loading...

Kamis, 24 November 2016

Saluran Menulis





Tahun 2011 akhir saya iseng daftar menjadi content writer/penulis konten ke salah satu penyalur artikel. Saya belajar sedikit banyak tentang seluk beluk konten. Ternyata penulis konten bagi sebagian orang sudah menjadi profesi yang menggiurkan, terutama bagi mereka yang sudah profesional. Bahkan satu artikel yang ditulis bisa dihargai mahal.

Penulis konten sendiri sudah ada sejak lama, sejak era kegemilangan media cetak, terutama Majalah dan Tabloid. Ruang yang diisi biasanya rubrik-rubrik non berita, seperti kesehatan, psikologi, perempuan, dll. Meski sebenarnya konten tidak terbatas pada hal tersebut. Beberapa Majalah/Tabloid dulu masih membuka ruang bagi pembaca yang ingin menyalurkan tulisannya, baik berupa tips kesehatan, artikel tentang kejiwaan, dlsb. Rubrik tersebut biasanya memang tidak dibuka untuk umum. Yang dibuka untuk umum adalah opini/artikel ilmiah populer, dan sastra (cerpen, puisi).

Saya mulai belajar menulis konten. Tahun itu belum punya laptop, sehingga harus ke warnet tiap selepas sholat subuh sampai antara jam 7 pagi. Kebetulan warnet di dekat jalan masuk sumbersari gg. I Kota Malang tersebut menerapkan tarif murah sebelum jam 8 pagi. Normalnya 3.000/jam, namun dari jam 00.00 sampai 08.00 tarifnya 2.000/jam. Beberapa warnet menerapkan layanan yang hampir sama. Bahkan ada paket 9.000/6 jam.

Memang tidak lebih murah dari rental komputer. Tapi enaknya di warnet, kita sekaligus bisa browsing artikel-artikel yang bejibun sebagai sumber tulisan. Kadang pula saya mencari buku-buku di perpus kemudian mencari bab-bab penunjang yang bisa diolah menjadi artikel konten.

Menulis konten itu ternyata menyimpan keasyikan tersendiri, disamping saat itu menjadi staff redaksi di Majalah Kemahasiswaan dan hampir selalu mendapatkan tugas wawancara. Menulis konten membuat saya membaca banyak buku dan artikel, terutama yang berkaitan dengan perempuan, psikologi, dan kesehatan. Meski tema-tema tersebut kurang begitu laku dibandingkan konten-konten unik yang bombastik, seperti berita-berita entertaintment, termasuk diantaranya, konten yang antara judul dan isi jauh berbeda.

Mungkin kita sering selintas melihat link yang sebenarnya tidak penting berseliweran di sosial media, misalkan, soal Syahrini yang terlihat bagian tubuh sensitifnya dalam suatu acara, atau Julia Perez yang lepas tali singletnya ketika sedang bernyanyi. Informasi semacam itu tidak penting, namun banyak sekali viewernya. Juga konten-konten yang berkaitan dengan seksualitas, yang hampir selalu ada. Selebihnya, adalah konten yang mengandung unsur unik. Beberapa, yang punya kepentingan tertentu, membuat konten hoax. Mereka yang pandai mengolah begitu itu, biasanya dompetnya tebal.

Menulis konten membuat saya banyak membaca, meski kelamahannya, jadi jarang membaca buku secara utuh. Misalkan ingin menulis konten tentang khasiat tumbuhan tertentu, biasanya tinggal menuju rak buku-buku IPA. Kita tidak perlu membaca satu halaman penuh, cukup melihat bab mana yang sekiranya menyuguhkan informasi yang dekat dengan keseharian kita. Misal, manfaat buah mengkudu, manfaat kunir, dll. Kita membaca buku hasil penelitian para ahli tentang tanaman tersebut, lalu mengolahnya menjadi artikel.

Sejak itu, sampai kini, media online (terutama yang berbentuk artikel konten) menjadi saluran menulis saya. Saluran menulis lainnya di Majalah Suara Akademika, Buletin komunitas, sampai koran lokal. Beberapa termuat di Surya dan Koran Pendidikan.

Namun penulis konten tidak pernah menunjukkan identitasnya. Mungkin sekedar kode di akhir tulisan. Berbeda ketika menulis wawancara, opini, sampai karya sastra, selalu tertera siapa penulisnya sebagai bentuk pertanggung jawaban. Mungkin karena terlalu asyik nulis konten, saya sedikit lupa kalau seorang penulis itu baru diakui, setelah ia punya buku, atau minimal tulisannya termuat di berbagai media cetak. Penulis konten, meski kerjanya menulis, tapi identitasnya tidak selalu dimunculkan.

Itulah barangkali yang membuat saya agak lengah alias aras-arasen buat bikin buku. Padahal sudah banyak yang mengompori. Baik buku yang bersifat reflektif, maupun ilmiah. Meski novel saya hampir pernah diterbitkan, namun harus tercancel karena berbagai alasan.

Selain asyik nulis konten, saya juga keasyikan nulis di media komunitas semacam Kompasiana. Beberapa esai saya banyak terserak di website lain yang mengambilnya begitu saja, termasuk ketika dulu tulisan saya tentang Ahok diambil oleh admin situs Islam Toleran/Islam NKRI yang akhirnya membuat inbox facebook dan email saya dipenuhi hujatan. Tapi itu bukan kali pertama tulisan saya menuai hujatan. Memang begitulah konskwensinya, tidak semua tulisan kita diterima oleh orang. Apalagi yang bersifat sensitif, semisal tema-tema politik.

Tulisan saya tentang Dahlan Iskan yang ditetapkan tersangka atas kasus proyek gardu listrik tersebut, juga sempat menuai hujatan. Katanya itu tulisan asbun (asal bunyi), padahal untuk menulis itu saya harus membaca banyak referensi tentang dunia perlistrikan, tentang pengadaan proyek, dlsb. Butuh hampir satu minggu untuk bisa membuat tulisan itu. Setelah jadi dibilang asbun. Kadang-kadang orang menjadi sangat sadis ketika bersosmed ria.

Masa paling keras terjadi ketika Pilpres 2014 silam, ketika saya banyak menulis tentang Jokowi-JK. Ungkapan sarkas kerap kali tercurahkan begitu saja, bahkan dari seorang dosen dengan kualifikasi doktor. Tapi ya begitulah suasana sosial media, dan cyber world. Itu belum termasuk akun abal-abal (robot) yang memang dibuat dengan jumlah besar, yang didistribusikan sebagai komentator di berbagai situs atau sosmed, terlebih twitter dan instagram sekarang ini.

Tulisan ini sekaligus merefleksikan sendiri perjalanan menulis saya, dari tahun 2007 sampai 2016. 10 tahun berjalan dan belum punya buku. Menyedihkan. Entah kapan bisa move on dari dunia maya yang menggiurkan, apalagi saya baru membuat web  fahrizal-aziz.id . Ditambah, arus teknologi yang bergerak ke digital, yang membuat minat baca buku sedikit demi sedikit tergerus, beralih ke e-book atau online.

Tapi buku tetaplah kemewahan tersendiri. Sebagaimana yang diungkapkan Stepen King, buku bisa dinikmati berjam-jam, tanpa terikat oleh energi baterai atau listrik. Buku juga menjadi hiasan menarik di rak-rak, dan bisa diwariskan turun temurun. []

Blitar, 24 November 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar