loading...

Jumat, 11 November 2016

Memproduksi Stigma





Belakangan ini emosi saya entah kenapa naik-turun, naiknya lebih drastis dari biasanya. Kata orang, gejolak jiwa muda. Tapi sejak anak-anak hingga remaja-dewasa awal, saya bukan tipe yang emosional, dan susah untuk marah-marah. Meskipun itu dibuat-buat semisal untuk kepentingan Diklat. Sejak aktif di Ekskul kala SMA atau ketika kuliah, saya selalu berembuk dengan panitia lain pas sesi pemantapan atau JJM (Jalan-jalan malam). Saya selalu minta agar menjadi tokoh protagonis. Tokoh baik hati bak malaikat pelindung.

Tapi waktu Diklat Ekskul Jurnalistik tahun 2008, saya dipaksa oleh panitia lain dan alumni untuk jadi sosok yang antagonis nan sadis, itu karena saya adalah Ketua Ekskul kala itu. “Kalau kamu tidak mau, nanti kamu kehilangan wibawa,” kata salah satu senior. Akhirnya saya tampil dengan sangat terpaksa menjadi sosok judes bin sadis. Saya membentak, marah-marah, sampai ada beberapa peserta diklat perempuan yang pingsan. Entah pingsan karena ke-ngeri-an saya, atau memang karena kelelahan.

Setelah itu saya kapok. Dalam diklat berikut-berikutnya saya diundang tapi benar-benar menolak berada di posisi tersebut. Bukan style saya. Karena sepertinya saya memang didesain Tuhan untuk menjadi sosok yang kalem, dan kurang meyakinkan jika harus bentak-bentak dan memasang muka sangar.

Tapi dari segi emosi, sebenarnya ada fluktuasi yang tajam. Cuma berbeda penyampaian. Over sensitif, dan mudah kecewa. Jika marah, saya lebih banyak diam. Entah anda percaya atau tidak, saya (merasa) belajar diam sejak dari Taman Kanak-kanak. Orang Tua saya lah yang paling tahu kalau sebenarnya saya pemarah. Kalau sudah tak terkontrol, melemparkan gelas dan piring kesegala arah itu menjadi hal wajar. Dalam rumah, saya seolah mengidap psikosomatik.

Tapi saya merasa beruntung, entah bagaimana awalnya hingga saya bisa menganalisa diri saya sendiri, sehingga saya tahu point penting kenapa saya menjadi sosok yang berbeda dalam dua ruang (ruang pribadi dan sosial), karena saya terlalu lama memendam dan memendam. Sejak TK hingga Tsanawiyah ada konotasi buruk yang melekat dan saya yakini sebagai sesuatu yang sebenarnya sangat tidak saya inginkan. Terlalu sering saya dibanding-bandingkan, ditunjukkan pada sesuatu hal yang ideal yang sama sekali tidak ada dalam diri saya. Bagi saya itu menyakitkan. Sungguh menyakitkan.

Bahwa lelaki harus begini.. harus pintar seperti dia.. coba contoh dia yang seperti itu.. dll perbandingan yang tidak saja dari Orang Tua, namun juga dari guru-guru dan lingkungan. Saya lahir sebagai sosok yang super inferior, rendah diri, dan sulit bersosialisasi. Lebih dari sembilan tahun serasa hidup dalam stigma ideal yang saya tak memilikinya. Pedih sekali. Sampai akhirnya rasa benci itu, benci pada stigma, idealitas, dan macamnya.

Setelah saya telusuri kini, ternyata saya tak benar-benar benci. Tapi kecewa yang berlebih. Karena idealitas tersebut, segala hal yang saya lakukan seperti tak ada arti. Saya ingin meraih sesuatu yang diidealkan tersebut, tapi tidak pernah bisa. Contohnya, menjadi Juara Kelas. Saya tidak pernah sekalipun menjadi juara kelas. Usaha paling maksimal saya lakukan kelas 6 SD. Giat belajar dari pagi sampai sore, diikutkan les tambahan, dll. Itupun hanya sampai pada peringkat 4 Dari 20 siswa. Sebenarnya itu masih lebih baik, karena sebelumnya saya peringkat 11. Padahal peringkat maksimalnya adalah 14. Ada tiga anak yang mendapat peringkat 11 kala itu. saya peringkat 11 yang pertama, ditulisnya 11,1.

Setelah itu, ketika Tsanawiyah sampai Aliyah, keinginan menjadi juara kelas hanya ilusi tersendiri. Bisa naik kelas atau lulus saja sudah bersyukur. Sekalinya menjadi juara kelas, itu ketika Madrasah Diniyah (Madin). Saya tidak pernah lepas dari 3 besar. Kalau tidak juara 2 ya 3, tidak pernah juara 1. Sejak kecil kelebihan saya memang dibidang Agama. Makanya saya sering diikutkan lomba-lomba keagamaan mewakili sekolah. Tapi menjadi juara di Madin tersebut tidak dianggap lebih membanggakan, dibandingkan juara di Sekolah. Jadi, meski saya langganan juara di Madin, itu hampir tidak ada effect. Orang tua pun menganggapnya biasa.

Disitu rasa kecewa menumpuk. Kecewa dengan perlakukan keluarga dan lingkungan, serta kecewa dengan diri sendiri yang tak pernah mempersembahkan sesuatu yang ideal.

***
Saat menyimak draft rancangan Kurikulum 2013, saya benar-benar terkesima. Dalam bathin saya, kenapa tidak sejak dulu saja diterapkan? Sejak zaman saya. Karena dalam K13, tidak ada stigma tunggal, bahwa anak pintar itu harus pintar matematik atau IPA. Tidak! Tidak ada penilaian ideal. Bahkan nilai-nya bukan dalam bentuk angka, tapi bentuk narasi.

Saya menyimak betul draft tersebut karena harus menjadi moderator Seminar K13 di MIN 1 Malang dengan pemateri Dr. Sugeng Listyo Prabowo, M.Pd. Tapi dalam penerapannya ternyata tidak mudah. Banyak Guru kudet (kurang update) yang tidak mau terbuka dengan perubahan zaman. Perubahan kurikulum dan materi. Banyak yang masih suka judge arti pintar/cerdas dalam stigma tunggal. Bahwa seni dan olahraga masih dianggap sebagai tambahan yang tidak penting dibandingkan Matematika dll.

Dalam hal ini, kadang tanggapan saya benar-benar tidak terkontrol. Emosi meledak. Saya membuat tulisan dengan sangat tajam, yang membuat ubun-ubun mendidih ketika membacanya. Tapi ternyata saya tidak sendiri. Saya bertemu dengan teman-teman yang nyaris memiliki kesamaan. “Dulu waktu kecil saya dibandingkan dengan anak yang selalu dapat juara kelas, karena saya tidak terima, saya menghajar anak itu. Agar orang tau kalau saya lebih unggul dari dia,” ujar teman saya.

Apa yang dialami teman saya tentu levelnya berbeda. Saya tidak sampai bermain fisik. Bahkan, meski ada kemungkinan menang. Saat dulu ada adik kelas yang meledek.Saya diam saja. Padahal dia pendek, kecil, dan kurus. cuman kemlinti sekali. Mirip ayam kate, kecil tapi sok.

Tapi ada satu tontonan yang benar-benar menghujam pikiran saya. Saat nonton Serial Naruto. Ketika Guru Jiraiya merawat tiga anak korban perang yang mengenaskan, kemudian mengajari mereka jurus-jurus. Tiga anak itu sempat mau dibunuh oleh teman Jiraiya, karena kalau besar mereka pasti akan balas dendam. Tapi Guru Jiraiya mencegahnya.

Sambil terus mendidik tiga anak itu, Jiraiya menjelaskan : Bahwa perang itu menimbulkan penderitaan. Makanya orang ingin balas dendam. Tapi ada yang memilih untuk tidak membalas dendam, karena ia tak ingin orang lain merasakan penderitaan yang pernah ia rasakan.

Sejak itu saya sadar untuk tidak melakukan hal yang sama. Misal, saya tidak pernah memanggil orang dengan julukan yang buruk. Kadang memang diplesetkan dari nama aslinya. Misal, Febri dipanggil kepet. Padahal itu artinya jelek sekali. Saya tahu tidak semua orang mau dengan julukan tersebut. Saya tidak mungkin terus-terusan kecewa dengan masa lalu. Orang Tua saya yang nyaris tidak pernah menganggap usaha saya sebagai hal yang ideal, saya anggap saja sebagai pelajaran agar tidak pernah membanggakan diri sendiri.

Saya memilih serius menekuni dunia menulis, karena saya tidak ingin menempatkan diatas atau dibawah. Dengan menulis saya mencurahkan segala hal yang awalnya hanya bisa saya pendam, dengan menulis saya belajar mengartikan apa yang saya lihat dan rasakan.Saya tidak mau lagi membandingkan diri saya dengan orang lain, atau membandingkan orang lain dengan yang lainnya. Sudah lelah.

Saya tidak mau memproduksi stigma, meremehkan atau menertawakan impian dan kerja keras orang. Karena saya tahu betapa pedihnya ditertawakan atas apa yang kita impikan dan berniat kita wujudkan. Bahkan, kalaupun impian itu terlampau utopis, kadang saya hanya mengangguk sambil berdoa semoga impian itu kelak terwujud, meski tidak sebagaimana aslinya, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih tepat.

Blitar, 11 November 2016
A Fahrizal Aziz


My Plukme

My Plukme
Klik gambar