loading...

Rabu, 08 Maret 2017

Perjalanan Menulis (bag. 3)





Buletin Jurmalintar bernama As-Shidiq, idealnya buletin tersebut terbit bulanan. Namun selama satu periode kepengurusan 2007-2008, terbit tiga kali. Itu berarti terbitnya 3 bulanan, karena kepengurusan secara aktif hanya berjalan 9 bulan.

Selama ini biaya buletin diambil dari dana operasional ekskul sebesar 1,2 juta/tahun. Karena ada pemangkasan menjadi 600rb/tahun, juga karena minimnya siswa yang mau menulis, sehingga target terbit bulanan menjadi tiga bulanan.

Empat divisi memang memiliki tugas Jurnalistiknya masing-masing. Yang melibatkan dana paling besar adalah Majalah, 5-6 juta. Terbit setahun sekali. Tulisan yang dimunculkan lebih banyak artikel, profil guru, siswa, dan tulisan lain. informasi harian disampaikan melalui radio komunitas yang waktu siarannya setiap jam istirahat. Sementara mading diperbaharui seminggu sekali.

Pada edisi akhir tahun 2007, saya menulis untuk buletin As-Shidiq. Awalnya tidak tahu harus menulis apa, baru setelah konsultasi dengan salah satu guru, saya mendapatkan ide tulisan. Susahnya juga, selama ini saya adalah anggota divisi Majalah, yang banyak menulis berita, bukan artikel, apalagi untuk buletin yang biasanya berisi artikel semacam khotbah keagamaan.

Karena itupula saya menulis beberapa artikel keagamaan untuk buletin rohis. Khusus buletin rohis, kami patungan seadanya. Buletinnya pun difotocopy, bukan dicetak. Padahal cetak buletin tergolong murah. Rp50.000 sudah dapat ratusan lembar. Uang saku saya masih Rp5.000, harga semangkok soto masih Rp2000. Pengurus rohis aktif hanya enam orang. Yang bisa terkumpul hanya Rp10.000 untuk biaya print dan fotocopy. Sehingga tiap kelas hanya mendapatkan 3 lembar.

Pada bagian akhir buletin tersebut juga memuat pengumuman kajian minggu ini, berikut tema dan Ustad yang mengisi, kadang juga diisi oleh guru. Yang paling sering adalah Ust. Saichu Wicaksono dan Ust. Dudung Dumaidi, keduanya sekaligus pembina Rohis.

Karena mengurus Ekskul Jurnalistik butuh energi lebih, kadang harus membagi waktu. Beberapa pengurus rohis juga aktif di ekskul lain. Pendi Setiawan aktif di Pramuka, Qoni’ah aktif di PMR, dan yang lain aktif di Jurnalistik. Kajian yang seharusnya tiap minggu sekali, tidak bisa berjalan sesuai jadwal. Bahkan pernah dalam sebulan tidak ada kajian. Pernah juga mengadakan kajian, ustad sudah datang, namun tidak ada yang hadir, kecuali pengurus.

Sementara ada beberapa undangan seminar dan workshop kepenulisan dari sekolah dan lembaga, sebagai ketua saya hanya bertugas untuk meminta disposisi dari pihak sekolah, dan mendelegasikan anggota untuk mengikuti acara tersebut, ini sekaligus program pendidikan untuk anggota baru. Karena sifatnya delegasi, maka biaya ditanggung organisasi. Biasanya dana diambil dari khas atau dana operasional.

Mereka yang didelegasikan pun tidak sekedar mewakili sekolah, melainkan harus memberikan timbal balik. Minimal, mereka harus membagikan ilmu yang didapat kepada seluruh anggota organisasi ketika pertemuan umum setiap minggunya. Mereka belajar menjadi narasumber pada hari itu, sekaligus melatih publik speaking. []

Blitar, 8 Maret 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar