loading...

Senin, 07 November 2016

Membela Islam secara Ideal?




Arti membela Islam bagi tiap orang memang berbeda. Kita tidak boleh menyalahkan bagaimana metodenya, atau menganggap metode kita yang paling baik. Semuanya saling mengisi. Perihal apakah akhirnya menimbulkan konflik, kita bisa menimang nimang sendiri dengan logika yang jernih.
 
foto, jepretan pribadi
***
Beberapa hari ini saya membaca buku-buku tentang Blitar (sejarah dan karakteristiknya) karena ada proyek menulis buku dengan teman-teman Paguyuban Srengenge. Selain Kerajaan Kadiri dan PETA, bagian Blitar yang menarik lainnya adalah ketika terjadi G30SPKI tahun 65. Dalam buku kisah hidupnya Pak Sis (HM. Siswojo, Mengikat Tanpa Tali) yang ditulis oleh Pak Husnun N Djuraid, pada halaman 21 dijelaskan ada salah satu tokoh PKI “sakti” di Blitar selatan yang dijuluki Brondol. Yang tak mempan ditembak.

Konon daerah Blitar selatan memang menjadi sarang PKI, apalagi pernah terdengar isu bahwa pimpinan tertinggi PKI Jatim mengungsi ke Blitar selatan. Daerah itu dipilih karena karakteristik masyarakatnya yang masih abangan. Sementara counter terkuat PKI kala itu adalah kaum santri, termasuk Masyumi. Jadi bisa disimpulkan bahwa Blitar selatan menjadi “kawasan merah” mereka.

Tapi belakangan, daerah Blitar selatan sudah berganti warna. Kata Khabib M. Ajiwidodo, yang juga penikmat buku sejarah, kawasan merah yang sudah menjadi ijo atau bercampur dengan ijo. Ijo (hijau) disini merujuk pada NU. Artinya masih ada tradisi lawas seperti larung sesaji, kirim leluhur, dll tapi sudah terisi juga dengan kegiatan ritual kegamaan seperti Yasinan, Khataman Qur’an, Pengajian, dll.

Pernah suatu ketika Ibu saya dandan rapi dengan seragam Muslimatnya, mau menghadiri pengajian yang diisi oleh Khofifah Indar Parawangsa. Lokasinya di Blitar selatan, sumberjo. Bisa dibayangkan betapa ramainya kalau yang datang sekelas Khofifah. Sekitar tahun 2002 juga, saya diwisuda dari TPA. Wisudanya jadi satu dengan TPA lain seluruh Kecamatan, yang dikoordinir oleh Muslimat-Fatayat NU. Lokasinya di Blitar Selatan, di Kebonsari, diatas gunung. Bahkan beberapa kali topi wisudawan tertiup angin saat prosesi wisuda oleh Dewan Kyai.

Baru belakangan saya sadar dengan itu semua, kenapa kegiatan keagamaan yang besar dan momentual dulu itu dialihkan ke Blitar selatan, padahal jalannya masih susah dilalui. Mungkin untuk memeriahkan kegiatan Islam di kawasan merah tersebut. Sekarang terbukti, Blitar selatan tidak bisa lagi diidentikkan dengan PKI. NU mencoba masuk secara perlahan-lahan, dengan jalan kultural. Termasuk saya menyadari juga dengan sistem TPA/TPQ integratif (ini istilah saya sendiri). Sehingga anak-anak seperti saya tetap bisa belajar agama tanpa harus mondok, tetap bisa merasakan meriahnya diwisuda dan bertemu dengan banyak santri dari berbagai desa/dusun yang tidak saling kenal sebelumnya.

Dari cara Dakwah itu, betapa banyak manfaat yang dipetik. Betapa banyak yang akhirnya mengerti agama dan terhindar dari sifat buruk, berapa banyak yang akhirnya bisa membaca Al Qur’an dan memetik makna-makna dari kitab suci yang agung tersebut? Tentu tidak ternilai. Inilah jalan kultural NU, jalan yang konon juga dilakukan oleh para wali songo. Apakah yang seperti ini tidak disebut membela agama? Tentu membela, dengan pembelaan yang membumi. Mereka yakin akan agamanya, maka ia bela agama itu dalam bentuk program. Tidak saja membela tapi menjaga dan menyebarkannya.

Kalau terkait aksi 4 November kemarin banyak tokoh NU, termasuk Kyainya kurang begitu antusias, itu karena sejak lama NU sudah memiliki jalur dakwahnya tersendiri. Seperti halnya pengacara yang membela klien-nya di persidangan, adalah berupaya menyakinkan hakim bahwa tuntutan mereka harus dijalankan. Di Blitar selatan dan mungkin di daerah lain, banyak warga NU berfikir bahwa Islam lebih benar dari abangan, dan berupaya menyakinkan orang dengan berbagai pendekatkan.

Pointnya. Membela itu sama seperti menyakinkan orang agar menerima.

Juga dalam sebuah buku (sayang saya lupa judul dan penulisnya) pernah suatu ketika KH. Ahmad Dahlan mau menggerakkan pengikutnya untuk mengkonfrontir Belanda. Tapi niat itu dicegah oleh Sultan HB. Bahkan saya sendiri, ketika membaca sejarah terdahulu, sempat tidak habis fikir kenapa daerah Mataraman dibawah kepemimpinan Mataram Islam mau bersekutu dengan Belanda. Padahal di daerah lain, terutama di Aceh, terjadi pergolakan fisik yang sengit, terjadi perang.

Tapi lambat laun kita menyadari betapa sebenarnya Sultan HB begitu visioner kala itu. Melihat belum bersatunya Indonesia menjadi sebuah bangsa, maka perlawanan secara fisik akan sia-sia. Meski Aceh takluk oleh Belanda justru bukan karena kalah perang, tapi karena politik adu domba.

Dalam buku berjudul “Bukan 350 tahun dijajah” karya G.J Resink yang diterbitkan Komunitas Bambu, yang diterjemahkan dari judul aslinya “Indonesian History Between the myths ; Essay in legal history and Historical Theory” kita menyadari bahwa kita tidak –sebagaimana yang kita kunyah dalam buku sejarah selama ini—dijajah 350 tahun, tapi selama 350 tahun itulah Belanda mencoba menaklukkan kita.

Dari kesadaran itupula KH. Ahmad Dahlan tidak melakukan perlawanan fisik kepada penjajah sebagaimana tokoh-tokoh di daerah lain semisal Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dll. Tapi melakukan jalur sosial-institusional. Mendirikan sekolahan dan balai pengobatan, sampai akhirnya mendirikan Muhammadiyah sebagai wadah besarnya. Perjuangan tokoh-tokoh Islam tersebut digerakkan oleh semangat jihad. Sebagaimana ajaran Islam yang melarang penindasan terhadap kaum yang lemah (mustad’afin).

Itulah cara-cara mengaplikasikan bela Islam. Islam dimenangkan sebagai instrument kehidupan. Semua soal cara, konteks, dan wilayahnya. Kalau toh FPI memilih jalur represif seperti sweeping atau demo, ya itu cara mereka. Anda boleh ikut, boleh tidak. Ada yang memilih tidak ikut, karena mereka mengilhami cara yang berbeda. Tapi jangan dikira mereka tidak membela Islam. Apalagi sampai menyebut munafik. Itu benar-benar out of control.

Kalau toh Ahok akhirnya tidak dihukum karena ternyata hakim tidak mengatakan dia bersalah, ya legowo saja. Karena inilah pengadilan dunia. Mungkin ada pengadilan di akhirat kelak, dan itu sama sekali diluar kekuasaan kita. []

Blitar, 7 November 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar