loading...

Jumat, 09 Oktober 2015

Membangun gairah diskusi



Bagaimana cara menghidupkan gairah diskusi? Ini pertanyaan yang mudah dijawab dalam beberapa hal, tapi dalam hal yang lain, juga sangat susah dijawab. Bahkan jawabannya butuh seumur hidup. Sama dengan pertanyaan, bagaimana cara membangun militansi kader.

Artinya, menumbuhkan gairah dan militansi tidak serta merta kurikulum atau metode. Tapi lebih instrinsik, adalah kehendak dalam diri sendiri. Menghidupkan diskusi sangatlah mudah, ketika tema yang ditawarkan sangat menggairahkan bagi peserta. Misalkan, gerombolan ibu-ibu yang dengan sangat antusian berbincang soal merk kosmetik atau resep masakan. Begitu pun dengan gerombolan bapak-bapak pecinta batu akik yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memperbincangkan tema tersebut.

Bisa juga, sekelompok pecandu bola yang dengan lihai memperbincangkan kondisi tim, ramalan pertandingan, dan kemampuan pemain pujaan mereka dengan intonasi yang meledak-ledak. Padahal, apa yang mereka diskusikan dan mungkin juga perdebatkan, sama sekali tak berdampak pada pertandingan. Itu sama halnya para komentator yang mengomentari sebuah pertandingan. Komentar mereka akan terlihat menarik dimata penonton karena bisa menambah variasi pertandingan agar lebih seru. Tapi komentar itu sama sekali tidak akan berpengaruh pada pertandingan karena baik pemain atau pelatih sudah sibuk dilapangan.

Diskusi yang sesuai dengan gairah peserta memang memberikan selera tersendiri. Namun bisa jadi, jika tema diskusi diubah, misalkan diubah ke tema politik, agama, hukum, HAM, Sains, dll. Kondisinya jadi berbeda. Mereka yang di forum diskusi batu akik terlihat aktif dan meledak-ledak, bisa diam total ketika membincang masalah politik. Diam bisa jadi karena memang temanya tidak menarik bagi mereka. Padahal, baik diskusi politik maupun batu akik, keduanya sama-sama butuh wawasan. Sama-sama butuh membaca, atau setidaknya mendengarkan diskusi orang lain.

Itulah yang dikeluhkan oleh salah seorang pengurus pergerakan mahasiswa kepada saya. Jangankan untuk mengajak demo, untuk mengajak diskusi atas isu tertentu pun sangat sulit sekali. Padahal, idealnya, sebelum melaksanakan aksi demonstrasi, para demonstran sudah bener-benar menguasahi isunya dan memberikan sekurang-kurangnya solusi jangka pendek. Bahkan, kader yang malas untuk berdiskusi masalah sospol itu sendiri ada yang kuliahnya di fakultas FISIP. Ini tentu sangat membingungkan.

Jadi, saya sendiri juga tidak tahu bagaimana cara membangun gairah diskusi. Menurut saya semua orang punya gairah diskusi dalam bidangnya masing-masing. Tinggal apakah peserta diskusi berselera atau tidak dengan tema itu. kalau tidak berselera, mungkin tidak akan datang dalam diskusi, dan kalaupun datang, paling hanya sekedar memenuhi undangan karena sungkan.

Jadi, mungkin saja, sebelum masuk ke tema diskusi, dijelaskan dulu apa pentingnya membahas tema tersebut. Tidak semua tema yang aplikatif itu selalu lebih menarik. Contohnya, diskusi tentang sepak bola yang secara praksis hampir tidak berdampak. Kecuali hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Tapi, kalau diskusi tentang politik, agama, hukum, HAM, dan sejenisnya, dampaknya sebenarnya besar. Setidaknya, ia berdampak secara pribadi. Diskusi itu bisa jadi menawarkan persepsi baru atas suatu hal yang itu bisa merubah sikap kita terhadap realitas.

Informasi atau wawasan baru yang didapat dari diskusi bisa memberikan inside tersendiri sehingga merubah pandangannya. Pandangan itu akan menjadi mindset yang bisa mempengaruhi orang lain, begitulah seterusnya. (*)

Blitar, 9 Oktober 2015
A Fahrizal Azi

My Plukme

My Plukme
Klik gambar