loading...

Senin, 19 Oktober 2015

Menjadi kader Muhammadiyah (Lagi)



Rasanya memang sudah lama tidak secara aktif menulis, atau berdiskusi tentang Muhammadiyah pasca di IMM. Kemarin, setelah di ajak Mas Khabib dan Mas Atim (dua sosok sentral pendiri IMM Cabang Blitar) dalam diskusi bersama di Gazebo taman kebonrojo (kebon rakyat) saya kembali teringat identitas ke-IMM-an. Terkhusus, dengan kondisi IMM Cabang Blitar yang didirikan dengan semangat menggebu plus sepaket harapan besar di dalamnya.

Saya pun jadi terfikir untuk mengaktifkan kembali Blog “Segelas Kopi Untuk Ikatan” dan mulai lagi membuat catatan-catatan sederhana yang membersamai proses saya di dalamnya. Melalui blog itu pula saya mengenal banyak orang, salah satunya Mas Khabib. Saya sendiri tidak menduga kalau blog yang sederhana itu ternyata amat di apresiasi. Alhamdulilah.

Di Blitar saya memang aktif di beberapa komunitas, diantaranya komunitas sastra dan kepenulisan. Beberapa kali hadir dalam acara LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). keinginan untuk setidaknya, menghidupkan ruang-ruang wacana dan menulis di Blitar memang menjadi agenda utama saya saat ini. Yang terdekat adalah launching antologi cerpen. Selebihnya, adalah mengisi beberapa rubrik di media online Sindikat post yang dibuat oleh komunitas Blog Sindikat Malam.

Jujur saja, IMM sama sekali tak terfikirkan. Kalau mungkin Mas Khabib tidak menghubungi, mungkin hingga saat ini saya tidak mengenal IMM Blitar dan beberapa pengurusnya yang kebanyakan Immawati. Sangat bertolak belakang dengan struktur PC IMM Malang yang didominasi Immawan.

Saya pun kemudian dimasukkan Pak Umar (Pengurus Pemuda Muhammadiyah Kab. Blitar) masuk ke group WA dan berinteraksi di dalamnya. Saya juga baru tahu kalau ketua PDPM Kab. Blitar adalah Mas Erfai yang juga alumni IMM UIN Malang. Saya belum tahu apakah nanti akan bergabung dengan PDPM, tapi keinginan itu tetap ada.

Saya juga tertarik untuk ikut mengembangkan IMM Blitar. Tentu bukan sebagai pengurus. Sudah out of date. Mungkin lewat jalur kultural. Kita lihat sejauh mana “daya kejut” IMM di Blitar sendiri. Karena dibandingkan OMEK yang lain, seperti PMII, HMI, dan Apalagi KAMMI, IMM memiliki fasilitas yang lebih baik. Gedung, sekretariat, Masjid, yang semuanya sudah tersedia. Tinggal SDK (Sumber Daya Kader) yang perlu dikembangkan.

Semoga berhasil, atau setidaknya progressnya lebih baik dari sebelumnya. (*)

Blitar, 19 Oktober 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar