loading...

Sabtu, 08 April 2017

Perjalanan Menulis (bag. 31)



Berguru di Radar Malang


“Nulis kamu sudah bagus, tinggal mau melanjutkan apa nggak,” ucap Pak Kholid Amrullah, Redaktur Radar Malang, di hari terakhir saya magang.

Arti kata “lanjut” itu, adalah lanjut menjadi wartawan lapangan. Pak Kholid sendiri sudah sembilan tahun menjadi wartawan lapangan, baru kemudian duduk sebagai redaktur, yang juga bertugas mengedit berita. Sekilas tak terlihat senior, karena wajahnya awet muda.

Wartawan lapangan di Radar Malang masuk ke kantor sekitar jam 4 sore. Absensinya pun menggunakan finger print. Saya kira hanya PNS atau pegawai swasta yang absennya seperti itu. Ternyata wartawan juga.

Namun bukan berarti paginya tidak ada kerjaan. Setiap wartawan ditempatkan pada pos masing-masing. Ada pos kriminal, pos olahraga, pos pendidikan, dll. Setiap wartawan harus setidaknya mendapatkan empat berita dalam sehari.

Sore hari, saat ke kantor, wartawan duduk depan komputer masing-masing untuk menulis berita. Begitu pun dengan editor dan layouter. Semua komputer di ruang kerja terhubung melalui jaringan lokal, sehingga ketika wartawan selesai menulis dan disimpan dalam folder rubrik, otomatis langsung bisa dibuka dari komputer editor tanpa perlu mengirim file.

Tulisan yang selesai diedit langsung ditempatkan pada folder siap cetak. Setiap folder bertuliskan rubrik masing-masing. Ada dua layouter, dengan komputer khusus, monitornya berukuran 2x lebih lebar dari monitor wartawan atau editor.

Setiap sore itupula, saya datang ke Radar Malang untuk nyetor tulisan. Saya mendapatkan waktu khusus untuk dinilai tulisannya. Di ruang kerja redaktur, ada meja bulat yang diatasnya tersedia beberapa koran merk lain. Ternyata perusahaan koran juga langganan berbagai macam koran yang berbeda.

Tulisan saya dinilai oleh editor, sembari diperlihatkan mana yang harus dibenahi. Ada beberapa editor yang mengoreksi, namun paling sering dengan Pak Kholid. Dari segi tulisan, menurut Pak Kholid, hampir tidak ada masalah. Memang ada beberapa yang harus dibenahi, namun tidak sampai merubah struktur kalimatnya.

Kelemahan mendasar terletak pada penggalian data. “Nanti kalau meliput harus digali lebih dalam lagi informasinya ya,” pesan Pak Kholid.

Mungkin karena kala itu harus membagi waktu untuk kuliah, tugas di Majalah juga terus berjalan, termasuk nulis konten setiap pagi dengan bayaran 4.000 per artikel itu. Belum lagi, saya juga menjadi Kabid RPK (Riset dan Pengembangan Keilmuan) PC IMM Malang. Semua aktivitas itu saya hayati, sehingga tidak bisa saya tinggalkan salah satunya. Meski ada beberapa mata kuliah yang akhirnya tidak bisa saya ikuti.

Sampai ada beberapa tawaran mengajar ekskul Jurnalistik, yang saya tidak bisa penuhi. Di tempat praktek mengajar dulu, saya juga diminta datang setiap sabtu untuk tetap mengajar Jurnalistik, meski sudah tidak lagi praktek disana.

Sebenarnya itu tawaran yang menggembirakan, mengingat saya memiliki kedekatan yang cukup baik dengan anak-anak kelas 3F yang saya ajar dulu. Setidaknya, meski tidak lagi mengajar di kelas reguler, setiap sabtu saya bisa bertemu mereka. Mendengarkan cerita dan celoteh tentang banyak hal.

Ketika jam istirahat, banyak dari mereka bercerita tentang naruto. Saya bisa mengikuti, dan kadang membenarkan jika cerita mereka salah. “Loh pak Fahri kok tau ceritanya naruto?” respon salah satu dari mereka.

Termasuk ketika membahas tentang Uchiha Itachi. Kata sebagian dari mereka, Itachi itu ninja yang kuat tapi jahat. Lalu saya bilang kalau Itachi itu sebenarnya baik, tapi banyak orang salah sangka. Mereka pun protes, ngotot menyangkal pendapat saya dengan ciri khas anak-anak.

Saat sebagian mereka menonton lanjutan serial naruto, baru mereka percaya kalau Itachi itu ternyata baik. “Iya ya pak, ternyata Itachi itu baik,” kata mereka.

Sebenarnya membincangkan serial naruto—meskipun itu anime—sangatlah beresiko. Apalagi cara hidup Uchiha Itachi, yang telah melakukan pembuhunan klannya demi keutuhan desa/negara. Anak kecil tidak seharusanya menonton acara seperti itu.

Ceritanya, klan Uchiha hendak memberontak dengan negara. Namun Itachi sebagai “abdi negara” menolak rencana klannya dan memilih setia kepada negara. Kemudian dia membunuh anggota klan, kecuali adiknya, Uchiha Sasuke.

Dia meminta kepada negara agar merawat adiknya. Itachi kemudian kabur dan mendapatkan nama jelek di negaranya sebagai pembantai. Bahkan Itachi bergabung dengan geng brandal bernama Akatsuki. Tujuan geng brandal tersebut adalah menangkapi Jinjuriki. Jinjuriki adalah manusia berkekuatan monster. Salah satu Jinjuriki itu adalah naruto, yang kemudian menjadi sahabat adiknya.

Selama di Akatsuki, dia mengontrol pergerakan geng brandal tersebut, melindungi naruto dan sasuke dari jauh. Itachi terlihat jahat, tapi sebenarnya baik, dia mengorbankan dirinya demi keselamatan banyak orang.

***
Selama hampir dua bulan saya “ngaji berita” setiap sore di Radar Malang. Lebih seringnya belajar membuat kalimat efektif, dengan bahasa lugas. Itu ciri khas berita. Meski sesekali juga belajar menulis feature.

Pernah juga belajar menulis running text untuk iklan travel biro Haji dan Umroh. Teks berjalan tersebut ditampilkan pada sebuah acara di Mal Olympic Garder (MOG). Membuat teks berjalan ternyata tidak gampang, karena hanya satu kalimat dan setidaknya harus mudah diingat oleh orang yang membacanya.

Ini menjadi pengalaman berharga, karena bisa belajar privat dari orang yang sudah berkecimpung lama dalam dunia tulis menulis. []

Blitar, 8 April 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar