loading...

Senin, 07 Maret 2016

Saya, Gus Dur, dan Muhammadiyah

Pict by Art Vacation
Bahkan untuk hanya memuji Gus Dur pun, saya harus bersitegang dengan dua kader Pemuda Muhammadiyah. Ya, meskipun hanya lewat WA. Bukan bahasa analitik yang muncul, lebih karena rasa tidak suka. Saya tidak tahu kenapa mereka tidak suka. Memang benar, bahasa "ketik" kerap kali menimbulkan salah paham.

Sampai dua argumentasi saya yang panjang lebar, justru tidak ditanggapi. Tapi ada satu tuduhan yang entah kenapa membuat saya kecewa. Kecewa sekali. Saya disebut mengkultuskan Gus Dur.
Apa ini ada hubungannya dengan peristiwa lebih dari satu dekade silam? Senior saya bilang, membicarakan Gus Dur di dalam Pemuda Muhammadiyah, sama halnya memperbincangkan Amien Rais di GP Anshor.

Tapi siapapun tentu tahu siapa saya. Saya adalah kader Muhammadiyah, bukan kader NU. Saya pernah di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Apa justru karena itu, saya tidak boleh membincangkan Gus Dur?

Tapi saya tidak bisa menutupi diri, bahwa saya kagum dengan Gus Dur. Saya kagum karena Gus Dur mau "menumbalkan dirinya" untuk meminta maaf kepada korban yang di PKI-kan, seperti Pramoedya Ananta Toer. Meski akhirnya permintaan maaf itu ditanggapi kurang baik oleh Pram.

Menurut saya hanya kesatria yang berani melakukan itu. Gus Dur bahkan tidak memperdulikan anggapan orang dengan sikapnya. Apalagi dia sebagai tokoh NU, dan disatu sisi tengah menjabat sebagai Presiden.

Ada yang respect dengan sikap Gus Dur. Tapi akan lebih banyak lagi yang membenci. Dan ternyata terbukti. Disamping Gus Dur dikagumi, tapi yang membencinya juga sangat banyak. Bahkan selama bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi, dan setelah Gus Dur wafat.

Saya mengagumi Gus Dur, terlepas dari apa jubah ideologisnya. Saya tidak akan bergeming dengan sebutan mengkultuskan tadi. Apalagi, saya belum pernah berziarah ke makam Gus Dur. Belum pernah. (*)

29 Februari 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar