loading...

Senin, 24 Oktober 2016

Rumah Bagi Para Penikmat Buku (3)



Ada pesan dalam inbox facebook malam itu, selepas bercengkrama dengan para penghuni sosial media di group-group komunitas. “Mas tau dimana beli buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer?” tulis pengirim pesan, yang juga salah satu kader IMM dari komisariat kampus sebelah.

Kemarin saya sempat lihat novel Pram berjudul ‘rumah kaca’ di pasar buku Wilis. Tapi sepertinya itu bukan buku original. Novel-novel Pram sebelumnya saya tahu sekilas di Perpustakaan. Hanya ‘Bumi Manusia’ yang pernah saya baca sampai ujung. Padahal itu tetralogi. Masih ada empat lain yang belum terbaca.

Di toko-toko buku, novel Pram belum dicetak ulang. Tapi beredar luas di lapak-lapak online. Ada group khusus di facebook yang menjual buku-buku Pram. Harganya melangit. Tapi tak sedikit yang memburunya. Bahkan sampai menang-menangan tawar. Bukan menawar yang lebih rendah, tapi lebih tinggi. Lebih tepatnya lelang. Versi bajakannya lebih banyak lagi. Namun versi bajakan tidak pernah menarik minat kolektor buku sejati.

Pram memang fenomenal, terlepas dari kontroversi semasa hidupnya. Saat pertama memegang ‘bumi manusia’, yang pertama saya baca adalah biografi di halaman belakang. Novel itu telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia, sampai masuk nominasi nobel sastra. Tentu karya itu pasti bagus, dilihat dari sisi apapun.

Saya kemudian merekomendasikan lapak online tersebut ke pengirim inbox itu. Entah dia jadi membeli atau tidak. Tapi perbincangan kami soal sastra bermula waktu ada workshop kepenulisan PC IMM Malang di Batu akhir tahun 2014 silam. Saya baru saja membeli novel berjudul “Gelombang” karya Dee Lestari yang bulan itu sedang hangat-hangatnya. Novel itu adalah seri kelima dari Supernova yang juga tak kalah fenomenal. Ternyata ia juga seorang penikmat karya sastra, meski tidak kuliah jurusan sastra.

Di kantor PSIF UMM, Mas Hasnan sering bercerita soal sastra. Termasuk novel berjudul ‘burung-burung manyar’ karya YB Mangunwijaya. Bacaan sastranya ternyata tak kalah dengan bacaan lain, tidak saja yang berbahasa Indonesia, tapi juga yang berbahasa Inggris. Mas Hasnan adalah magnet tersendiri bagi para penikmat buku di IMM. Kantor PSIF disulapnya menjadi forum diskusi berbagai disiplin ilmu, termasuk diskusi interaktif berbahasa Inggris.
diskusi dengan Hasnan di kantor PSIF. foto by Fajrin DKK : doc pribadi

Orang-orang yang haus baca keluar masuk PSIF untuk mereguk segarnya gagasan baru, yang sebenarnya tidak benar-benar baru. Beberapa juga menyebar ke komunitas-komunitas kecil, beberapa lagi merasa nyaman dengan iklim yang diciptakan di komisariat, yang setiap malamnya selalu rutin membicarakan gagasan. Bahkan yang malas membaca, tergerak untuk setidaknya membuka halaman daftar isinya.

Mereka yang tertarik membaca buku diluar disiplin ilmunya, apalagi buku-buku sastra, benar-benar meluangkan waktu. Disela kesibukan perkuliahan, tentu dengan seabrek tugas yang menyertainya, juga ditengah godaan super hedonis di Kota semi metro yang tak terbendung laju modernitasnya. Godaan lain berupa benda persegi panjang yang menyajikan informasi super cepat, yang membuat seseorang merasa tidak perlu membaca buku karena sudah tercukupi dengan membuka internet. Dunia bergerak sedemikian rupa.

Persis dengan apa yang disampaikan Bu Sirikit Syah, ketika saya mengikuti pelatihan menulisnya di Kota Batu pertengahan tahun 2009. Jurnalis senior itu memprediksi jika trend membaca akan bergerak ke digital. “Tapi jangan khawatir, penulis tetap dibutuhkan. Karena yang berganti hanya medianya,” ucapnya.

Disaat yang bersamaan isu global warming juga semakin gencar, karena semakin banyaknya pohon ditebang. Peralihan dari buku ke digital akan mengurangi penebangan pohon. Masalahnya, tidak semua orang betah berlama-lama di depan laptop, komputer dan gadget. Tradisi membaca buku akan makin terkikis, tradisi membaca yang ‘serius’ juga makin berkurang. Orang lebih suka membaca postingan singkat nan instan, yang tingkat akurasinya dipertanyakan.

Makin sedikit orang membaca, makin banyak mereka berkomentar. Makin sedikit orang tahu, makin mudah ia emosi dan terprovokasi. Disinilah kadang saya merenungi fungsi sentral dari komunitas, forum diskusi, atau kumpulan orang yang suka baca. Terkesan hanya memberikan efek individualis, tapi sebenarnya dampak sosialnya cukup besar.

Di basecamp-basecamp komunitas, di kontrakan, di komisariat, atau bahkan di rumah-rumah warga, jika buku-buku tersedia, penghuninya suka membaca, itu akan menjadi bagian penting dari kebudayaan kita. Perpustakaan tetap menjadi sumber buku-buku, tapi dimanapun, apalagi di rumah-rumah, akan menjadi tempat yang nyaman untuk membaca, sekaligus mungkin, mendiskusikannya. (*)

Blitar, 24 Oktober 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar