loading...

Minggu, 20 September 2015

Sudah lama saya tidak minum kopi


Ilustrasi

Hampir seminggu saya tidak minum kopi. Padahal, biasanya, tiap pagi atau sore, atau pagi dan sore, saya selalu minum kopi hitam. Kadang secangkir sehari, maksimal dua cangkir. Ada banyak alasan kenapa harus minum kopi. Selain rasa dan aromanya yang membangkitkan selera, kopi adalah teman “terbaik” untuk membaca buku. Saya punya jadwal khusus membaca. Selepas magrib hingga jam 8 malam.

Meminum kopi mampu memberikan kenyaman pada tubuh. Mungkin ini efek dari cafein, yang konon bisa menetralisir stressing. Seperti rokok. Jadi bisa dipahami kalau para perokok itu, sekalipun sudah digempur dengan beragam teori kesehatan, masih tetap saja merokok. Ini soal rasa, bukan semata soal logika. Kira-kira, begitulah juga kenapa orang suka sekali minum kopi.

Saya ‘berhenti’ ngopi bukan karena alasan kesehatan yang selama ini mungkin diketahui banyak orang. Lambung saya cukup ramah dengan kopi. Bahkan sebenarnya efek kopi bagi lambung tidak lebih berbahaya dibandingkan efek sambal. Bagi yang punya penyakit mag, atau penyakit dalam lainnya, sambal sangat berperan penting untuk membuat perut perih dan asam lambung naik.

Tidak semua orang punya kebiasaan minum kopi, tapi hampir setiap orang (terutama orang Jawa Timur) menikmati makanan pedas setiap harinya. Menurutnya, kalau tidak pedas, kurang dapat feel-nya. Makanan pedas memang membangkitkan selera makan yang tinggi. dan disatu sisi, juga memincu asam lambung yang tinggi pula. Jadi intinya, setiap orang memang beresiko sama untuk ‘terserang’ lambungnya. Tidak hanya kopi.

Meski baru hampir seminggu saya tidak ngopi, rasanya sudah sangat lama sekali. Tapi saya bersyukur karena itu berarti saya bukan coffe addict (pecandu kopi), atau istilah jawanya nekek kopi. Artinya, kalau sehari saja tidak minum kopi, merasa ada yang janggal. Dalam kadar tertentu, bisa menyebabkan pusing dan mood tidak stabil. Tapi, anehnya saya tidak mengalami itu semua. Alhamdulilah.

Saya memang suka minum kopi, tapi bukan coffe addict. Porsi kopinya pun masih dalam ukuran wajar. Satu cangkir kecil + sedikit gula. Menurut saya kopi yang enak itu yang dominan rasa pahitnya, bukan kebalik, banyak gulanya biar manis. Karena kalau terlalu manis, ‘rasa kopi’-nya jadi hilang. Yang ada malah air gula.

Tapi orang mungkin banyak yang tidak percaya kalau seorang pengopi tidak kecanduan kopi, mengingat kopi memiliki daya pemikat/zat adiktif yang bisa menciptakan kecanduan. Tapi musti dibedakan juga antara kecanduan dan ingin minum kopi. Kecanduan itu ketergantungan, mau tidak mau harus minum. Tapi kalau sekedar suka minum, itu tidak bisa disebut kecanduan karena tidak mengalami ketergantungan. Minum atau tidak minum, tidak mempengaruhi hal-hal yang fundamental dalam dirinya.

Dulu, saya ngopi sebagai ‘ritual’ untuk memulai menulis. Agar fikiran fresh dan inspirasi lancar. Tapi, tanpa dugaan, bulan-bulan produktif saya dalam menulis justru di bulan puasa yang sangat jarang sekali ngopi. Apalagi pas sahur. Anda bayangkan betapa tidak berseleranya kita ketika harus minum kopi antara jam 2-4 pagi. Kopi itu enak dinikmati selepas shalat subuh atau sore jelang magrib.

Itu menunjukkan kalau ngopi tidak terlalu signifikan dalam mempengaruhi aktivitas menulis. Saya membuat tulisan ini pun juga tidak diselingi ngopi. Untuk menulis, jangan sampai ketergantungan dengan kopi. Meski tak bisa dipungkiri, kopi adalah minuman yang mungkin paling akrab dengan mereka yang punya aktivitas menulis. Saya salah satunya.

Blitar, 20 September 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar