loading...

Jumat, 18 September 2015

Untuk apa diskusi?



Diskusi menjadi semacam kultur di masyarakat kita untuk membahas suatu topik tertentu. Kadang kita berfikir bahwa diskusi tanpa aksi adalah omong kosong belaka. Maka tak sedkit yang skeptis ketika misalkan, pejabat publik pandai berkata-kata di forum diskusi namun realitanya tak begitu nampak. Dalam skala yang lebih kecil, kita juga mendapati banyak segerombolan pemuda (atau mahasiswa) yang menghabiskan waktu malamnya untuk berdiskusi panjang lebar di warung kopi dan sejenisnya.

Dalam pemahaman umum masyarakat kita, diskusi semestinya memang harus terimplementasi. Padahal, dalam skala tertentu, diskusi tidak selalu bertujuan untuk melakukan gerakan berbasis aksi. Diskusi, bisa jadi, adalah aktivitas yang dibuat untuk memperkaya pengetahuan dan mengolah kepekaan. Hasilnya mungkin tidak terlihat secara langsung, tapi secara bertahap, perubahan itu bisa berawal dari persepi yang seterusnya menjadi perilaku.

Contohnya, forum diskusi yang dihadiri oleh lintas etnis, suku, dan agama, yang didalamnya berdiskusi soal keberagaman. Apakah setelah diskusi, akan ada gerakan bersama (komunal) yang bersifat masif dan terstruktur untuk kampanye perdamaian? Apakah misalkan, setelah diskusi berakhir, akan terbentuk organisasi bersama yang berisi lintas etnis, suku, dan agama? tidak juga.

Bisa jadi, tujuan diskusi itu sangatlah sederhana : agar setiap peserta mampu memandang yang berbeda. Bagaimana etnis A berinteraksi dengan etnis B. Atau suku A berdialog dengan suku B. Dan penganut agama A bertukar pendapat dengan penganut agama B. Tujuannya bukan menyatukan mereka dalam wadah semisal komunitas atau organisasi, namun hanya sekedar memberi ‘ruang rasa’. Selebihnya, apakah mereka akan tetap saling membenci, itu adalah pilihan masing-masing.

Diskusi sederhana di warung kopi misalkan, membahas tentang suatu wacana tertentu, tidak selalu membuahkan sebuah aksi komunal untuk menentang atau mendukung wacana tersebut. Melainkan, jauh lebih personal, diskusi itu bisa memberikan persepsi baru pada orang-orang sekitar yang berimbas pada bagaimana dia memandang sebuah masalah tersebut. Semakin orang mau menerima pendapat orang lain, biasanya ia akan semakin bijak, toleran, dan tak akan dengan mudah menyalahkan orang lain.

Misalkan, sebuah forum diskusi yang membahas tentang pelacuran. Salah satu peserta diskusi memiliki pandangan bahwa pelacur adalah orang bejat, ahli neraka, dan tak bermoral. Tapi seiring berjalan diskusi, ada persepsi lain yang menjelaskan bahwa para pelacur itu adalah orang yang terisolasi dari pergaulan. Mereka ingin keluar dari kubangan itu, namun masyarakat tidak ada satu pun yang respect. Akhirnya, dia melamar kerja kemana-mana tidak diterima karena bekas PSK. Dia berwirausaha juga tidak laku karena tidak ada yang sudi membeli dagangannya. Akhirnya, dia mau tak mau menjadi PSK untuk tetap menyambung hidup.

Dalam hal ini, diskusi sangat penting dalam upaya memperkaya persepsi. Setelah diskusi, barangkali orang tersebut akan sedikit menggeser pandangannya tentang PSK. Tidak ada aksi, dan juga implementasi yang nampak. Namun ada banyak yang merubah persepsinya setelah diskusi. Ini tentu tak kalah pentingnya. Perubahan persepsi itulah yang merubah sikap, dan perubahan itu sangatlah mendasar. Karena tidak semua yang melakukan aksi pun berangkat dari kesadaran mendasar tersebut, kadang karena hal-hal yang pragmatis, seseorang secara spontan merubah persepsinya dan kembali lagi jika moment itu lewat. Tergantung pesanan.

Maka, diskusi, apapun bentuknya, tetaplah penting untuk memupuk keakraban, dialog antar persepsi, hingga merencanakan aksi-aksi. Mungkin perubahannya tidak langsung nampak. Ada yang bertahap, dan ada perubahan yang bersifat personal. Diskusi, betapapun bentuknya, bukanlah sebuah omong kosong. Tetap ada sesuatu yang terpetik di dalamnya. (*)

Blitar, 13 September 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar