loading...

Jumat, 14 Juli 2017

Menikmati Karya Sastra (1)

Seseorang meminjamkan sebuah novel berjudul Ayat-ayat Cinta di tahun 2007. Karena dipinjamkan, maka saya sedikit terpaksa untuk membacanya. Kenapa terpaksa? Karena membaca novel adalah hal yang teramat asing, dan barangkali cenderung membosankan.

Tahun sebelumnya juga ditawari novel itu. Saat acara karya wisata siswa kelas IX ke Jogja, dia membawa novel tersebut untuk bacaan di dalam bus. Saya hanya tersenyum getir, apa iya akan terbaca?

Karena novel itu--atau karena memang seharusnya--nama panggilan saya berganti. Biasa dipanggil Rizal, di Tsanawiyah dipanggil Aziz. Tak pernah terfikir akan dipanggil Fahri, meski itu gabungan dari nama Fahrizal.

Terhitung sejak akhir tahun 2007, nama panggilan saya adalah Fahri. Teman-teman yang kenal sebelum tahun itu, memanggilnya tetap Rizal atau Aziz. Jadi kalau ada yang memanggil dengan dua nama itu, berarti sudah kenal sebelum tahun 2007.

Novel tersebut sangat membekas. Mungkin karena itu adalah novel pertama yang saya baca habis. Lainnya belum pernah. Kadang baru membuka sudah ditutup lagi, kadang dibaca sampai 10 halaman pertama, sudah menyerah.

Kala itu pula saya belajar untuk menikmati novel, bagaimana cara menikmatinya? Rasanya ada imajinasi yang terbentuk ketika membaca deskripsi dan narasi yang dituangkan penulisnya. Saya membayangkan sosok Fahri, Aisyah, beserta deskripsi lain seperti apartement, kereta metro, padang pasir, dan kampus Al Azhar yang dalam fikiran saya seperti bangunan kuno di tengah padang pasir.

Otak mencipta visualisasinya tersendiri. Seperti nonton film, tapi dengan kemampuan kita berimajinasi.

Waktu SD dulu, pernah juga mendapat tugas mereview novel. Guru menyuruh kami mencari novel di Perpustakaan sekolah yang ala kadarnya itu. Kala itu yang saya review adalah prosa legenda asal usul Banyuwangi.

Beberapa tahun kemudian saya menyadari, bahwa di Perpustakaan SD kami dulu sebenarnya tidak ada novel. Novel masuk Prosa baru, sementara buku-buku cerita yang terjejer di rak Perpustakaan adanya prosa lama seperti Hikayat, Legenda, dan Mite.

Tapi uniknya, karena "asal usul Banyuwangi" adalah prosa legenda, sehingga ada gambar ilustrasi. Bayangkan saja jika waktu itu dipertemukan dengan novel, yang minim gambar atau bahkan tidak ada sama sekali.

***
Setelah novel AAC, saya kemudian meminjam lagi novel karya Kang Abik. Novel Ketika Cinta Bertasbih jilid 1&2 akhirnya terbaca habis juga, sekaligus menandai peningkatan membaca saya sendiri, yang bisa mengkhatamkan ratusan halaman. Ini mengejutkan.

Apa karena itu akhirnya mata saya minus? Sebenarnya tidak juga. Gejala minus sudah muncul sejak kelas X, baru menggunakan kacamata kemudian kelas XI. Sebab terbesarnya mungkin karena terlalu banyak chatting di warnet.

Membaca, apalagi membaca novel, sebenarnya tidak terlalu membebani mata. Apalagi yang kertasnya bewarna kekuningan, teksturnya agak kasar namun menguarkan aroma khas. []

Sawojajar, 9 Juli 2017
Ahmad Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar