loading...

Selasa, 14 Maret 2017

Perjalanan Menulis (bag. 8)





Saya tidak bisa ikut Osfak (orientasi fakultas) karena sakit. Namun sempat dua hari mengikuti OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik), atau yang umum dikenal dengan nama Ospek. OPAK bertepatan dengan bulan puasa, sehingga begitu terasa menderitanya.

Pada waktu pengenalan kampus yang disampaikan rektor, saya kurang menyimak. Bahkan tertidur di kursi. Sampai majalah LPM Inovasi, media mahasiswa yang kritis terhadap kampus, menulis bahwa pengenalan kampus oleh rektor tak ubahnya seperti dongeng pengantar tidur.

Persitiwa “tidur massal” pada acara pengenalan kampus tersebut dikerenakan banyaknya mahasiswa baru yang begadang semalaman untuk mengerjakan tugas dari panitia OPAK. Membuat atribut dan tetek bengeknya. Belum lagi tugas mereview satu buku dalam semalam. Gila!

Karena itulah saya kurang familiar dengan wajah rektor. Bahkan sampai dua bulan pertama menjadi mahasiswa, jika ditanya siapa rektor, saya hanya bisa menyebut namanya, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Wajah beliau belum saya kenali. Meskipun Ibu saya, yang kala itu datang pada pertemuan wali mahasiswa, pernah berkata jika Pak rektor sekilas mirip Gus Dur.

***
Sepulang dari observasi tugas mata kuliah strategi belajar dan mengajar, saya berpapasan dengan seorang bapak berpeci hitam, berbusana batik coklat, dan bersandal jepit. Bapak itu melempar senyum, sekilas saya membalasnya sambil lalu. Mendadak banyak mahasiswa yang mendatangi dan berebut menyalami.

Bapak itu siapa ya? Saya pun berputar balik dan ikutan menyalami. Jabatan tangannya erat. Mahasiswa lain setelah menyalami langsung pergi, namun bapak itu membuka sedikit dialog dengan saya, “darimana tadi?” tanya beliau.

Saya menjawab apa adanya. Kami pun terlibat perbincangan sembari berjalan menuju Masjid. Ditengah perbincangan itupula banyak mahasiswa silih berganti menyalami. Saya yang berjalan seiring dengan beliau, serasa menjadi orang penting untuk sementara waktu.

“kalau adzan kita harus ke masjid, karena kita dipanggil,” jelas beliau. Lalu saya ditanya asal daerah, jurusan, dan nama mabna/asrama tempat saya tinggal.

Perbincangan kami berhenti di bibir tangga Masjid karena saya harus melepas sepatu, sementara bapak itu langsung melenggang masuk karena tinggal melepas sandal jepit. Di serambi Masjid kemudian masih banyak mahasiswa yang turut menyalami. Baru saya ingat kalau itu ternyata rektor. Sekilas memang tidak menunjukkan gaya pejabat, karena tampilannya yang sederhana.

Peristiwa unik tersebut kemudian saya tulis lewat catatan facebook dan dikomentari langsung oleh beliau begini : Bagus sekali, saya senang membacanya.

Sungguh tidak menduga jika catatan itu akan dikomentari oleh rektor. Bahkan waktu hendak menandai akun facebook rektor dalam catatan tersebut, saya berfikir agak lama. Antara canggung dan takut dikira tidak sopan. Lagipula, saya ini siapa? Hanya mahasiswa baru yang tak memiliki prestasi menonjol.

Nama Profesor Imam kemudian sering diperbincangkan, terutama karena konsistensinya menulis setiap hari, selepas shalat subuh. Salah satu Muysrif (Ustad pendamping) di Ma’had, ada yang menjadi pembaca setia. Ustad yang saya lupa namanya itu adalah Ustad pendamping kami dalam ta’lim Qur’an. Di Ma’had kami dibagi dalam beberapa kelompok untuk memperdalam bacaan Al Qu’ran dan didampingi oleh seorang Musyrif.

Ma’had itu adalah nama lain dari pondok pesantren. Ma’had putra dan ma’had putri dipisah. Ma’had putra memiliki lima gedung, yang setiap gedungnya disebut mabna. Saya berada di mabna Ibnu Rusyd/Averrous. Ibnu Rusyd adalah Ulama kenamaan abad pertengahan. Namanya berkibar tidak saja di dunia Islam, namun juga di eropa, sampai lidah orang eropa menyebutnya Averrous.

Setelah ta’lim, jika tidak sedang terburu-buru kuliah, saya dan ustad biasa berbincang soal tulisan Profesor Imam pagi itu. Dari ustad itupula saya tahu sedikit biografi Prof. Imam. Tokoh kharismatik kelahiran Trenggalek, dan rajin menulis setiap pagi. Tulisan-tulisan beliau di posting ke sosial media dan website pribadi.

Saya belum sempat berterima kasih kepada Ustad tersebut, dan menghaturkan maaf yang mendalam karena saya benar-benar lupa nama beliau, untuk sekedar mengabadikannya dalam catatan ini. Padahal sudah coba saya lacak di sosial media, termasuk akun facebooknya mabna Averrous. Seingat saya Ustad tersebut memang tidak punya akun facebook. Selain kuliah dan membina mahasantri, beliau juga intens dalam menghafal Al Qur’an melalui HTQ (Hai’ah Tahfidz Qur’an).

Gegara cerita sang ustad, saya jadi sering ke warnet untuk membaca tulisan-tulisan Profesor Imam. Dalam setiap artikelnya, rektor asal Trenggalek itu menggunakan bahasa sederhana, padahal sekelas Profesor. Jarang menggunakan istilah ilmiah, atau kutipan bahasa Inggris. Yang ditulis pun hal-hal sederhana pula, berupa peristiwa sehari-hari yang dialami.

Saya kemudian menjadi pembaca setia, termasuk keranjingan untuk membaca tulisan-tulisan Profesor yang dulu-dulu. Dalam hati, ingin juga menulis setiap hari. Namun apa yang mau ditulis? Menulis diary saja belum tentu bisa istiqomah.

Pada tahun-tahun berikutnya, saya berkesempatan duduk agak lama dengan Prof. Imam dalam tiga kali kesempatan. Pada kesempatan itu terciptalah obrolan yang lebih luas. Menyangkut ilmu pengetahuan, organisasi, sampai Peradaban Islam. []

Blitar, 14 Maret 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar