loading...

Sabtu, 26 November 2016

Me (Jadi) Penulis





Agak susah payah saya mengondisikan diri agar memahami apa yang disampaikan bapak pensiunan tentara ini. Kami satu kereta menuju Surabaya. Bapak itu rencana turun di Sidoarjo untuk menjenguk anaknya. Sementara saya akan turun di Malang. Sepanjang perjalanan dari Blitar-Malang, kami terlibat perbincangan. Bapak itu juga menceritakan pengalamanya berenang dari Surabaya-Madura, entah karena tugas atau apa, saya sudah lupa. Meski usianya sudah masuk kepala 6, namun bapak itu nampak masih bugar, khas prajurit yang terlatih secara fisik.

Sejak awal kuliah pada pertengahan 2009, sampai pertengahan 2012, saya sering naik kereta api ketika pulang kampung. Kala itu kereta masih menjadi “kombong besar”, penumpang berjejalan. Nomor-nomor kursi pada tiket tak ada gunanya. Pedagang asongan, pengamen, pengemis, pemungut sampah, semuanya tumpah jadi satu. Suasana membludak biasanya minggu sore, bahkan sampai ada yang berdiri di bibir pintu. Saya pernah beberapa kali pada posisi tersebut.

Suasana itu berubah ketika Dahlan Iskan diangkat menjadi Menteri BUMN, dan kemudian memilih Ignatius Jonan sebagai Dirut PT. KAI. Sampai sekarang, suasana Kereta Api menjadi lebih tertata. Meski resikonya, agak susah mendapatkan tiket. Sering kehabisan.

Yang menarik ketika berada dalam kereta api, kadang kita duduk dengan orang-orang yang baru kita kenal, dari berbagai latar belakang. Banyak dialog-dialog yang terjadi, bahkan pada tema yang menurut kita sama sekali tidak menarik. Seperti bapak pensiunan tentara yang menceritakan banyak hal seputar dunia keprajuritan, pangkat demi pangkat yang disebutkan, dll. Dunia militer adalah dunia yang bertolak belakang dengan dunia saya. Dunia yang serba instruktif. Tapi saya ingat bahwa dalam proses belajar menjadi penulis, Sebisa mungkin saya membuka fikiran atas tiap dialog.

Juga, ketika ada seorang bapak yang tiba-tiba mengajak bertemu di suatu tempat. Pertemuan berlangsung di salah satu warung makan. Ternyata bapak itu promosi salah satu MLM. Saya mendengarkan dengan seksama, sekaligus ingin tahu bisnis macam itu. “Aa Gym juga gabung, ini dia sudah pada level ini,” jelasnya dengan menyakinkan.

Seingat saya itu tidak sekali. Pernah ada teman yang datang ke kontrakan, menjelaskan tentang bisnis serupa namun berbeda brand. “Sudah jual saja laptop kamu untuk investasi, gak ada 3 bulan sudah balik beberapa kali lipat,” katanya. Kaum marketing memang dilatih untuk menyakinkan orang. Tapi dia tidak tahu betapa saya berjuang untuk membeli laptop itu, dan sudah terbeli, suruh jual lagi. Sementara, saya tipe orang yang tidak suka jual menjual. Jika membeli barang, biasanya digunakan sampai rusak.

Salah satu dialog paling emosional terjadi pertengahan tahun 2013, dengan seorang yang mengakui gay, dan mengidap HIV/Aids level awal. Pernah drop dan opname. Dari situlah keluarganya tahu orientasi seksualnya selama ini. Sampai dia kemudian pulih dan harus disiplin obat, karena HIV/Aids sebenarnya tidak terlalu berdampak jika tubuh tetap sehat, cuman yang diserang habis adalah antibodi. Sehingga ketika terserang virus, tubuhnya tidak mampu melawan. Termasuk virus kecil seperti flu. Masalahnya, sampai kapan manusia bisa benar-benar kebal dari virus?

Saat itu ia bercerita bagaimana respon keluarganya, hingga ia merasa hancur. Hancur secara psikologis maupun sosial. Ia harus menjalani kehidupan baru (pasca mengidap HIV/Aids) dengan steril. Karena virus sekecil apapun bisa mengancam nyawanya. Dia bisa mati hanya karena terserang flu musiman. Ngeri. Jadi anda bayangkan, hidupnya diliputi kecemasan yang akut. Obat yang ia konsumsi hanya penunda sejenak. Hidupnya benar-benar dipertaruhkan oleh keadaan.

Saya mendengarkan itu dengan seksama, dengan sedikit menjauhkan rasa jijik yang selama ini muncul, juga sedikit menjauhkan keinginan untuk menghakiminya atas dasar dalil agama. Toh tak ada gunanya juga. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana ia bisa menjalani hidup barunya dengan lebih bersih.

Termasuk, ketika dulu mendapatkan tugas wawancara dengan salah satu pengurus Ikatan waria, yang tentu saja juga seorang waria. “wah, saya tidak bisa, tapi saya akan menemani,” ucap saya kepada salah satu reporter perempuan. Jujur, saya agak ngeri dengan waria, tapi harus menulis wawancara dengan seorang waria.

Wawancara berlangsung di salah satu rumah sakit Islam, kebetulan organisasinya sedang mengadakan tes vct, tes yang khusus mendiagnosis apakah seseorang mengidap HIV/Aids atau tidak. Sebelum wawancara kami harus ikut tes dulu. Alhamdulilah hasilnya negatif. Bahkan mendapatkan bonus alat kontrasepsi. Katanya, ini (alat kontrasepsi) harus digunakan agar terhindar dari penyakit. Kami tertawa. Waria yang kami wawancara ternyata masuk golongan “intelek”.

“Saya kalau di rumah ya cowok,” ucapnya sambil melambai. Saya yang hanya duduk mencatat, seringkali menahan tawa, meski kerap tidak berhasil. Namun akhirnya saya berhasil mendengarkan sampai akhir dan menulis wawancara tersebut.

Lambat laun saya menyadari bagaimana kita harus memasang sikap sebagai penulis. Sikap mendengarkan, menyerap sepenuh hati, serta melihat dari berbagai sisi. Menjadi obyektif itu memang tidak mudah, dan cenderung mustahil. []

Blitar, 26 November 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar