loading...

Selasa, 23 Agustus 2016

Mempertajam Setting tempat dalam novel


Catatan fahrizal
Sebentar. Judul diatas bukan teori yang bisa anda kunyah langsung, melainkan juga bagian dari pembelajaran yang saya tekuni. Sebagai pemula yang ingin menghasilkan novel, sering kali saya kelimpungan mendeskripsikan tempat.Ketika menulis novel, bagi saya hal yang paling mudah adalah membuat dialog. Membuat setting paling susah. Apalagi setting tempat. Karena saya penganut “mahzab realism”, maka inginnya deskripsi tempatnya benar-benar real.
 
Misalkan settingnya di Jogja, ingin menuliskan detail : nama jalan, bentuk bangunan sekitarnya, aktivitas sepanjang jalan itu, jalan-jalan lain yang mungkin menghubungkan jalan itu, angkutan umum yang lewat, bla bla bla. Sehingga pembaca benar-benar merasakan sedang berada di tempat tersebut.

Masalahnya, bagaimana kalau kita tidak familiar dengan tempat itu. Misal juga begini, kita mengambil setting salah satu kota diluar negeri, sementara kita belum pernah kesana.
Kadang saya melatihnya dengan membuat sebuah catatan khusus “deskripsi setting”. Sebelumnya saya mencari sumber referensi dari ensiklopedia kota-kota di dunia. Memang sangat terbatas sekali penjelasannya, lebih banyak foto. Tapi dari foto-foto itulah kita belajar mendeskripsikannya.

Di era sekarang, lebih mudah lagi. Ada google map/earth. Kita bisa tahu nama jalan-jalan yang menghubungkan ke arah menara eifel di Paris misalnya, kita juga bisa mengintip belahan bumi lain hanya dari android.

Kadang pula, untuk melatihnya, saya menulis esai tiap kali baru singgah ke suatu tempat. Biar detail, saya catat nama jalan-jalan yang saya lewati, bangunan apa saja yang saya lewati, serta aktivitas sekitar jalanan tersebut. Misal singgah di sebuah Masjid pun, saya catat/hafal nama masjidnya.

Cara lain, agar mendapatkan banyak input tentang tempat-tempat menarik, saya membaca majalah national geographic. Disitu ada banyak foto-foto dari berbagai tempat didunia disertai deskripsi singkatnya.

Over all, agar bisa menulis setting yang menarik, kita harus punya sense of area, serta banyak-banyak riset literature. Terutama jika ingin mendeskripsikan tempat yang belum pernah kita kunjungi. (*)

Blitar, 23 Agustus 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar