loading...

Sabtu, 18 Maret 2017

Perjalanan Menulis (bag. 13)



Puisi Sebagai Pelipur Sepi



Terlalu sepi
Jika kau tak menemani
Terlalu sunyi
Jika kau hanya bungkam dan berdiam diri

Aku ingin kau bernyanyi
Agarku rasa teduh dan tak jenuh
Aku ingin kau bercerita
Agarku rasa senang nan bahagia

Namun kini kau tlah pergi
Dan lupa akan masa kita berdua
Kini kau tlah jauh berlari
Tinggalkanku yang masih mengharapmu

Puisi ini saya tulis hari senin, 21 Juni 2010 pukul 20.23. Berjudul “Tanpamu”.

Sejak hari sabtu, 29 mei 2010, saya berikhtiar untuk menulis satu puisi setiap harinya. Puisi pertama kali saya tulis ketika camping di Wonosari, Lawang, Kab. Malang. Selepas shalat subuh, diantara pepohonan lebat, sembari menikmati dingin dan sejuknya pagi. Ke utara sedikit ada kebun teh wonosari.

Berpuisi bagi saya kala itu, semacam dialog bathin. Entah dengan diri sendiri, ataupun dengan Tuhan. Ada nilai spiritual tersendiri. Sebagian besar puisi yang saya buat, lebih seperti doa. Doa yang agak puitis.

Sayangnya, ikhtiar itu terhenti pada Jum’at, 2 november 2012. Tercatat ada 256 puisi yang telah saya tulis, dalam empat jilid buku tulis hardcover. Yang kemudian saya namai “kitab puisi fahri”. Jilid kedua hilang entah kemana, belum ketemu sampai saat ini. Pada jilid kedua terdapat puisi ke 96 sampai 118. Mungkin tertinggal di kontrakan waktu pindahan.

Selanjutnya, saya menulis puisi jika sedang terjadi ‘sesuatu’. Jilid keempat dari “kitab puisi” itu masih banyak yang kosong. Lama tak tersentuh. Baru saya buka lagi ketika membuat catatan ini.

Menulis puisi adalah aktivitas menulis paling pertama saya lakukan. Sejak kelas 2 SD. Ketika guru Bahasa Indonesia –sekaligus wali kelas kami—Bu Suyatmi, memberikan tugas membuat puisi. Selanjutnya, saya menulis puisi untuk keperluan menulis surat kepada kerabat, yang kala itu masih via pos, dengan amplop airmail dan perangko bergambar cendrawasih.

Ketika di Malang, puisi menjadi pelipur sepi. Teman di kala sendiri, meski tak ada interaksi. Apalagi jika sedang banyak masalah, terutama masalah keluarga yang menyita fikiran.

Pertengahan tahun itupula, beasiswa DIPA cair pas liburan semester. Sehingga ada kesempatan “berfoya-foya”. Saya masih di Malang untuk sementara waktu, sembari mengurus pindahan ke kontrakan, daerah sumbersari gg. III dekat dengan kuburan. Jarak kontrakan ke kampus sekitar 500 meter.

Aktivitas menulis puisi itu semakin gencar setelah mengikuti workshop kepenulisan di UMM (lihat. Bag. 11). Saya ikhtiarkan menulis puisi selepas subuh, atau kalau tidak sebelum tidur. Kadang juga sore hari.

Bahasanya masih amburadul. Kalau saya baca lagi sekarang, pemilihan diksinya banyak kurang tepat, dan beberapa puisi memiliki kesamaan tema. Pada jilid keempat, diksi yang saya pilih masih agak mending, meski belum bisa disebut bagus.

Sejak terlibat penuh dalam dunia kewartawanan, saya semakin menjauh dari puisi. Tenggelam dalam tugas liputan, menulis berita, hasil wawancara, sampai opini ilmiah. Apalagi jika disibukkan oleh kegiatan kepanitiaan, yang hampir selalu ada per tiga bulan. Lelah. Jengah.

Puisi, meski sederhana, namun ada kedalaman kata-kata. Meski seringnya saya dimintai bantuan untuk menulis lirik lagu, yang jika direnungi, mirip-mirip puisi juga. Beberapa puisi yang agak bagus kemudian saya rekam, saya baca sendiri, kemudian di publikasi melalui sosial media.

Meski “kitab puisi” terhenti di tahun 2012, namun pada tahun 2013 saya masih menulis dan membaca puisi untuk acara kencan sastra FLP UIN Maliki. Sebagaimana adanya, cara saya membaca puisi terlampau membosankan untuk didengar. Tidak ada letupan-letupan. Tidak ekspresif. Intonasinya juga tak beraturan.

Jika berkenan, silahkan search “kencan sastra FLP UIN Malang” di Youtube. Ada puisi saya yang direkam, judulnya “Hujan, Siapakah Engkau?”. Sebenarnya saya kurang sepakat dengan musik latarnya, yang merupakan soundtrack salah satu drama korea.

Tapi, dengan menulis catatan ini, saya jadi rindu berpuisi. []


Blitar, 18 Maret 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar