loading...

Jumat, 17 Maret 2017

Perjalanan Menulis (bag. 11)



Workshop Kepenulisan di UMM

UMM


Dalam selebaran sebenarnya tertulis “Diklat Jurnalistik”, namun setelah saya ikuti, ternyata tidak ada yang secara khusus dan tajam membahas soal Jurnalistik. Maka dalam judul diatas saya tulis saja “Workshop Kepenulisan”.

Acara tersebut digelar IMM Komisariat Fastco UMM selama dua hari, Sabtu dan Ahad. Acara berlangsung pertengahan tahun 2010, setelah Ujian Akhir Semester. Meskipun belum masuk waktu libur, namun sudah banyak yang pulang kampung.

Bulan itu kami penghuni ma’had juga harus mempersiapkan kepindahan. Beberapa ada yang memilih untuk tetap tinggal di ma’had, sebagai Musyrif. Jika ingin menjadi Musyrif, harus mengikuti tes, terutama tes bahasa asing (arab dan inggris), juga tes membaca kitab. Jika terpilih menjadi Musyrif, maka akan memiliki tugas mendampingi Mahasiswa baru. Mereka bisa tinggal di Ma’had, tanpa perlu memikirkan biaya tempat tinggal.

Demi mengikuti acara workshop tersebut, saya menunda keinginan untuk pulang ke Blitar. Menunda rindu sejenak, demi mendapatkan tambahan ilmu.

Itu pertama kalinya juga saya masuk UMM, setelah sekian lama hanya sekedar lewat sambil takjub melihat keindahan kampusnya.

Pembukaan workshop dilaksanakan di Aula lt. 1 Masjid AR Fachrudin. Baru kali ini saya tahu kalau Masjid punya Aula. Bahkan punya dua Aula. Lantai 3 dan 4 digunakan untuk Shalat. Lantai 2 terdapat ruang yang disekat-sekat, salah satunya ruang PSIF (Pusat Studi Islam dan Filsafat). Ada juga Perpustakaan. Tempat wudhu juga ada di lantai 2.

Lantai 1 tempat untuk mengurus administrasi, termasuk loket untuk pembayaran akademik. Ada ATM, ada serambi yang sering digunakan untuk berkumpul mahasiswa. Ada parkiran yang cukup luas.

Setelah agenda pembukaan, ada bedah buku “Para Pembela Islam” karya Pradana Boy ZTF, MA. Diskusi tersebut begitu akademik. Pradana Boy sendiri adalah dosen lulusan Australian National University (ANU). Buku membahas seputar ideologi konsevatif dan progresif di dalam tubuh Islam, khususnya di Muhammadiyah.

Hari kedua, tempat acara berpindah ke GKB (Gedung Kuliah Bersama) Lt. 4. Untuk menuju tempat tersebut, akan melewati dua jembatan. Pertama jembatan besar sungai Brantas. Kampus UMM dulunya adalah jurang yang dibelah oleh sungai brantas. Yang kedua jembatan danau buatan.

Disekitar danau terdapat semacam pedestrian, juga gazebo. Lokasi tersebut nampak begitu romantis. Tempat yang kondusif untuk belajar. Di GKB juga terdapat Lift yang letaknya di depan. Dinding lift tersebut dari kaca, sehingga terlihat dari luar. Atau, yang di dalam juga bisa melihat ke luar.

Hari kedua ada empat narasumber, dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama membahas sedikit tentang Jurnalistik, namun lebih pada menulis opini. Pematerinya Haeri Fadly. Materi kedua tentang sastra, terutama menulis puisi. Pematerinya Denny Mizhar. Dalam acara itu kami diminta menulis puisi sambil diputarkan lagu klasik yang syahdu.

Denny Mizhar adalah sastrawan yang cukup terkenal di Malang. Aktif di Pelangi Sastra dan Cafe Pustaka UM. Selain itu ia juga guru di SMK Muda, dan bergiat di teater. Wajahnya sangar, nada bicaranya tegas. Caranya membaca puisi juga ekspresif.

Pemateri berikutnya ada dua, yaitu Subhan Setowara dan Hasnan Bachtiar. Materi lebih pada opini dan esai. Beberapa tulisan Subhan Setowara sudah dimuat di harian nasional, termasuk Kompas. Pada kesempatan itupula, peserta yang memiliki blog diminta menampilkan. Blog ditampilkan lewat layar LCD. Blog saya termasuk yang paling serius dikomentari. Padahal isinya masih berantakan.

Blog si-fahri.blogspot.com sudah saya buat sejak tahun 2007. Hingga sekarang itu masih menjadi blog utama, meskipun saya membuat website di alamat www.fahrizal-aziz.id blog “si fahri” adalah pengiring perjalanan saya menulis. Meski sempat berganti dalam berbagai format.

Header blog saya pasang foto pribadi waktu di pantai tambak. Mengenakan jaket merah. Beberapa peserta bertanya, itu foto siapa? Padahal itu foto saya. Kata sebagian, foto di blog lebih ganteng dari yang disini.

Maksudnya, yang disini (atau versi langsungnya) tidak ganteng? Tawa kami pun pecah. Workshop itu berakhir sore hari. Sebelum kembali ke mabna, saya sempatkan berjalan memutar untuk melihat sisi-sisi kampus UMM. Kampus yang waktu itu masih dipimpin Dr. Muhadjir Efendy, M.Ap, yang sekarang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet kerja Jokowi-JK. []

Blitar, 17 Maret 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar