loading...

Senin, 01 Juni 2015

Akhirnya, Mahasiswa terbelah juga?



Ada sebuah Quote dari Albert Einstein yang sangat populer : we can’t solve new problem by using old solution. Quote ini sejalan dengan Jawaban yang (entah) berapa kali di sampaikan Pak Amien Rais dalam beberapa acara, termasuk di acara Kick Andy, ketika ada sekelompok Mahasiswa yang memintanya turun lagi ke jalan untuk melakukan perubahan layaknya 1998 silam. Namun, Pak Amien Rais menjawab demikian : Sekarang giliran anda yang muda-muda, saya menyokong dari belakang.

Kenapa yang muda-muda? Tentu tidak sesederhana karena Pak Amien Rais lebih tua. Tapi karena semakin tua, biasanya orang semakin bijak dan realistis. Sementara disisi lain, mungkin saja, Pak Amien Rais tidak ingin memadamkan kepedulian anak-anak muda yang tengah berapi-api untuk menyelamatkan bangsanya dengan jawaban yang serba realistis. Salah satunya, apakah cara-cara turun ke Jalan layaknya 1998 itu masih relevan untuk menumbangkan rezim sekarang ini?

Akan muncul banyak jawaban atas pertanyaan diatas. Tapi yang pasti, moment 20 dan 21 Mei sudah terlewatkan dan penumbangan rezim gagal. Meskipun ribuan mahasiswa sudah turun ke jalan pada hari itu. Namun pertanyaan kedua, yang juga menjadi pertanyaan yang sangat realitis juga : Bisakah seribu, duaribu atau bahkan ratusan ribu mahasiswa yang turun ke jalan cukup mewakili sekitar 250 juta rakyat Indonesia? apakah aspirasi Mahasiswa yang ingin Presiden lengser itu juga diamini oleh Ratusan juta rakyat yang lain?

Pertanyaan realistis inilah yang berangkali juga hinggap di benak Pak Amien Rais, apalagi setelah gagal menjadi Presiden pada 2004, Padahal ekspektasi beliau sebagai tokoh reformasi begitu tinggi. Jika Pak Amien Rais yang disebut sebagai tokoh sentral Reformasi saja kalah dalam pemilu, lantas apakah peristiwa 1998 itu bisa disebut mewakili aspirasi mayoritas rakyat Indonesia? Apakah benar jika tahun 1998 silam mayoritas rakyat Indonesia ingin Soeharto lengser?

Maka, gagalnya aksi pelengseran Jokowi pada 20 dan 21 Mei tersebut setidaknya bisa menjadi catatan penting bagi Gerakan Mahasiswa se-Indonesia, yang agaknya harus melakukan reformulasi Gerakan. Dikarenakan, ketika isu revolusi 20 mei itu bergulir, di Bandung pun sebagian Mahasiswa juga mendeklarasikan diri menolak gerakan 20 Mei. Ini menunjukkan bahwa Gerakan Mahasiswa sudah nampak tidak solid, bahkan saat masih dalam tataran wacana.

Yang perlu diingat juga, iklim saat ini adalah iklim Demokrasi, dimana sudah tidak ada lagi Petrus, pembredelan media, penculikan mahasiswa, atau pengkutuban kekuatan Politik. Terlebih, Presiden dipilih langsung one man one vote. Bukan lewat Parlemen yang penuh rekayasa. Bahkan Anggota Parlemen pun bisa duduk di Senayan juga karena vote langsung dari Rakyat.

Jadi, kembali pada Quote Albert Einstein, We Can’t solve new problem by using old Solution. Mengutip Quote Mario Teguh (meski berbeda konteks) : Jangan hidup di masa lalu. Inilah pertanyaan yang sangat filosofis yang perlu diajukan oleh Mahasiswa sekarang ini. Bisakah aksi 1998 digunakan untuk menumbangkan rezim? Jika itu terjadi, maka betapa kita akan di cap sebagai negara inkonsisten karena menumbangkan pemimpin yang kita pilih sendiri.

Padahal, yang menjadi kegelisahan kita bersama adalah soal kriteria pencalonan yang sepertinya sudah out of control. Sekarang ini, untuk menjadi Pemimpin, entah itu Presiden, Gubernur, Bupati, dan Walikota, syarat yang paling utama adalah POPULARITAS yang diklaim oleh lembaga survey. Lembaga survey pun memiliki dua cara untuk mengangkat tokoh tertentu. Pertama melalui survey ke Masyarakat. kedua, melalui intensitas sang tokoh diberitakan positif oleh Media Massa.

Akhirnya, untuk menjadi Pemimpin : kualitas, pengalaman, dan hal-hal administratif lainnya adalah nomor kesekian. Yang pertama, adalah Popularitasnya di Masyarakat. Inilah yang sempat disampaikan BJ. Habibie pada acara Mata Najwa, bahwa yang memimpin bangsa ini harusnya bukan Selebritis, tapi orang-orang yang memang memenuhi kriteria yang ditetapkan. Sayangnya, belum ada kriteria yang secara spesifik dibuat.

Sayangnya pula, tidak banyak Mahasiswa yang bergerak untuk mewarnai percaturan opini di Media Massa. Tidak semua organisasi mahasiswa, atau mahasiswa secara personal, memainkan peran media, baik media elektronik, cetak, online, hingga sosial media sebagai upaya membangun basis isu.

Meskipun tidak mudah, karena media yang ada sekarang ini juga di topang Korporasi dan sebagian juga kekuatan Politik. Tapi bukan tidak mungkin Mahasiswa untuk ikut mewarnai, mengingat jumlahnya sangat besar di seluruh Indonesia. bahkan satu kampus saja, jumlah mahasiswa bisa mencapai 30 ribu bahkan lebih. Disinilah daya saing, terutama dalam sisi intelektual begitu dipertaruhkan. Bisakah intelektualitas mahasiswa melawan rezim, atau kekuatan korporasi yang mengendalikan isu di negeri ini?

Ini menjadi kesempatan emas, karena dari hari kehari, pemilih pemula semakin bertambah, dan rata-rata pemilih pemula semuanya mengakses media, minimal sosial media. Inilah peluang bagi mahasiswa untuk ikut “mencegah tragedi politik” agar tidak hanya (selalu) memecahkan gelas yang sudah terbentuk, tapi setelah itu tak bisa merangkainya menjadi utuh kembali dan malah bertambah parah.

Kalau hanya menuntut dan meminta rezim untuk lengser, maka semua orang bisa melakukannya, bahkan preman yang berbadan kekar dan tidak sekolah pun bisa. Tapi untuk mencegah agar rezim tidak didudukui oleh orang yang dirasa kurang tepat, itu tidak mudah. Karena disitulah perang intelektual terjadi.

Sekarang pun, lagi-lagi, berdasarkan pemberitaan media, Mahasiswa nampak mulai terbelah. Jangan sampai itu terjadi. Karena kekuatan terbesar Mahasiswa hanyalah keyakinan dan kebersamaan. Bukan kapital dan juga kekuasaan. Ya, meskipun ada yang turun ke jalan, dan sebagian yang menghadiri jamuan makan malam.

Saya tidak tahu, manakah cara yang benar. Tapi sangat sedih kalau karena hal itu, kekuatan Mahasiswa jadi terpecah belah. (*)

Blitar, 22 Mei 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar