loading...

Sabtu, 02 April 2016

Ingatan Tentang Jurmalintar (3)

Saya mengais-ngais kardus berisi kumpulan majalah lama, mencari An-natiq warna hijau, bersampul ketua Osis dengan pose minimalis. Itu adalah majalah An-natiq ketika saya menjadi ketua Jurmalintar masa bakti 2007-2008. Pimrednya Ratna Dewi Hidayaturrohmah yang sekarang lagi SMT di Pulau Papua sana.

Sayang, majalah itu tidak ketemu. Lalu saya meminta tolong Adinda R.D Kinasih untuk memfoto-kan majalahnya. Itu majalah An-natiq edisi keempat. Sayang juga, Majalah edisi pertama dan kedua juga tidak ketemu. Yang ketemu edisi ketiga, yang duo (besar dan kecil). Selain mengais-ngais kardus berisi arsip lama, saya pun juga mengais-ngais ingatan untuk membuat tulisan ini.

Setelah saya terpilih menjadi ketua Jurmalintar, satu minggu berikutnya adalah pembentukan struktur. Pembentukan struktur tidak susah, karena banyak yang sudah menguasahi bidang/faq masing-masing. Pimred Majalah, Ratna Dewi Hidayaturrohmah, yang sudah di latih sedemikian rupa oleh Pimred sebelumnya, Mbak Siti Syamsiah. Pimred Bulletinnya Ulul Ni’ma, sudah dilatih juga oleh Pimred Buletin sebelumnya, Mas M. Rifa’i. Ketua Broadcastnya, Tulis Nor Wulansari, yang sudah mahir siaran. Pimred Mading, Chusnul Chotimah, juga sudah cukup menguasahi.

Jadi enak. Tinggal jalan. Pada saat yang sama, Pembina Jurmalintar berganti dari Pak Saichu ke Pak Endro. Saya ingin bercerita semua faq. Tapi dimulai dari Majalah dulu.

Setelah pembentukan Pimred, selanjutnya, Pimred membuat struktur pengurusnya masing-masing. Seingat saya tidak banyak. Setiap faq, kecuali Majalah, tak lebih dari 10 orang. Mading bahkan hanya lima orang. Pengurus Intinya, dari ketua, Sekretaris dan Bendahara, semuaya dari kelas saya, kelas Bahasa. Sekretarisnya Zaenab, dan Bendaharanya Yuni. Memang sempat ada ocehan, kenapa semuanya dari kelas bahasa. Karena biar mudah ngobrolnya. Karena satu kelas dan setiap hari bertemu. Apalagi, zaman itu komunikasi belum masif. Tidak semua membawa hape. Jadi lebih sering komunikasi verbal.

Tapi sebenarnya, zaman itupun juga tidak mulus-mulus amat. Saya dan sekretaris, yang harusnya kompak, justru lebih sering berdebat dan berbeda pendapat. Termasuk berbeda pendapat dengan Pimred dll. Jadi kalau hal itu juga terjadi di era sekarang, yang kemarin di curhatkan ke saya, ya itu sebenarnya wajar-wajar saja.

Misalkan yang silang pendapat, sampai akhirnya cekcok dengan pengurus inti, tak jarang itu juga terbawa-bawa ke hubungan personal, dan bahkan perlu senior untuk mendamaikan. Kadang yang menjadi penengah adalah Pembina. Itu belum termasuk ocehan dan rasan-rasan dari anggota baru kelas satu, yang bilang kalau ketua pilih kasih, lebih memberatkan majalah ketimbang faq lain.

Saya terpilih menjadi ketua Jurmalintar bulan September 2007, Majalah An-natiq terbit bulan Maret 2008. Ini untuk pertama kalinya Majalah terbit dan disebarkan diluar bulan mei. Biasanya majalah dibagikan pas ada agenda ulang tahun sekolah sekaligus perpisahan kelas tiga. Tim Redaksi memang terbentuk bulan September, dan selesai bekerja bulan februari. Waktu bersih untuk mengurus majalah sekitar 4 bulanan.

Rapat perdana menentukan tema besar dan isi majalah. Setelah fiks maka dibagi penugasan. Penugasan yang paling berat adalah wawancara tokoh dan acara. lainnya adalah penugasan artikel, dan menampung karya dari siswa. Wawancara harus fiks dalam dua bulan. Dua bulan waktu yang cukup lama sebenarnya. Tapi namanya anak SMA, masih proses belajar. Untuk membuat pertanyaan saja tidak kelar satu bulan. Hehe

Semua tulisan yang ditugaskan sesuai scedule, selesai akhir tahun 2007. Selama bulan januari adalah proses mengetik. Setelah itu di print semua dan diperlihatkan ke pembina, Waka Kesiswaan dan Kepala Sekolah sebagai bentuk Check & Ricek. Tidak semua berita diterima, beberapa disuruh mengganti judul dan memangkas isinya. Setelah fiks baru masuk layouter.

Namun kala itu komputer Jurmalintar rusak. Mengetiknya dibagi dua, sebagian meminjam komputer sekolah, sebagian menggunakan komputernya percetakan. Untungnya dulu ada alumni Jurmalintar, namanya Mas Obet. Kerja Jurmalintar hingga percetakan semuanya dikerjakan di rumah Mas Obet, yang kebetulan juga kakaknya Arini, anggota Jurmalintar juga.

Majalah memang memerlukan energi yang berlebih, karena prosesnya lama. Dibandingkan faq lain. Akhir februari harus fiks karena awal maret harus naik cetak. Proses cetak butuh sekitar 2 mingguan. Itu baru kerja majalah, belum kalau ada kegiatan lain, seperti Diklat, Diklat gabungan dengan OSIS, dan Seminar Jurnalistik SMP/MTs se kab-Kota Blitar. Siaran radio setiap hari ketika istirahat. Bulletin terbit sebulan sekali, meski hanya bisa terbit tiga kali dalam setahun. Mading setiap minggu harus ganti tema.

Tak heran jika Jurmalintar dulu disebut ekstra paling eksis dan paling banyak menyerap anggaran, sampai anggaran ekskul lain yang tidak eksis dialihkan untuk Jurmalintar. Karena programnya ada yang harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Komplit. Sibuk sekali mengurus Jurmalintar dulu. Itu belum termasuk menghadiri undangan sana-sini. Saking sibuknya, saya sendiri tidak sempat menulis satu artikel pun untuk Majalah An-natiq edisi itu.

Sibuk mengurus empat faq, sibuk menjadi bendahara kelas, sibuk jalan-jalan, sibuk ngurusi rohis, dan sibuk-sibuk yang lain. Tapi meski sibuk, di kelas lumayan menonjol. Bukan karena pintar, mungkin karena PeDe saja. Sering tanya, dan sering diminta maju mengerjakan soal-soal matematika, meski tidak ada satu pun yang benar.

Dibandingkan edisi kedua dan ketiga, majalah edisi keempat kualitasnya cukup standart. Kalau patokan majalah terbaik, mungkin edisi kedua, era Pimrednya Mbak Dita Duhita dan Ketuanya Mas Iron Kriswantoro bisa disebut yang terbaik dari segi isi. Kalau dari segi layout, Majalah edisi kelima, yang ketua Jurmalintarnya Mega Dinda, bisa disebut yang terbaik dari semua edisi. Selanjutnya, bisa disebut standart juga.

Sayangnya, semua arsip majalah di Dapur Jurmalintar raib entah kemana. Tidak hanya arsip Majalah Annatiq dan Bulletin As-shidiq yang notabene produk Jurmalintar sendiri, arsip Majalah dari MAN 3 kediri, SMAN Pare Kediri, SMKN 1 Blitar, MAN Tlogo, SMAK Dipo, dll juga raib. Semua berkas baik proposal, surat-surat, dan dokumen lain juga raib entah kemana. Mungkin raib ketika dapur Jurmalintar pindah dari belakang ruang BK ke dekat kelas Enrichment. Sedih sekali rasanya.

Dulu semua arsip foto dan dokumen sebenarnya juga di burn up di CD. Termasuk arsip file majalah juga ada. Tapi arsip CD juga entah kemana. Hilang. Seperti rumah yang baru kebakaran. Makanya setelah perpindahan dapur Jurmalintar, ekskul ini ibarat memulai dari nol lagi.

Kapan-kapan saya akan bercerita tentang Broadcast. (*)

Blitar, 31 Maret 2016
A Fahrizal Aziz

cc : Adinda Dara Dita Duhita Hayuningtyas Iron Van Java Iqbal M Naufal Erika Novianti Nayla Kherenada Arum Titianingrum Shihab Dani Haikal Dps Mühammad Hamim Afiat Nur Iindah Rahayu Nikmah Chuaby Ratna Dewi Hidayaturrachmah dkk

My Plukme

My Plukme
Klik gambar