loading...

Selasa, 08 November 2016

Roti Kacang dan Senyum Ihsan





Dengan seksama Ihsan mendengarkan cerita Varel tentang roti kacang yang lezat. Semalam Varel dibelikan oleh ayahnya dua bungkus roti kacang di kedai “rindu roti” yang terkenal itu. Kedai itu memang laris manis, meski harga rotinya agak mahal, namun karena rasanya tiada dua, pembeli rela antri untuk mendapatkannya.

“Kacangnya dibalut coklat yang manis, rotinya empuk, nyaman dilidah,” jelas Varel sembari memainkan lidah layaknya bintang iklan yang sedang mempromosikan produk roti kacang. “Kacangnya itu beda. Lebih enak, gurih dan renyah. Kacang pilihan,” lanjutnya.
 
Ilustrasi
Mendengarnya, perut Ihsan yang sejak pagi belum terisi apa-apa itu mengeluarkan bunyi kemerucuk. Ihsan sangat menyukai roti, apalagi roti kacang spesial bikinan kedai “rindu roti”. Meski sejauh ini ia hanya bisa membayangkannya. Harga roti disana terlalu mahal, bahkan lebih mahal dari harga beras. Daripada dibelikan roti yang hanya sekali makan, lebih baik dibelikan beras yang bisa dimasak untuk beberapa orang.

Kedai rindu roti buka mulai sore selepas ashar. Setelah buka biasanya langsung diserbu pembeli. Roti di kedai itu dibuat dadakan, ada roti isi kacang, keju, coklat, stroberi, nanas, atau campuran kacang-keju, keju-coklat, keju-stroberi, dll. Keahlian dari pembuat rotinya, membuat roti di kedai itu memiliki cita rasa tersendiri.

Suatu kali Ihsan melewati kedai itu dan melihat banner besar yang terpasang diluar kedai. Banner itu bertulisakan menu beserta harganya. Yang paling murah adalah roti kacang dan roti coklat seharga 18.000. Harga itu terlalu mahal bagi Ihsan yang setiap harinya hanya mendapatkan uang saku seribu rupiah. Itupun biasanya ia belikan makanan ringan di sekolah untuk mengganjal perutnya sebagai ganti sarapan. Jika ingin membeli roti itu Ihsan harus menabung selama 18 hari, dengan resiko perut kosong sampai jam pulang sekolah.

Pernah juga Ihsan berniat merengek kepada orang tuanya agar dibelikan roti kacang itu, namun niat itu ia kubur dalam-dalam setelah beberapa kali mendengar orang tuanya bertengkar karena kesulitan biaya hidup. Kakaknya yang kelas 2 SMA itu saja harus kerja sambilan demi membiayai sekolah. Pemerintah hanya menggratiskan biaya sekolah sampai SMP. Untungnya Ihsan masih kelas 5 SD.

Ayahnya yang hanya tukang ojek, serta Ibunya yang kerja serabutan, membuat Ihsan tak terlalu banyak meminta. Hanya kakaknya yang sedikit mengerti keinginannya. Meski sang kakak juga tidak bisa berbuat banyak. “Roti disitu sepertinya enak ya kak,” ucap Ihsan ketika melewati kedai rindu roti bersama kakaknya. Kakaknya tersenyum sambil menjanjikan untuk membelikannya suatu ketika, entah kapan. Kakaknya hanya pernah membelikan roti sisir, dan itulah roti termewah yang selama ini pernah dirasakan Ihsan. Kalau roti sisir yang harganya dua ribuan saja sudah seenak ini, bagaimana roti kacang itu ya? Bathin Ihsan.

Tiap sore sepulang mengaji dari TPA, Ihsan selalu melewati kedai itu. Biasanya Ihsan berhenti sejenak untuk mencium bau harum roti yang baru diambil dari pemanggangan, juga melirik dari kejauhan bagaimana pembuat roti dengan lihai memainkan tangannya untuk menaburkan kacang-kacang, atau menuangkan coklat diatas roti sebelum dipanggang. Dia kemudian bercita-cita menjadi pembuat roti, agar bisa makan roti sepuasnya.

Karena keinginannnya mencicipi roti itu makin membuncah, Ihsan kemudian menabung. Setiap hari ia masukkan uang sakunya kedalam celengan botol bekas minuman. Ia rela tidak membeli jajan sebagai ganti sarapan. Sebagai gantinya ia selalu membawa sebotol minuman untuk mengisi perutnya yang kosong, kadang juga kakaknya membuatkan teh manis. Ia harus melakukan itu selama 18 hari agar bisa membeli roti kacang dambaannya.

Setelah 18 hari, ia kemudian membuka celengan itu dan menghitung uangnya. Pas sesuai perkiraan. Ihsan sangat girang melihat 18 lembar seribuan yang ada ditangannya. Nanti sore sepulang ngaji, ia akan membeli roti kacang. Tapi ia harus memastikan bahwa orang tuanya tidak tahu, karena ia bisa kena marah. Orang tuanya pasti tidak setuju jika uang itu digunakan untuk membeli roti. Lebih baik dibelikan beras, karena beras lebih pokok dari roti.

Sepulang ngaji, Ihsan bergegas pulang. Ia berjalan memutar dari jalan biasanya agar tak ketahuan jika akan ke kedai roti itu. Sesampainya di kedai roti, Ihsan menyodorkan 18 lembar seribuan sambil menunjuk gambar roti kacang yang tertera di banner menu. Disana sudah ada empat orang yang mengantri. Pembuatan satu roti diperkirakan membutuhkan waktu 10 menitan. Ihsan menunggu di kursi panjang yang tersedia untuk para pembeli.

Setengah jam kemudian rotinya siap dibungkus rapi dalam kotak khusus bergambarkan logo dan menu-menu dari kedai rindu roti. Kotak itu dibungkus pada sebuah plastik dan disodorkannya kepada Ihsan. “Terima kasih, selamat menikmati rotinya,” kata kasir kedai roti. Ihsan tersenyum sumringah dan berjalan keluar, ia duduk di teras toko yang bersebelahan dengan kedai roti. Ia harus makan rotinya disini agar tidak ketahuan di rumah.

Dengan perasaan bahagia Ihsan membuka kotak roti itu, bau harum langsung menguar, menusuk hidung dan menggoda lambungnya yang sudah sangat lama ingin menikmati roti itu. Roti kacang itu bentuknya kotak, daging rotinya bewarna ungu lembut, bagian atas dan bawahnya tercetak bulatan hitam bekas pemanggangan yang semakin menambah gairah untuk menikmatinya. Di tengahnya bertabur kacang yang mewah, beserta mertega dan susu yang melekatkannya. Untuk bisa mendapatkan roti ini, Ihsan harus menunggu selama 18 hari, dan rela tidak sarapan selama itu pula. Meskipun hanya sarapan dua buah gorengan atau empat tusuk sempol.

Belum sempat ia menikmati roti itu, didepannya ada anak kecil dengan pakaian lusuh yang merengek sambil menunjuk-nunjuk bungkusan roti Ihsan. “Aku pengen itu,, pengen itu,,,” teriak anak itu sambil berderai air mata. Ibunya mencoba menggeretnya untuk pergi, tapi anak itu malah berguling-guling di tanah.

“Emak ndak punya duit, sudah ayo pulang,” teriak Ibunya sambil setengah menyeret anaknya. Namun tangis anak kecil itu kian menjadi. Ibunya menaruh karung besar yang berisi rongsokan, lalu menggendong paksa anaknya, namun si anak terus melawan, sampai Ibunya mencubit kasar lengan anak kecil itu. Tangisnya makin menjadi-jadi, namun Ibu itu malah lebih kasar lagi mencubit anaknya, bahkan sekali menarik paksa baju anaknya hingga terjungkal.

Fenomena itu menjadi tontonan orang sekitar. Ihsan menutup kotak rotinya, menalinya lagi dengan pembungkus plastik dan berlari ke arah Ibu dan Anak itu. “Ini untuk kamu saja, sudah jangan nangis ya,” ucap Ihsan sambil menyodorkan rotinya. Sambil terisak anak itu menerimanya.

“Sudah ayo pulang,” ajak Ibu itu sambil menarik paksa tangan anaknya, tanpa sedikitpun mengucapkan terima kasih kepada Ihsan.

Setelah mereka berdua menjauh, Ihsan kemudian berjalan mendekati kedai roti itu. Antrian bertambah banyak, sementara bau harum roti makin menguar, menusuk hidung dan lambungnya. Beberapa kali Ihsan menelan ludah. Tapi ia tak bisa lagi membeli. Disakunya tak ada sepeserpun uang. Sementara waktu mendekati magrib. Ihsan pun memutuskan untuk pulang ke rumah dengan langkah gontai.

Ihsan terduduk lesu di kursi dekat dapur, kakak dan Ibunya menyiapkan makan malam di meja. “Kamu kenapa kok lesu?” tanya kakaknya sambil menghidangkan ikan asin di meja. Bau ikan asin itu cukup menggugah selera makan Ihsan. “Tadi bapak pulang bawa ikan asin, nanti setelah shalat magrib kita makan bersama,” lanjut kakaknya.

Lauk ikan asin termasuk lauk spesial bagi keluarga Ihsan. Tidak mesti sebulan sekali mereka makan ikan asin. Paling sering lauknya tahu goreng, atau hanya kerupuk. Makan malam ini termasuk yang spesial bagi Ihsan dan keluarganya. Mereka berempat duduk di meja makan kecil, meja makan yang sekaligus meja untuk menyajikan hidangan makanan dan menaruh peralatan makan. Sebelum makan mereka berdoa bersama.

Di meja sudah ada nasi, sepiring ikan asin, sambel tomat dan sayur daun ketela yang direbus empuk sebagai pelengkap. Ihsan dengan lahap menikmati makanannya, begitupun dengan kakak dan kedua orang tuanya. Ikan asin termasuk makanan favorit Ihsan. Selain sebagai menu khusus keluarganya, ikan asin harganya juga murah. Lebih murah dari harga roti kacang yang selalu didambakan Ihsan.

Ihsan sendiri tak habis pikir kenapa begitu saja memberikan roti kacangnya kepada anak pemulung tadi, itu sama halnya memberikan 18 kali uang sakunya. Ihsan hanya kasian dengan anak itu, tanpa berfikir bahwa ia sendiri juga patut dikasihani. Namun makan malam ini terasa begitu nikmat bagi Ihsan. Apa karena lauknya? Mungkin bukan. Karena Ihsan memakannya bersama keluarga, orang yang ia sayangi. Ihsan pun tersenyum sembari membayangkan roti kacang yang nyaris landas di lidahnya. []

Blitar, 03 November 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar