masing pembaca akan menafsirkannya macam-macam. Bahkan sangat mungkin memicu dialektika.

Karya sastra memang tidak didesain untuk menggurui pembaca. Lebih sering bertutur, dengan ending yang samar, guna menghargai intelektualitas pembaca. Ya, seperti kitab suci, tentu dengan level yang jauh dibawahnya, sebab kitab suci adalah buatan Tuhan. Sementara karya sastra dibuat oleh manusia.
Di sore yang lelah itu, suasana segar kembali ketika membincang karya sastra. Selain kelincahan bahasa, karya sastra juga menyulut persepsi orang yang membacanya.

Meski tidak semua cerpen yang saya baca benar-benar saya pahami, tapi rasanya tetap menarik. Meski ada teman yang bilang kalau itu justru ribet. Pengennya yang pasti-pasti.

Sepertinya teman saya lebih banyak mendengar atau membaca khutbah daripada karya sastra. Tapi ada juga orang yang menulis cerpen, seperti seolah-olah berkhutbah. Nah, ini tambah susah lagi dipahami. []

Blitar, 16 Juli 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar