loading...

Kamis, 11 Mei 2017

Candu






Tiap orang memiliki candunya masing-masing, tergantung dimana letak candunya. Selama ini kata candu banyak dilekatkan kepada penyalahguna narkoba, perokok, atau minimal pengopi. Ketiganya disebut bikin kecanduan, sehingga susah untuk ditinggalkan, barang sehari sekalipun.

Candu sendiri mulanya adalah nama getah dari Papevir somniferum yang bisa mengurangi rasa nyeri. Juga untuk menamai cairan kental bewarna hitam sebagai campuran rokok, biasanya itu endapan kopi. Dalam KBBI, candu diartikan segala hal yang bisa menyebabkan ketagihan.

Kenyataannya, yang menyebabkan ketagihan tidak hanya narkoba, rokok, atau kopi. Meski ketiganya mungkin punya candu paling ekstrem dibandingkan yang lain. Bagaimana juga misalkan, jika seseorang kencanduan membaca. Terasa ada yang ganjil, jika sehari saja tidak membaca.

Jadi tidak semua candu itu berdampak secara medis, ada juga yang berdampak psikologis. Para penikmat buku tak ada bedanya dengan perokok. Keduanya sama-sama candu, hanya berbeda pada aktivitas candunya.

Perokok membelanjakan uang untuk membeli rokok, dihisab, lalu habis. Sementara tukang baca membelanjakan uang untuk membeli buku, dibaca, selanjutnya disimpan atau disumbangkan ke perpustakaan.

Jikalau candu berhubungan dengan kebahagiaan, misalkan dengan merokok atau minum kopi bisa merubah mood, maka itu juga berlaku pada orang yang candu olahraga. Ternyata ada orang yang merasa dirinya ganjil, jika tidak olahraga sehari saja. Meskipun olahraga ringan.

Di era sosial media, muncul tiga candu baru : pamer, mengeluh, dan berkomentar. Pamer tempat yang ia kunjungi, apa yang ia makan, gaji bulanan, dll. Semua difoto lalu di upload. Juga keluhan demi keluhan yang tiada habis-habisnya, bahkan sendal jepit putus saja dikeluhkan.

Belum lagi yang candu berkomentar. Apapun di komentari, dari urusan negara sampai dapur tetangga. Mendadak dia ahli dalam berbagai bidang, dengan komentar ala kadarnya dan tidak ilmiah sama sekali.

Mau bagaimana pun, candu tetaplah candu. Bahkan orang yang kecanduan membaca, bisa juga negatif. Apalah arti banyak membaca kalau itu untuk diri sendiri, tidak mau berbagi, atau dilain hal, tidak menjadikannya pembeda antara yang lain dalam aspek perilakunya. Apalah arti membaca, kalau ia menjadi sombong dan merasa pintar sendiri.

Jadi tidak perlu sampai candu, ada kalanya itu dibutuhkan, ada kalanya memang tidak harus dikerjakan, karena ada hal lain yang perlu dikerjakan. Apa yang dibaca tidak boleh dipenjarakan dalam otak, tapi harus dilepaskan ke kehidupan. Entah dalam bentuk perpsepi atau aksi. Begitulah semestinya.

Ternyata candu memiliki banyak variasinya, namun candu tetaplah hal yang perlu dihindari. []

10 Mei 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar