loading...

Rabu, 01 April 2015

Daendels



Setelah kemacetan, kita akan singgah ditempat itu. Hanya dua hal yang kuingat ; Daendels dan imajinasi para kodok yang bermain musik. Para kodok itu, tak terlalu buruk untuk kita jadikan teman setelah sekian banyak gas knalpot yang kita hirup ke paru-paru dan membuat dada kita sesak. Kodok-kodok itu mirip Gamakichi yang lucu, lihai, dan suka menolong.

Di tempat itu pula, kita dihadapkan pada keramaian yang lain. Bukan keramaian yang letih dan penuh umpatan. Ribuan jejak kaki menyusur kompleks yang padat, beserta senyum yang terurai lebar. This time to fun, katamu berbisik lirih dan kita pun lekas beranjak.

Kita telah belajar tentang dua jenis keramaian hari ini : keramaian yang penuh keluhan, dan keramaian yang penuh keceriaan. Jangan lagi berseloroh tentang keheningan, karena sekarang kota sudah semakin ramai. Ratusan ribu orang muncul dari rahim-rahim suci setiap tahunnya. Kita hanya bisa menerima ini sebagai sebuah takdir yang harus dimenangkan.

Kita –yang barangkali adalah satu diantara puluhan yang kembali setelah pergi ratusan tahun silam—akan terperangah dengan keramaian ini. Tak akan ada lagi yang sepi, kalaupun ada, hanya sebagian orang yang diam, membisu, dan melirik sendu. Di dalam keramaian, segala hal nampak artifisial, termasuk tentang daendels dan imajinasi para kodok yang bermain musik.

Jangan takut akan keramaian ini, sayang. Karena keramaian tak akan merenggut kesunyian itu. Orang-orang ini hanya berjalan untuk memenuhi dahaganya sejenak, tak akan menghabiskan telaga kebahagiaan diantara kita. Karena siapa yang mampu melakukannya?

Di belahan bumi yang lain, keramaian bukan sesuatu yang baru, ia menyusup dalam keheningan diri, diantara klakson tua yang berbunyi, diantara panas terik yang menjadi-jadi, dan euforia lampu-lampu kota. Ditengah keramaian itu, kata-kata bukan lagi wujud estetika. Karena –sekali lagi—keramaian telah merenggut keheningan itu.

Untung saja, ditengah gumulan asap yang pekat dan bising suara percakapan yang memekakkan itu, aku masih dengan jelas membaca sebuah kata indah yang tertulis di plang hijau itu ; Daendels.

Apa itu daendels? Jangan lagi berseloroh tentang dandelion atau adeleide. Ini tak ada hubungannya dengan daratan eropa atau potongan tempat di negeri kanguru. Daendels adalah sebuah nama yang jarang diperhatikan di bagian terpadat Kabupaten Lamongan.

Sambil menguliti jejak, aku mencatat namanya sembari menunggu mesin berasap ini singgah di salah satu desa bernama Karangbinangun, berlanjut ke sendang dhuwur, melintas lopang kembangbahu dan terdiam lama di lawak ngimbang. Konon, tempat ini dekat dengan wonosarama, tempat bidadari berkumpul.

Sambil menyeduh segelas kopi robusta, kita nikmati saja keramaian ini.

Lamongan, 24 Juni 2014
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar