loading...

Kamis, 01 September 2016

Sebut Saja Aku Bajingan


Oleh A Fahrizal Aziz
Kata bajingan disini memang tidak perlu disensor, karena bajingan sebenarnya bukan kata kotor. Hanya sering dijadikan padanan untuk orang yang dinilai kotor. Bajingan sendiri dari kata Bajing. Bajing adalah jenis hewan. Sama dengan anjing, jangkrik, jaran, asu, dsj yang sering jadi padanan yang mewakili emosi seseorang.

Tulisan ini pun hanya sebagai tumpahan saya pribadi, hasil dari tidak singkronnya antara nalar pribadi dengan persepsi publik atas moralitas dan stigma.

Bahwa manusia kadang hanya dibagi dalam dua hal : baik dan buruk. Seolah hanya hitam dan putih. Padahal keduanya bukanlah warna. Keduanya adalah netralitas. Hitam selalu dikaitkan dengan keburukan. Padahal hitam adalah keabadian, gelap adalah keniscayaan. Hitam adalah sahabat kita setiap malam, kala lelap.

Begitu pun dengan putih. Stigma atasnya selalu positif. Padahal bisa jadi putih itu racun, yang menyusup dalam warna-warna, yang justru mengaburkan keindahan. Merusak yang bening.

Artinya, dalam hitam ada kebaikan, begitupun sebaliknya. Relativitas atas keduanya begitu kuat. Termasuk dalam perilaku dan sikap manusia. Stigma tidak selalu mewakili seluruh sisi manusia tersebut. Tidak semua bajingan itu seluruhnya jahat, begitupun sebaliknya. Saya pun juga punya sisi bajingan, yang terbungkus dalam kamuflase bernama moralitas.

Saya bukan hitam. Bukan pula putih. Tapi bisa keduanya, bisa juga tidak dua-duanya. Dalam otak saya, ada fikiran bengis, sundal, kotor. Tapi ada pula fikiran-fikiran baik. Keduanya dicerna oleh nalar, hingga kemudian kita memilih untuk menjalankan yang mana.

Orang yang menyebut diri bajingan, atau yang cara berpakaian dsb mempersonifikasikan diri dalam stigma itu, menemukan sebuah ke-cairan tersendiri. Meski kita tidak cocok dan tidak sependapat.

Hal sebaliknya, ketika publik punya persepsi atas orang bermoral, maka tak sedikit dari kita yang berusaha menjadi “produk stigma” tersebut. Ada sesuatu yang sebenarnya tidak tulus dengan cara kita berpakaian, atau bertutur. Kita melakukan itu hanya untuk memenuhi ekspektasi publik.

Apapun itu, pertanyaan atas “siapa saya”, selalu terkait dengan “dimana saya”. Kita berada disebuah kultur mayoritas yang anti disebut bajingan. Tapi berapa orang yang benar-benar tulus, kita pun juga tak tahu pasti. (*)

Blitar, 1 September 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar