loading...

Kamis, 16 Maret 2017

Perjalanan Menulis (bag. 10)



Bergabung kembali ke FLP

diskusi bersama FLP Maliki

Dua band nasional baru saja menggelar konser di Malang. Pertama Nidji, di Dome UMM. Kedua Zigaz, di Aula Sport Center UIN (Sekarang Gedung Soeharto). Tiketnya cukup terjangkau, hanya seharga satu bungkus rokok. Meskipun lagu Zigaz, Sahabat jadi Cinta, sedang hits kala itu, saya tidak menonton konsernya. Padahal jarak dari asrama ke gedung SC lumayan dekat.

Konser yang pertama kali saya tonton adalah konsernya Mulan Jamelaa di Lapangan Yonif 511 Blitar. Suasana begitu ramai, susah menembus kepadatan penonton, sampai akhirnya hanya berdiri di belakang. Tidak bisa melihat sosok Mulan Jamelaa dari dekat. Kalau begini mending nonton video klipnya saja, pikir saya waktu itu.

Malam saat dihelat konser Zigaz, saya bertemu dengan Mas Ahmed Tito, ketua FLP Ranting UIN. Disana juga datang Mas Hafidz Mubarak, yang beberapa bulan kemudian menjadi pengganti Mas Tito. Sebelumnya saya bertanya soal keberadaan FLP di UIN kepada Mbak Fauziah Rahmawati, lalu Mbak Fauziah kemudian mengirimkan nomornya Mas Tito.

Malam itu kami berbincang di kantin Ma’had, membahas soal kegiatan FLP di UIN. Sebagaimana kampus, kegiatan berbau tulis menulis memang begitu semarak. Hampir semua organisasi, baik yang berskala kampus seperti UKM, sampai berskala Fakultas dan Jurusan memiliki program pengayaan skill menulis. Karena menulis adalah hal penting bagi mahasiswa. Setidaknya kemampuan itu dibutuhkan ketika mereka mendapatkan tugas membuat makalah, paper, sampai tugas akhir.

Setelah ketua berganti ke Mas Hafidz Mubarak, saya beberapa kali ikut pertemuan. Mas Hafidz sepertinya lebih kental jiwa sastranya. Gayanya ketika membaca puisi begitu ekspresif, kadang meledak-ledak. Sangat teatrikal.

Pertemuan FLP Ranting UIN Malang (atau disebut FLP Maliki) sering digelar sore hari. Kadang di serambi gedung Infokom, kadang merumput di sekitaran gedung rektorat.

Hari ahad, biasanya pertemuan rutin dengan FLP Malang. Tempat pertemuannya bergantian. Kadang di UB, UM, UIN, sekaligus silaturahim ke rating. Kadang juga di CFD (Car Free Day) Jalan Ijen. Biasanya FLP Malang membuka lapak disamping Perpustakaan Kota Malang yang catnya warna kuning itu.

Pada pertemuan tersebut datang juga penulis-penulis keren yang kini sudah menghasilkan banyak karya. Sebut saja Ai El Afif yang dua kali menjadi juara LMCR (Lomba Menulis Cerpen Remaja), yang salah satu dewan jurinya adalah Naning Pranoto. Juga Masdhar Zainal, yang kini menjadi salah satu cerpenis paling produktif yang dimiliki oleh FLP.

Tidak semua kegiatan FLP Malang rutin saya ikuti, apalagi sewaktu masih tinggal di ma’had. Kadang bentrok dengan agenda ma’had, atau jurusan. Kadang juga bentrok dengan rasa rindu ingin pulang ke Blitar. Setahun pertama kuliah di kota tetangga, membuat saya kangen masa-masa sekolah. Untuk mengobati rasa kangen itu, jika pulang kampung, saya sering mampir ke sekolah, untuk menengok adik-adik Jurmalintar, atau sekedar nongkrong di kantinnya. []

Blitar, 16 Maret 2017
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar