loading...

Jumat, 18 September 2015

Pahlawan yang dikira Preman



Tak perlu risau jika melihat lelaki berjaket hitam, bercelana hitam dan berpantofel sering keluar masuk desa atau perumahan. Mereka bukan penjahat, intel, apalagi preman. Dulu saya juga heran dengan keberadaan mereka, hampir setiap hari selalu saja ada. Kadang sendiri, kadang berdua. Style pakainnya memang serba hitam.

Kemarin, saya berbincang dengan salah satunya. Jaket dan celananya hitam, pantofelnya coklat, tapi kemeja dalamnya pink. Orangnya sudah agak berumur, mungkin diatas 40 tahun. Dia mampir di warung untuk sekedar sarapan. Setelah saya tanya apa pekerjaannya, ternyata “penagih hutang”. Dengan style serba hitam-hitam semacam itu, maka pekerjaan menagih hutang itu terkesan mengerikan.

Tapi dia menagih hutang orang-orang yang tidak telat hutang. Berbeda dengan depkolektor yang diterjunkan khusus untuk “membereskan” nasabah yang tidak tertib. Bapak ini menawarkan jasa peminjaman uang dalam skala kecil dan menengah.

“1 Juta bisa, 2 juta bisa, maksimal 5 juta untuk nasabah baru,” jelasnya bersemangat sambil membakar putung rokoknya. Bayarnya per minggu, tergantung lama angsuran yang diambil. Tapi rata-rata mengambil 12 kali angsuran. Jadi, misal pinjam 2 juta, maka angsuran per minggunya 200rb. 200rb itu sudah termasuk menabung 20rb per angsurannya. Tabungannya itu bisa diambil diakhir, bisa juga buat potongan angsuran.

Saya juga tidak tahu kenapa harus ada tabungan, mungkin untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu tidak membayar.

Bapak ini bekerja di sebuah BPR (Bank Pengkreditan Rakyat), memang, akhir-akhir ini BPR begitu menjamur. Dulu Bank semacam ini kurang begitu populer, dan tidak semua orang mau menjadi nasabahnya. Orang-orang biasanya menyebut “Bank titil”.

Untuk mengajukan peminjaman pun syaratnya juga tidak susah, cukup identitas dan survey pekerjaan. Ada yang menggunakan jaminan, ada yang tidak. Bahkan, kalau sudah kenal akrab, proses pinjam-meminjam bisa berjalan sangat kekeluargaan. Meski tentu saja, tetap ada sejumlah bunga yang harus dibayarkan.

Rata-rata yang meminjam ke BPR pun bervariasi. Ada yang untuk membayar biaya pendidikan, untuk membeli barang-barang, hingga untuk modal usaha. Sekarang ini, ada BPR yang hanya mau memberi pinjaman untuk modal usaha. Mungkin karena banyaknya orang yang akhirnya hanya berfoya-foya dengan uang pinjaman tersebut dan tidak bisa membayar pada deadline waktu yang ditentukan.

Bapak itu pun menceritakan kalau sekarang ada aturan yang lebih ketat soal peminjaman di BPR tempatnya bekerja. Calon Peminjam harus jelas apa pekerjaannya dan pendapatan per bulannya, serta untuk apa uang pinjaman tersebut. Menurutnya, banyak yang meminjam hanya untuk foya-foya.

Misalkan, menjelang hari raya, banyak yang meminjam hanya untuk membeli pakaian baru, sandal baru, hape baru, dll. Akhirnya, pada saat penagihan, mereka mengaku belum punya uang. Saya cukup terkejut dengan pemikiran bapak “penagih hutang” ini. Biasanya, orang tidak mau peduli dengan urusan peminjam. Karena sudah ada aturan yang berlaku jika peminjam tidak bisa membayar angsuran. Ada hukuman yang sudah disepakati. Tapi bapak ini nampak peduli sekali.

Dia berharap orang yang meminjam padanya memang menggunakan uang itu untuk hal-hal produktif. Misalkan untuk tambah modal usaha, untuk investasi kecil-kecilan, atau membuka usaha baru. Dengan begitu, selain peminjam nantinya bisa mengangsur sesuai jadwal, BPR pun merasa senang karena ikut membantu meminjami dana dan melihat seseorang berkembang. Ini cara berfikir yang sangat arif sekali.

Tapi kendala terbesar masyarakat kita adalah Pendidikan. Bukan hanya pendidikan formal, tapi juga wawasan tentang mengelola dana. Misalkan jika si A punya uang 2 juta. Untuk apa uang ini? untuk dibelikan barang-barang, atau diputar untuk usaha. Usaha sederhana misalkan, berjualan pulsa. 2 juta adalah modal yang cukup. Atau untuk usaha kecil lain yang bisa memutar uang 2 juta menjadi lebih optimal.

Andai semua BPR punya ‘idealisme’ semacam itu, dalam arti tidak hanya meminjami uang, tapi juga mendorong seseorang untuk berwirausaha dan mengembangkan usahanya, maka begitu majunya kehidupan masyarakat kita. dan pria berjaket hitam, bercelana hitam, dan ber-sepatu pantofel tersebut tentu tidak akan disalah pahamkan sebagai preman lagi, mungkin bisa jadi pahlawan.

Pahlawannya orang-orang kelas kecil dan menengah.

Blitar, 30 Agustus 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar