loading...

Sabtu, 01 April 2017

Perjalanan Menulis (bag. 26)



 
Menyegarkan Fikiran Setelah Menulis
 
A Fahrizal Aziz
Tidak hanya penulis, atau jurnalis, atau pekerja media lain yang mengalami penat akhibat pekerjaan. Hampir semua bidang profesi juga mengalami hal serupa, bahkan bagi mereka yang pekerjaannya adalah menghibur.

Kita menonton hiburan untuk melepaskan penat dari aktivitas formal, namun para penghibur—sekalipun kerjanya menghibur—tapi bagi mereka itu adalah pekerjaan, bukan hiburan. Bahkan orang yang kerjanya di tempat hiburan, mereka pun masih tetap butuh hiburan.

Tapi bisakah pekerjaan sekaligus menjadi hiburan?

Kalau kita amati di instagram, ada sebagian orang yang rajin sekali memposting foto jalan-jalan. Entah keluar daerah, pulau, bahkan sampai luar negeri. Selintas kita bertanya, orang ini kerjanya apa? Kok punya banyak uang untuk jalan-jalan?

Pekerjaannya ya jalan-jalan. Mereka yang punya banyak follower di Instagram, punya keahlian menulis, mengambil gambar, dan memiliki fisik yang menarik, banyak yang terjun menjadi travel blogger. Mereka diundang oleh sebuah instansi untuk berlibur ke suatu tempat, syaratnya harus dipublikasikan.

Instansi tersebut bisa Pemerintah Daerah yang sedang mempromosikan salah satu destinasi pariwisatanya, bisa juga instansi lain yang bergerak pada bidang pariwisata atau agen perjalanan. Mereka lebih memilih selebgram, dan bukan artis layar kaca, karena honornya lebih terjangkau.

Namun bagi sebagian orang, menulis adalah hiburan. Terutama bagi mereka yang tidak bekerja secara langsung menjadi penulis. Membuat puisi, atau menulis diary menjadi salah satu relaksasi tersendiri.

***
Sejak pertengahan tahun 2012, saya membawa motor dari rumah. Keinginan untuk keliling Malang dan sekitarnya pun bisa terwujud. Tidak perlu lagi naik angkot, atau cari motor pinjaman.

Saya jadi sering mengikuti acara diskusi, bahkan diskusi malam di warung kopi. Kadang pula ada undangan mengisi kegiatan pada akhir pekan, biasanya di Kota Batu. Kalau tidak begitu jalan-jalan ke matos. Kata sebagian teman, itu perilaku hedonis, padahal paling-paling saya mampir ke toko buku, atau nongkrong di food court lantai II memesan segelas kopi/teh yang murah, atau maksimal nonton film.

Kalau tidak begitu, kadang saya dan beberapa teman menyusuri berbagai lokasi ngopi ala “anak jalanan”. Kadang di depan UMM, di trotoar dekat Jembatan Soekarno-Hatta, di trotoar depan stasiun kota baru, atau di bundaran Malang.

Pernah juga di alun-alun Batu, dekat sana ada kedai ketan yang melegenda. Kami nongkrong sampai larut malam. Itulah enaknya jadi bujang. Pernah sesekali ke destinasi wisata alam, seperti kebun teh Wonosari, pantai Balekambang, atau pemandian air panas di Cangar.

Pernah suatu ketika, di hari Jum’at, saya dan Ali Abraham (teman sejak di Aliyah) pergi ke Cangar sore hari. Jarak dari Malang ke Cangar cukup lumayan, melewati jalanan berkelok dan naik turun. Namun pemandangan sekitar sangat indah. Cangar merupakan daerah dekat puncak welirang, yang merupakan bagian dari Gunung Arjuno. Gunung yang dari kejauhan seperti perempuan berbaring.

Jelang sore, suasana cangar cukup dingin. Tentu nyaman sekali jika berendam di air hangat. Sayangnya, hari itu kolam sedang dikuras. Biasanya kolam memang dikuras setiap hari Jum’at, untuk menyambut pengunjung yang datang akhir pekan. Duh.

Petugas loketnya memberikan alternatif, jika ingin merasakan air hangat, bisa di kamar mandi. Daerah sekitar puncak welirang airnya memang hangat semua. Bahkan sungainya pun hangat. Namun tidak memungkinkan untuk berendam di sungai.

***
Meskipun tujuannya refreshing otak dari aktivitas menulis, namun tetap saja, kunjungan-kunjungan tersebut menjadi bahan menulis juga. Sepertinya, memang tidak ada alasan untuk berhenti menulis, atau berfikir apa yang hendak ditulis.

Saya pun jadi memiliki definisi lain tentang piknik dan hiburan. Tidak semua tempat hiburan, atau acara hiburan itu selalu menghibur. Sebagian justru menciptakan kepenatan baru, bergantung pada cara kita mencernanya. Acara hiburan yang hanya mempertontonkan adegan saling lempar celaan, justru membuat kita jengah.

Piknik ke suatu tempat yang menguras isi dompet, akhirnya juga menciptakan keluhan baru. Berulang kali naik gunung, namun hanya nampak foto-fotonya, kesadaran untuk menjaga alam dan lingkungan tidak juga muncul. Para pecinta alam sejati, yang memahami filosofi pedakian, kadang dibuat jengkel dengan banyaknya sampah yang berserakan di areal pedakian. Seperti yang pernah terjadi di ranu kumbolo, Mahameru.

Mendapatkan hiburan tidak selalu berada di tempat hiburan, atau acara hiburan. Sesuatu yang menghibur itu tidak harus hiburan. Intinya, itu bisa mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian. Bisa bangun sebelum subuh dan mendengarkan siulan burung di pagi hari juga merupakan hiburan tersendiri.

Melihat orang lain merasa terbantu karena kehadiran kita, juga mendatangkan kebahagiaan tersendiri.

Tapi adakalanya juga kita menikmati perjalanan ke suatu tempat, menuju alam atau pusat keramaian. Namun bukan untuk sekedar trend agar dianggap eksis. Apalah arti kehadiran, jika hati tak tertaut mendalam.

Satu-satunya refreshing otak dari penatnya menulis hanya satu ; tidur yang berkualitas. Tiba-tiba saya jadi ngantuk. Ayo tidur! []

Blitar, 1 April 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar