loading...

Selasa, 15 November 2016

Identitas Kenangan dari Bau Parfum





Orang yang duduk disamping menguarkan bau wangi yang tak asing. Seingat saya, itu di dalam kereta api selepas subuh dalam perjalanan menuju Malang. Bau parfumnya mengingatkan saya dengan teman sebangku ketika Aliyah. Sayangnya, saya tidak sempat menanyakan merk parfum itu. Kalau tak salah, dulu teman saya bilang itu parfum non alkohol. Bau parfum itu seolah menggali kembali ingatan saya tentang teman saya tersebut, mungkin karena duduknya sebangku, sehingga sampai hafal bau parfumnya.

Hal yang sama juga pernah terjadi ketika saya tinggal di asrama. Kala itu, karena sebuah urusan, saya masuk kamar Mahasantri lain. Salah satu dari mereka sedang bersiap kuliah, dan menyemprotkan parfum ke bajunya. Bau itu langsung mengingatkan saya pada kegiatan ziarah wali waktu kelas 9 Tsanawiyah. Saya tahu betul merk-nya. Cassablanca Gold. Parfum merk itu saya bawa dalam tas ketika ziarah wali.

Kadang bau wangi mengingatkan kita tentang seseorang, atau pada moment tertentu. Apa hanya saya yang merasakan hal itu, atau memang ada fakta ilmiahnya. Ternyata memang ada penjelasannya secara psikologis.
 
Ilustrasi
Hal itu karena indra penciuman berdekatan dengan sistem limbik otak. Kata Psikolog klinis, Tara De Thouars, sistem limbik otak adalah tempat mengolah memori dan emosi. Bahkan bagi yang mengerti ini, mereka akan sengaja menciptakan identitas dari parfum yang dipakai, agar wangi parfum tersebut identik dengan tubuhnya. Perilaku semacam itu disebut dengan signature scent ; menciptakan ciri khas dirinya dari bau parfum tertentu.

Namun saya bukan orang yang selalu menggunakan parfum dalam jenis atau merk yang sama. Parfum yang saya pakai selalu berganti-ganti. Mulai dari Master Cologne, Cassablanca, Gatsby, Axe black, sampai parfum non alkohol. Namun tiap kali menghirup aroma parfum tersebut, ingatan akan moment itu selalu muncul.

Bahkan, dalam kadar psikologis tertentu, parfum bisa mempengaruhi mood dan semangat seseorang. Parfum atau wewangian bahkan bisa menjadi media terapi tersendiri. Ada sebagian yang menggunakannya sebelum ujian sekolah, ada yang memasangnya sebagai pengharum ruangan untuk mencipta relaksasi. Apalagi, beberapa parfum atau wewangian yang mengingatkan pada suatu moment yang sangat menyenangkan.

Namun saya juga tidak tahu seberapa lama kondisi itu bisa bertahan. Karena aroma yang terbiasa kita hirup, akhirnya juga akan menjadi biasa. Justru kenangan itu akan muncul jika ada jeda. Misal ketika dulu masih menggunakan parfum merk tertentu, kita tidak pernah menganggapnya spesial. Baru setelah kita tinggalkan, atau setelah lama tidak kita dapati bau-nya, dan kemudian muncul, disanalah otak akan meresponnya. Baik parfum itu mengingatkan kita pada kondisi maupun seseorang.

Bagi saya sendiri, bau parfum-parfum tersebut seolah menjadi penanda moment. Entah parfum yang saya gunakan sendiri, atau digunakan orang lain dan kala itu kami terlibat interaksi yang lama, bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau tahunan. Parfum tersebut seolah menciptakan identitasnya tersendiri, identitas atas waktu dan suasana. []

Blitar, 15 November 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar