loading...

Jumat, 14 Juli 2017

Menikmati Karya Sastra (2)

Sempat bimbang antara memilih jurusan IPS atau Bahasa. Karena tidak mungkin memilih jurusan IPA. Nilai tidak mendukung, terutama Kimia. Meskipun pada konsultasi awal, tetap diupayakan memilih IPA, mentoknya IPS. Asal bukan bahasa. Begitu kata salah satu guru BK.

Kenapa? Padahal saya waktu itu begitu bersemangat memilih jurusan bahasa. Sepertinya paling santai dari jurusan lain. Menariknya pula, ada pelajaran Sastra Indonesia.

Akhirnya saya menjadikan bahasa sebagai pilihan pertama, IPS pilihan kedua. Terbalik. Sebagian besar menjadikan bahasa adalah pilihan kedua, setelah IPA dan IPS. Dan masuk, tentu saja masuk. Karena kelas bahasa serupa kelas sisa, bagi mereka yang tidak masuk IPA dan IPS. Menyedihkan ya?

Tapi anak-anak yang tidak diterima ke IPA dan kemudian masuk Bahasa, tetap saja paling pintar di kelas. Terutama pada pelajaran Matematika, dan pelajaran lain-lainnya.

***
Guru Sastra kami bernama Pak Sugeng. Sarjana Sastra (bukan Pendidikan Sastra). Lulusan Universitas Airlangga Surabaya. Karena beliau Sarjana Sastra (SS), maka wawasan kesusastraannya tentu lebih tajam.

Bukan bermaksud membandingkan, tapi siapapun pasti tahu, antara jurusan murni dengan pendidikan. Sama dengan Pendidikan Matematika atau Matematika murni. Kalau Pendidikan lokusnya kuat sebagai Pendidik. Kalau murni bisa bercabang, biasanya konsentrasi diarahkan di semester akhir.

Sebagai penikmat karya sastra yang masih pemula, awal-awal saya kurang begitu mampu mengaitkan fikiran dengan penjelasan Pak Sugeng. Ada banyak karya sastra yang dijelaskan. Pak Sugeng lebih banyak bercerita tentang buku-buku, ketimbang teori kesusastraan.

Nah, itulah mungkin ciri khas sarjana sastra (murni) dengan sarjana Pendidikan sastra. Sarjana pendidikan sastra akan lebih banyak menerangkan teori, apa itu puisi, prosa, cerpen, majas, dll

Sangat diuntungkan karena Pak Sugeng banyak bercerita tentang buku-buku, sehingga suasana kelas menjadi santai. Dari buku-buku yang diceritakan, sesekali saya ke Perpus untuk meminjamnya.

Dari beberapa yang pernah diceritakan Pak sugeng, yang paling lama (yang saya tahu) adalah angkatan Balai Pustaka. Salah satunya roman Siti Nurbaya karya Marah Roesli, serta "Azab dan Sengsara" karya Merari Siregar. Novelnya pun tersedia di Perpustakaan Sekolah.

Siti Nurbaya sangat familiar di telinga saya, sebab dulu pernah diangkat ke layar lebar. Nama Datuk Maringgih yang diperankan HIM Damsyik begitu membekas. Sosoknya tinggi, kurus, dan tercitrakan kejam.

Angkatan Pujangga baru yang paling saya kenal karya-karyanya adalah Buya Hamka. Meskipun pada angkatan itu ada nama populer lain seperti Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), namun karena mungkin ketersediaan buku di Perpustakaan, sehingga karya-karya Buya Hamka lebih dulu saya baca.

Berlanjut ke angkatan 45, siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar yang dibahas. Mungkin karena puisi-puisi Chairil Anwar sudah dikenal sejak lama oleh anak-anak sekolah, bahkan masuk buku ajar. Meski bukan cuma karya Chairil yang menjadi bahan ajar, tapi nama Chairil tetaplah paling membumi.

Nama yang jarang dibahas adalah Idrus, penulis "Dari Ave Maria ke Djalan lain ke Roma". Bahkan kata "banyak jalan menuju Roma" menjadi trend dimana-mana. Karya Idrus lebih populer ketimbang pengarangnya. []

Tumpakwaru, 10 Juli 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar