loading...

Minggu, 27 Maret 2016

Ngeyel



Jika boleh dikategorikan, ngeyel bisa jadi semacam penyakit psikologis yang akut. Ngeyel menolak segala bentuk opini, tanpa penjelasan balik. Kalaupun ada penjelasan, kadang penjelasan yang bersifat subyektif dan kurang argumentatif. Menjadi masalah besar, jika yang ngeyel tersebut memiliki wewenang dalam membuat keputusan sebuah kelompok.

Ngeyel itu menafikan pendapat orang lain tanpa sebab yang jelas. Jika yang dinafikan adalah pendapat orang yang lebih ahli, atau lebih berpengalaman dari dia, ini bisa menjadi problem besar. Misal, untuk membuat kue yang enak, ada yang menyarankan agar menggunakan tepung A, tapi dia ngeyel menggunakan tepung B.

Mereka yang menyarankan agar menggunakan tepung A tersebut, sudah mencoba beberapa jenis tepung mulai dari tepung A, B, hingga C. Sementara yang ngeyel, masih sebatas asumsi bahwa tepung B lebih bagus. Namun setelah kue-nya jadi, ternyata benar, hasilnya kurang bagus.

Biasanya, pihak yang menyarankan tadi hanya bilang : Makanya ngeyel sih. Tapi kadang juga yang sudah jelas-jelas melakukan kesalahan masih bisa ngeyel lagi : ini bukan tepungnya yang salah, mungkin ada yang lain. Kalau sudah seperti ini, ngeyel bisa menjadi problem yang akut.

Itu baru contoh sederhana. Ada ngeyel yang lebih gawat. Terlebih ngeyel sama orang yang lebih berwawasan. Misal, seorang kepala daerah hendak membuat perda tentang pembukaan lahan baru bagi para pengusaha kertas dan kelapa sawit. Jauh-jauh hari, niat kepala daerah itu sudah dikritik oleh pakar lingkungan bahwa kebijakan tersebut akan memungkinkan terjadinya pembakaran hutan besar-besarnya. Pastinya, pembakaran hutan akan dilakukan pas musim kemarau, karena tidak mungkin pas musim hujan.

Kepala daerah tersebut tetap ngeyel kalau itu tidak akan berdampak besar karena toh pembukaan lahan baru sudah biasa dilakukan. Kadang menjadi semacam pemakluman tersendiri ketika ngeyelnya itu karena murni faktor ketidak tahuan. Tapi menjadi sangat mengerikan ketika ngeyelnya itu karena ada kepentingan.

Ternyata benar. Pas kemarau tiba, hutan dibakar habis-habisan sampai menciptakan wabah kabut asap yang akut. Ribuan bahkan ratusan orang terserang masalah pernafasan. Sayangnya, mereka yang melakukan pembakaran hutan tidak bisa di tindak secara hukum karena ada regulasi yang membolehkannya.

Begitu pun ketika dulu, Pemerintah Pusat hendak menerapkan kebijakan untuk sertifikasi guru. Banyak para pakar menilai bahwa itu tidak akan berdampak pada kompetensi guru. Bahwa guru akan mendapatkan pelatihan, iya. Namun pelatihan tersebut tidak akan berdampak pada kompetensi guru. Justru guru akan berorientasi pada jam mengajar agar tunjangan sertifikasinya besar.

Problem lainnya adalah, jurusan keguruan diserbu oleh pendaftar. Bahkan jurusan keguruan masuk 3 besar sekarang ini sebagai jurusan paling diminati. Artinya, akan terjadi ledakan sarjana keguruan dan belum tentu semuanya terserap menjadi guru. Sebagian juga, tidak bersedia menjadi guru honorer dengan gaji minimalis. Lainnya, enggan menjadi guru dan bekerja di sektor lain yang mereka tidak punya keahlian di dalamnya.

Kenapa banyak yang kuliah keguruan? Karena bayang-bayang tunjangan sertifikasi dan gaji besar. Pemerintah berdalih tunjangan dan gaji itu agar guru lebih profesional, namun yang terjadi justru dampak lain yang jauh dari harapan. Mungkin ketika para pakar mengajukan kritik kala itu, Pemerintah ngeyel sehingga terjadilah yang demikian.

Bahkan, baru saja terjadi demo guru honorer k2 agar lekas diangkat jadi PNS. Tentu Pemerintah menjadi pusing karena mengangkat ratusan ribu orang menjadi PNS itu juga berarti menyiapkan anggaran baru untuk kepegawaian. Sementara sektor-sektor lain menjadi sepi peminat padahal tengah membutuhkan banyak orang kompeten. Katakanlah sektor media. Akhirnya kita jadi sering disuguhi berita-berita yang tak ada bedanya dengan asumsi atau spekulasi karena wartawan yang menulis tidak memiliki kompetensi di bidangnya.

Maka, ngeyel pada taraf tertentu itu akan menjadi problem yang akut. Apalagi, ngeyel-nya dari orang yang lebih memiliki pengalaman dan wawasan darinya. Tak masalah jika ngeyel dari orang yang menurut kita tidak jelas apa pendapatnya.

Ngeyel itu membuat fikiran tertutup dan susah menerima kebenaran dari orang lain. ngeyel, merasa opininya paling benar itulah sebenarnya kesalahan yang sering kali kita temui, bahkan juga barangkali yang sering kita lakukan. (*)

Blitar, 22 Januari 2016
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar