loading...

Senin, 01 Juni 2015

Leksikon Pendidikan yang terbuang





Hari sabtu (13/12) saya menggantikan orang tua untuk mengambilkan raport di sekolah. Kebetulan, Bapak harus bekerja dan Ibu sedang melakukan ziarah walisongo. Dalam perjumpaan yang jarang tersebut, saya berbincang dengan wali kelas dimana adik saya belajar. Adik saya mengambil jurusan peternakan di salah satu SMK Negeri di Kabupaten kami. Saya termasuk yang ‘gagap eksak’, apalagi jurusan perternakan. Dulu waktu di MAN, saya mengambil jurusan bahasa, yang aktivitas belajarnya begitu santai.

Dalam pembukannnya, Bu Wali Kelas banyak mengeluh soal kenakalan siswa, dan terlebih soal moral, seringnya siswa membolos, juga yang menenggak minuman keras, narkoba, hingga hamil dan menghamili diluar nikah. Lucunya, sang guru menjelaskan, ada yang sampai melahirkan dan orang tua baru menyadari jika selama ini anaknya hamil. Ironis. Tragis.

Pembukaan penerimaan raport jurusan peternakan, yang seharusnya lebih membicarakan prospek pasar dan pekerjaan, menjadi semacam kuliah moral yang penuh keluh kesah dan keprihatinan. Bagi orang tua wali yang lain, informasi yang disampaikan Bu wali kelas ini mungkin terasa mengkhawatirkan, dan sedikit membuat shock, takut-takut kalau anaknya terjerumus kepada perbuatan mengerikan itu. Tapi bagi saya, informasi seperti itu sudah biasa, dan sangat maklum jika sekolah tidak mampu mengatasinya.

Keluh kesah, keprihatinan, dan curhatan sang walikelas tersebut sebenarnya bisa menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Bisa saja wali murid kemudian mengomentari sekolah tak becus mendidik siswa, sehingga banyak yang berperilaku semacam itu. Padahal terlalu tinggi jika mengharapkan anak menjadi baik moralnya dengan bersekolah, apalagi sekolah SMK.

Dalam teorinya, Pendidikan dibagi menjadi tiga jenis : informal, formal, dan non formal. Sekolah hanya satu dari tiga jenis pendidikan. Peran yang tak kalah pentingnya adalah Pendidikan informal (keluarga) dan non formal (lingkungan, organisasi, dll). Tetapi leksikon Pendidikan tersebut seolah tereduksi dalam satu makna : Sekolahan. Walhasil, semua tanggung jawab mulai dari moral, intelektual dan skill anak yang lain tertumpu pada sekolahan.

Jika anak nakal, maka sekolahannya yang disebut jelek. Jika anak bodoh, maka gurunya yang tidak bisa mengajar, jika anak tak mampu menemukan bakat dalam dirinya, itu berarti fungsi konseling dalam sekolah itu tak berjalan baik, tersendat, dan tertutup. Orang tua seolah ‘lepas tangan’ dalam peran mendidik. Sehingga, permasalahan yang disampaikan Bu Wali kelas, yang harusnya terselesaikan di rumah, menjadi problem tambahan di sekolah –diluar dari disiplin ilmu yang harusnya lebih dibahas dalam pertemuan wali kelas dan wali murid seperti ini.

Peran Mendidik
Keluarga menjadi institusi yang cukup penting dalam proses internalisasi nilai-nilai moral. Karena disanalah sumber keteladanan, sumber interaksi antar personal muncul. Berbeda dengan aktivitas di kelas, dimana satu guru kadang mengajar lebih dari 40 anak. Bisa dibayangkan betapa payahnya mengelola anak sebanyak itu. Dalam proses penekanan karakter moral, keluarga menjadi instrument yang sangat penting.

Orang tua tentu tak harus mendidik secara formal layaknya guru di kelas. Cukup dengan keteladanan dan kedekatan. Sesibuk apapun pekerjaan, pasti ada waktu bertemu sang anak, misalkan sebelum tidur. Moral bukan soal teori yang tertulis, setiap orang punya tata nila moral dalam dirinya, hanya saja mana yang lebih dominan. Anak yang suka membolos sebenarnya tahu kalau itu perbuatan salah. Tapi moral yang tertulis dalam kertas kadang tak berarti apa-apa, selain hanya secarik nilai di dalam raport.

Kedekatan orang tua lah yang mampu membentengi secara psikis. Tanpa harus ada larangan, tanpa harus ada bantahan, tanpa harus ada teori. Kedekatan orang tua dan anak menjadi simbol kosmologis.

Jika demikian, sekolah –terutama SMK—bisa fokus dalam pendidikan formal. Mengajarkan teori tekstual, mengasah kepekaan logika, dan mempertajam skill siswa. Tetapi bukan berarti lepas dari tanggung jawab moral, karena tanggung jawab moral itu ada disetiap diri manusia, apalagi seorang guru. Namun, guru akhirnya bisa lebih fokus ke materi pelajaran. Tidak lagi mengeluh tentang kenakalan siswa.

Berikutnya, lingkungan serta organisasi tempat mereka berada. Lingkungan kemudian berkaitan erat dengan kondisi keluarga dan sekolah. Anak akan mudah terbawa arus jika basic karakternya lemah. Organisasi menjadi jalan alternatif. Karena disanalah anak akan disibukkan dengan pengayaan skill. Bahkan tak sedikit siswa yang terbentuk karakternya dengan mengikuti organisasi. Jadi salah total kalau orang tua menganggap organisasi hanya akan membebani siswa. Justru kalau tidak ikut organisasi, lubang keterjerumusan itu semakin terbuka lebar.

Akhirnya, Sekolah bukan satu-satunya lembaga yang menjadi tempat penyemaian anak untuk berkembang. Dua lembaga lainnya, yang sekalipun tak formal dan memiliki kurikulum tersistem seperti sekolah, perannya juga sangat penting. Keluarga, lingkungan, hingga organisasi yang ia ikuti.

Hanya saja, leksikon Pendidikan kita sudah sejak lama terbuang. Kalau menyebut Pendidikan, yang terbayang di benak kita selalu saja Sekolahan.

(*) Anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

My Plukme

My Plukme
Klik gambar