loading...

Minggu, 26 Maret 2017

Perjalanan Menulis (bag. 21)




Diklat Bersama Jurnalis Senior



Berbincang di Universitas Parahyangan

Pak Kurniawan Muhammad sudah duduk di kursi pemateri, mengenakan setelah kaos berkerah dan celana jeans biru tua. Ia nampak karismatik dengan gaya rambut cepak dan kacamata. Pak Abdul Aziz duduk sebelah kanan, dan Pak Mujaid Kumkelo, selaku Kepala bagian kemahasiswaan, duduk sebelah kirinya. Pak Mujaid lah yang membuka acara tersebut.

Pak Kurniawan Muhammad, atau yang akrab disapa Cak Kur, adalah wartawan senior Jawa Pos, yang baru saja berganti kantor dari Jawa Pos Surabaya ke Radar Malang. Di Radar Malang ia menjadi Direktur. Posisinya adalah Bos Radar Malang.

Selain redaksi inti Majalah Suara Akademika, diklat tersebut diikuti peserta dari UKM Inovasi dan LKP2M (Lembaga Kajian, Pengembangan dan Penelitian Mahasiswa). Dua UKM tersebut bergerak dibidang literasi.

Tempat acara di ruang pertemuan Perpustakaan Pusat lantai II. Kenapa disebut perpustakaan pusat? Karena setia fakultas memiliki perpustakaan sendiri yang menyediakan buku-buku khusus fakultas tersebut. Sehingga Perpustakaan kampus disebutnya Perustakaan pusat.

Tempatnya pun tak terlalu luas. Seperti kelas biasa, namun desain mejanya melingkar, seperti meja bundar. Diklat tersebut tidak membahas materi Jurnalistik tingkat dasar, tidak lagi soal 5w+1h, meskipun itu disampaikan juga. Kata Cak Kur, setelah 5w+1h, what next?

Bahwa media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, namun juga memiliki tugas besar dalam mendidik masyarakat, sebagaimana empat fungsi media massa. Menyamaikan informasi, mendidik, menghibur, dan persuasi (mengajak pada satu tujuan tertentu).

Hal ini selaras dengan majalah Suara Akademika yang bukan saja sebagai media informasi, namun juga menyajikan jenis tulisan lain seperti feature.

Selain Cak Kur, ada dua narasumber lain yang mengisi. Damanhuri Zuhri dari Republika, yang menyamaikan sekilas tentang opini dan menulis liputan. Disele-sela penjelasannya, Pak Damanhuri juga bercerita soal Asma Nadia, penulis perempuan yang layak dijadikan contoh.

Pada tahun itu (hingga sekarang) Asma Nadia juga menjadi kolomnis tetap rubrik Resonansi Republika. Asma Nadia adalah satu-satunya kolomnis perempuan, diantara empat kolomnis lainnya, yaitu Nasihin Masha (Pimred Republika) Ikhwanul Mashuri Kiram (Pengamat Timur Tengah), Azyumardi Azra (Cendekiawan Muslim dan Mantan rektor UIN Jakarta), serta Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Materi ketiga berkaitan dengan esai, disampaikan sendiri oleh Pak Abdul Aziz, selaku kepala editor.

Diklat ini digelar tidak lain untuk membekali tim redaksi yang baru. Sebelum keberangkatan lagi ke Jakarta, dibuatlah rapat terbatas untuk menentukan dua tema untuk dua terbitan berikutnya. Tema pertama soal Kejujuran Akademik sudah diputuskan sebelumnya. Tema kedua, seluruh awak redaksi diminta memberikan masukan.

Saya mengusulkan tema “Islam dan Peradaban Alternatif”, mengingat beberapa tokoh yang akan diwawancarai, rata-rata berkualifikasi Ph.D dan sebagian Profesor dalam disiplin ilmunya Islamic Studies, baik dalam hal sejarah, pemikiran, hingga kebudayaan.

Usul saya diterima. Rapat redaksi akhirnya memutuskan tema tersebut. Pak Aziz meminta saya membuat gambaran secara umum tentang tema, sekaligus beberapa rancangan pertanyaan yang hendak diajukan kepada tokoh terkait.

Usulan tema itu saya dapat setelah membaca buku karya Ahmad Syafii Maarif berjudul “Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia”. Akhirnya saya meminjam ulang buku itu dari perpustakaan dan kembali membacanya sebagian, sebagai bahan menulis gambaran umum seputar tema.

Beberapa hari sebelum keberangkatan ke Jakarta, kemudian saya mengajukan draft tersebut. Tentu saja, kepala editor akan memilih siapa yang akan diikutkan dalam kunjungan ke Jakarta, selain fotografer. Dan ternyata, bukan saya yang dipilih. []

Blitar, 26 Maret 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar