loading...

Rabu, 01 April 2015

Ritus Kesunyian (43)



****
Awan dan Egar berjalan menuju rumah, ia mengamati suasana sekitar dan ia melihat sesuatu yang tak asing baginya.
“Lukisan itu,” Awan melihat sebuah lukisan yang pernah terpajang di rumah Bu Mira, dan kini lukisan itu terpajang di kamar Egar.
“Harusnya kamu bisa meneruskan lukisan itu,” sahut Egar sambil menatap tablet kecilnya.
“Aku nggak bisa Gar,, lukisan ini begitu dalam maknanya..”
“Itu hanya sebuah lukisan, jangan terlalu mendramatisir.”
“Setiap lukisan yang dibuat, pasti memiliki tujuan Gar, begitu pula lukisan ini.”
“Menurutmu kenapa Refan membuat lukisan itu?”
“Refan ingin agar lukisan ini diteruskan oleh seseorang yang sangat ia sayangi.”
“Tapi Refan tidak pernah punya pacar.”
“Nggak harus pacar sih, bisa juga keluarga...”
“Kamu aneh, tidak ada yang bisa melukis di rumah ini, hanya Refan yang bisa.”
“Setidaknya, ada seseorang yang paling dekat dengan Refan dan mengetahui banyak hal tentang lukisannya,” Jawab Awan sambil memandang ke arah Egar.
Awan mengeluarkan sebuah brosur yang berisi pengumuman lomba cerdas cermat, lalu menyodorkan ke arahnya, “Aku sudah mendaftarkan kamu untuk menjadi tim kita.”
Egar menatap brosur itu dan meraihnya dari tangan Awan, “Ini event murahan, buat apa kamu mendaftarkan saya, saya tidak seharusnya ikut event rendah seperti ini.”
“Aku ingin sepertimu, yang sering memenangkan setiap lomba, tolong ajarilah kami,” ucap Awan sambil tersenyum.
Egar membuang muka. “Apa kalian sudah sadar dengan kelemahan pendidikan kalian selama ini? akhirnya kalian sadar juga.”
Awan hanya tersenyum, lalu ia memandang lukisan itu, “Aku berharap kamu akan meneruskan lukisan itu, Gar,” ucapnya.
Egar memandang lukisan itu, dia pernah memikirkan hal yang sama, tapi ia tak yakin akan mampu, karena Refan sekarang bukan lagi seseorang yang ia hormati sebagaimana dulu.
“Kamu lebih pintar melukis, harusnya kamu saja.”
“Aku bukan kak Refan, dan aku juga tidak pernah mengenal dia. Kamu lah yang lebih mengenal dia,” jawab Awan.
Egar terdiam, ia memang mengenal Refan, bahkan sangat mengenalnya. Tapi, kini nama Refan begitu asing, begitu manyakitkan untuk dikenang. Tak lama kemudian suara adzan memekik dari ponsel Awan, menandakan telah masuk jadwal shalat Ashar.
“Disini Masjid terdekat mana Gar? Ayo sholat bareng, kita ke Masjid.”
“Shalat?” Egar sedikit limbung, sebuah istilah yang lagi-lagi begitu asing.
“Iya, ayo,” Awan menarik tangan Egar dan mengajaknya keluar rumah mencari Masjid, Mamang terkesiap melihat mereka berdua.
“Mau kemana den?” tanya Mamang.
“Mau ke Masjid, Mang,” jawab Awan.
“Mamang antarkan ya,”Pinta Mamang yang terlihat sibuk mencari kunci mobil di sakunya.
“Ah nggak usah Mang,” jawab Awan.
“Tapi, Nak....”
Egar memberikan isyarat tangan, Mamang hanya mengangguk dan mereka berjalan keluar pintu gerbang. Ini untuk pertama kalinya, selama tiga tahun terakhir ini, Egar keluar rumah tanpa didampingi Mamang.
Egar tak memprotes sedikit pun dengan ajakan Awan, ia melihat jika Awan sangat mirip dengan Kakaknya. Suka memaksa, cerewet, dan selalu terlihat ceria. Tanpa ia sadari, ada sebuah senyum kecil tersungging dari bibir Egar. Entah, kapan terakhir kali ia tersenyum. Egar terus membuntuti Awan dan Awan terus-terusan berbicara, entah mengomentari lingkungan rumahnya, atau menanyakan hal-hal yang menurut Egar tidak penting.
“Bagaimana, Gar?” tanya Awan.
Egar terkesiap, ia tak begitu memperhatikan apa yang tadi diucapkan Awan, ia hanya mengamati gelagatnya yang mirip Refan. Ternyata jarak Masjid dengan rumah Egar cukup jauh, mereka cukup kelelahan melakukan perjalanan itu.
Selepas shalat ashar berjamaah, Awan mengajak Egar berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan, di salah satu rumah, tanpa sengaja ada seekor anjing yang terlepas rantai pengikatnya. Awan sangat takut dengan anjing, mereka pun berlari terbirit-birit. Egar berulang kali mengingatkan tentang kondisi Awan, berlari seperti ini bukan ide yang baik, tak lama kemudian ada sesuatu terjadi dengan Awan. Ia pun roboh.

My Plukme

My Plukme
Klik gambar