loading...

Minggu, 02 Juli 2017

Memandang Politik (2)

Politik dalam bahasa arab adalah siasah. Tapi siasah dalam bahasa Indonesia menjadi siasat. Siasat serupa taktik dan strategi. Bisa disimpulkan, ketika kita membuat taktik/strategi, sesungguhnya kita tengah berpolitik. Meskipun tidak bersentuhan langsung dengan jabatan di Pemerintahan.


Tapi politik yang kita maksud selama ini, tidak lain tidak bukan adalah yang berhubungan dengan kekuasaan. Kekuasaan maksudnya, yang punya wewenang menentukan kebijakan dan mengatur administrasi publik.


Berpolitik artinya ikut berupaya mewarnai kebijakan publik, agar kebijakan tersebut bisa tepat sasaran dan memberikan keadilan pada masyarakat. Pemikiran seperti ini tentu sangat mulia, dan mungkin terlalu ideal.


Sementara ada banyak cara untuk mewarnai kebijakan. Bisa secara praktis, represif, atau aspiratif. Tapi dalam rangka memberikan sumbangsih ide untuk kebijakan itu, bukan perkara gampang. Butuh wawasan, baik secara teoritik maupun lapangan.


Cara praktis bisa ditempuh lewat kontestasi politik seperti pemilu, pilkada, atau kontestasi lain untuk mengisi jabatan publik. Cara ini tentu membutuhkan kendaraan, entah parpol atau jaringan politik lainnya, termasuk basis massa.


Jika sudah menduduki jabatan politik tertentu, maka akan memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan, atau menjalankan kebijakan yang sudah dibuat dengan sebaik-baiknya. Disinilah ruang untuk berbakti melalui jalur politik kekuasaan.


Namun untuk mendapatkan kekuasaan tertentu juga bukan perkara gampang. Sebab karena kekuasaan tersebut menggiurkan, maka banyak yang memperebutkannya. Menggiurkan tidak saja dari segi pendapatan pribadi, tapi kemungkinan untuk mengakses berbagai jaringan.


Mungkin untuk menuju kesana, dibutuhkan waktu yang tak sedikit dan ongkos yang mahal. Meski soal ongkos politik itu relatif dan bervariasi.


Yang mahal bisa jadi adalah politisi aji mumpung. Yang tidak aktif di partai, ormas, atau gerakan tertentu, tapi tiba-tiba muncul mencalonkan diri menjadi caleg atau jabatan strategis lain.


Mereka harus mengeluarkan ongkos yang tak sedikit untuk memprofilkan diri dalam waktu singkat entah bagaimana caranya, agar orang mengenal dan memilihnya. Jika terpilih, besar kemungkinan fokusnya hanya mengembalikan modal.


Tapi tidak semua politisi seperti itu. Ada yang tekun secara akademik agar ketika masuk politik punya persepsi yang utuh. Ada yang sebelumnya aktif di gerakan sosial, entah ormas, aliansi, atau komunitas yang memperjuangkan kepentingan publik.


Politisi dengan basic semacam itu, tentu sudah memiliki pandangan tersendiri kenapa masuk politik. Tidak tiba-tiba.


Semestinya kita peka untuk melihat latar belakangan politisi itu, mana yang benar-benar punya jejak aktivis, mana yang aji mumpung.


Karena dalam politik tidak ada istilah netral. Setiap kita punya hak berupa suara untuk memilih atau memperjuangkan. Alangkah sia-sia jikalau suara itu menguap begitu saja. []


~ A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar