loading...

Kamis, 09 April 2015

Dari PII, HMI, kemudian Muhammadiyah



Agak lama saya berbincang dengan bapak ini. Karena belakangan, Beliau mulai menaruh perhatian serius pada anak-anak muda Muhammadiyah, terutama yang berafiliasi di IMM. Ini bukan pertemuan pertama, kalau tak salah sudah ketiga kalinya. Salah satu statement yang masih saya ingat waktu pertama kali berbincang dengan beliau adalah “Seharusnya IMM itu tidak perlu ada, cukup IPM. Mahasiswa kan juga pelajar.”

Sebagai tokoh sepuh, tentu bapak ini tidak asbun (asal bunyi), melainkan sudah melalui perenungan yang panjang. Meskipun, beliau juga bercerita soal latar belakang organisasinya terdahulu, mulai dari PII (Pelajar Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan kemudian menjadi pengurus Muhammadiyah. Menurutnya, PII dan HMI pada zamannya tidak memiliki perbedaan signifikan dengan Muhammadiyah, kecuali dalam gerakan politik. Gerakan politik pun, dinilai wajar bagi organisasi semacam HMI yang memiliki jejaring alumni bernama KAHMI tersebut.

Sebagai alumni PII dan HMI, tentu bapak ini tidak punya cukup waktu untuk mengamati IMM secara lebih dekat. Bahkan, waktunya sudah habis untuk memenuhi undangan kajian dan perkaderan dua organisasi itu. IMM sendiri jarang mengundang beliau secara personal. Kalaupun hadir, biasanya karena tanggung jawab struktural, sebagai Ayahanda. Karena bagaimana pun juga, IMM adalah organisasi otonom dibawah Muhammadiyah.

Dalam pandangannya, termasuk pengalamannya menghadiri acara IPM dan IMM, bapak itu berujar : Kalau ke acara IPM, disana juga banyak yang mahasiswa, apalagi kalau IPM Wilayah, pengurusnya rata-rata Mahasiswa semua. Di IPM Pusat juga demikian. Jadi, seharusnya cukup IPM saja, tidak perlu ada IMM. Hadirnya IMM, dinilai latah, atau karena waktu itu para pendirinya tidak sepakat dengan sepak terjang HMI, lalu mendirikan IMM. sama seperti anak-anak muda NU yang kemudian mendirikan PMII. Akhirnya PMII tidak begitu betah sebagai ortom NU dan membuat manifest independensi.

Terlepas dari pro kontra soal sejarah berdirinya IMM, saya fikir tidak mungkin juga PP Muhammadiyah kala itu mengesahkan Ortom baru tanpa melalui kajian mendalam. Apalagi, IMM lahir empat tahun setelah lahirnya IPM. Secara praksis, IPM memang wadah untuk pelajar, SD hingga SMA. Dan IMM untuk mahasiswa. Meski tidak bisa dipungkiri, pengurus IPM apalagi level wilayah dan pusat, harus dijabat oleh kader senior yang rata-rata memang sudah mahasiswa. Hal yang serupa dengan IMM, dimana pengurus DPP-nya sendiri rata-rata sudah lulus s1, tengah menjalani s2, bahkan ada yang sudah menikah.

Tapi yang membedakan, kader IMM bisa menjadi kader IPM secara bersamaan, namun tidak sebaliknya. Karena kader IMM harus Mahasiswa. Barangkali itulah yang membedakan. Akhirnya, di IMM sendiri, secara umum timbul dua tipe kader. Pertama, kader hirarkis, yang sebelumnya sudah pernah ikut di IPM kemudian bergabung dengan IMM. Kedua, kader non-hirarkis, tentu saja yang belum berafiliasi dengan Muhammadiyah ataupun ortomnya. Termasuk saya, yang mulai menjadi kader Muhammadiyah ketika bergabung dengan IMM.

Yang membedakan lagi, IPM tumbuh di Sekolah-sekolah milik Muhammadiyah atau sebagian di Universitas Muhammadiyah. Sementara IMM ada di hampir semua kampus, entah itu PTM, PTN, dan PTS. Sangat jarang sekali IPM muncul di Sekolah Negeri, bahkan saya belum pernah mendapati IPM yang secara definitif berdiri di Sekolah non Muhammadiyah. Adapun di level desa atau kecamatan, yang dulunya masih bernama IRM.

PII dan HMI pun, jika kita menelisik sejarah, sebenarnya adalah dua organisasi sayap yang mendukung Masyumi. Masyumi dalam arti sebagai Organisasi dan Partai Politik. Jadi, andaikata Masyumi tidak dibubarkan Presiden Soekarno, barangkali kita akan melihat secara jelas hirarkis Organisasi ini. Sementara kedekatan PII mapupun HMI kepada Muhammadiyah, bukanlah kedekatan secara struktural, melainkan kedekatan dalam aspek ideologi dan historis. Ideologi pun, lebih pada aspek fiqiyah, bukan harakah. Masyumi berpolitik praktis, sementara Muhammadiyah tidak. disinilah titik perbedaan yang mendasar.

Setelah Masyumi dibubarkan, PII dan HMI masih terus eksis hingga sekarang, dan jadilah dua organisasi ini kehilangan orientasi politik tunggal. Akhirnya, kader-kader HMI melakukan diaspora ke berbagai Ormas hingga Partai Politik. Salah satu Organisasi yang dirasa nyaman bagi kader HMI kala itu adalah Muhammadiyah, yang terkenal sebagai Gerakan Islam Modernis. Meskipun tidak sedikit juga yang ke NU. Sementara untuk afiliasi parpol, sangat susah mengidentifikasi mana parpol yang sekiranya sejalan dengan idealisme mereka sebagai kader HMI. Apalagi, banyak juga kader HMI yang kemudian bergabung dengan Partai Nasionalis, yang bercorak kiri.

Kembali ke diskusi dengan bapak tersebut, sebagai kader yang lebih muda, tentu kita bisa memahami perbedaan generasi. Dalam generasi beliau, HMI barangkali adalah Muhammadiyah. Namun dalam generasi sekarang, tentu sudah berbeda konteks dan orientasi. Mungkin benar bahwa kalau sudah ada IPM, tidak perlu ada IMM. Sebagai gantinya, bisa bergabung dengan HMI. Namun harus di pahami, tidak semua Mahasiswa bisa mengakses IPM, dan tidak semua kader HMI (hari ini) juga berafiliasi dengan Muhammadiyah. Lebih banyak yang ke Parpol. Sementara IMM, secara administratif adalah sah ortom Muhammadiyah, yang salah satu materi perkaderannya adalah ke-Muhammadiyahan.

Dalam perbincangan ketiga tersebut, beliau juga bercerita soal salah satu tokoh potensial HMI yang dia prediksi akan menjadi tokoh besar, bahkan ia yakin kader HMI ini akan melampaui Mahfud MD yang populer tersebut. Namun keyakinan itu sirna setelah KPK menetapkannya menjadi tersangka. Saya tidak perlu menyebut siapa kader HMI yang dimaksud bapak ini, anda pasti sudah bisa menebaknya.

Ditengah rundungan duka karena kader idolanya tertangkap KPK, beliau juga merasa sedih karena aktivis Mahasiswa, yang berafiliasi dengan Organisasi Ekstra, tidak lagi memiliki prospek yang baik sebagai pemimpin masyarakat. “Masak kader yang sudah kita didik mulai dari komisariat, cabang, daerah hingga pusat, kalah sama Jokowi yang ketika mahasiswa hanya sibuk di kelas.” ujarnya dengan sedikit bercanda. Beliau juga prihatin dengan tenggelamnya idealisme para aktivisi mahasiswa yang akhirnya mendapatkan jabatan, baik di Legislatif maupun Eksekutif. Meskipun beliau masih memiliki ekspektasi tinggi terhadap salah satu kader HMI, yang kini menjadi Menteri, yaitu Anies Baswedan.

Di satu sisi, dengan kebijaksanaan beliau, tercetus sebuah pertanyaan reflektif. “Kapan ya ada politisi yang murni didikan Muhammadiyah?” tentu pertanyaan ini sangat berat di jawab, karena Muhammadiyah memang tidak terlibat dalam politik praktis. Menurutnya, banyak tokoh yang mendekati Muhammadiyah ketika menjelang pemilu, atau bahkan mengaku sebagai kader, tapi tujuannya untuk menggaet suara. Adapun kader Muhammadiyah yang terjun ke politik, umumnya mendapatkan pendidikan dan ideologi politik dari Organisasi lain yang sudah mapan, salah satunya HMI.

Sehingga, seringkali cara fikir politis masuk dalam struktur Muhammadiyah. Termasuk diantaranya, dalam memandang IMM sebagai Ortom. Ada yang masih menggunakan pola pikir HMI dalam melihat IMM. Inilah yang sering menyebabkan salah paham, atau setidaknya, friksi di dalam Muhammadiyah sendiri. Namun ada juga Ayahanda Muhammadiyah yang menyadari betul bahwa ketika ber-Muhammadiyah, lepaslah jubah ke-HMI-annya dan memandang IMM dari sudut pandang sebagai Ortom Muhammadiyah, dan bukan pesaing HMI.

Sebagian kader IMM juga berfikiran bahwa banyaknya Ayahanda yang dulunya HMI tidak begitu aware dengan mereka. Akhirnya, kita tidak bisa saling menyalahkan satu sama lain. Kita harus memahami kondisi setiap generasi. Tapi konklusi dari bapak itu menarik juga : Melihat fenomena yang ada, agaknya Muhammadiyah memang membutuhkan IMM sebagai jembatan perkaderan, baik dalam aspek akademik dan politik, yang nantinya akan melahirkan the origin of Muhammadiyah.

Barangkali, dengan kesadaran demikian, kedepan akan jarang kita dapati Hirarki PII – HMI – Muhammadiyah. Tapi formatnya demikian, IPM – IMM – Muhammadiyah. Semoga. (*)

9 April 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar