loading...

Selasa, 31 Maret 2015

Ritus Kesunyian (42)



 “Tapi aku tak yakin sekolah itu akan bertahan lama kek,” jawabnya.
Kakek itu tersenyum, dia meletakkan alat pahatnya dan menepuk pundak pemuda itu, lalu berkata.
“Kau bisa melakukan sesuatu untuk mempertahankan sekolah itu, bukan?”
“Kakek benar.”
“Kalau kau diam, dan semua orang juga diam, bagaimana mereka yang awam, mengetahui kebenaran?”
Pemuda itu memandang lekat wajah sang Kakek, terlihat gurat kebijaksanaan menghias wajahnya, ia beruntung pernah bertemu kakek itu dan belajar banyak hal. Lalu, pemuda itu membuka laptopnya, dan mempelajari lebih lanjut SMA Cahaya hati. Ia harus melakukan sesuatu.
Saat baru membuka halaman beranda website sekolah itu, ia terperanjat melihat sebuah foto perempuan yang sangat ia kenal, ia hanya terperangah, terpaku didepan laptopnya. Sang kakek berjalan ke arahnya, memastikan apa yang tengah terjadi.
“Kek, perempuan ini.....,” ucapnya sambil menunjuk sebuah foto dalam website itu.
“Sepertinya dia sudah belajar banyak dari hidupnya, harusnya kamu senang,” respon sang kakek.
Pemuda itu semakin bersemangat, ia mempelajari dengan seksama konsep Pendidikan sekolah itu dan membelajari pendirinya, seorang perempuan yang begitu familiar, tak terasa air matanya mengembun, ia tak sanggup membayangkan, apa yang terjadi selama ini, karena ia tahu betul siapa perempuan itu. tiba-tiba ia teringat banyak hal, mulai dari perlawanan itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi.
****
Di rumah Egar
“Nak Awan,” pekik Mamang yang terkejut melihat Awan telah berdiri didepan pintu gerbang rumah Egar. Ia masih berseragam sekolah. Sepulang sekolah, ia langsung menuju rumah Awan.
“Egar ada, Mang?” tanya Awan.
“Ada,” Mamang segera membuka pintu gerbang, lalu ia mempersilahkan Awan untuk masuk, sementara Egar mengamati dari balkon rumahnya.
“Untuk apa dia kesini?” bathin Egar, ia beranjak dari tempat duduknya, menuruni tangga dan berjalan menemui Awan.
Sesampainya di ruang tamu, mereka berpas-pasan.
“Egar..” pekik Awan dengan senyum merekah.
“Den, ini dicari nak Awan,” jelas Mamang.
Egar berdiri menatap Awan, ia amati dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Untuk apa kamu kesini? Bukankah kamu masih sakit?” tanya Egar.
“Ah nggak kok, aku sehat-sehat saja, wah, rumah kamu megah ya,” jawab Awan sambil berjalan mengamati rumah mewah itu. Sementara, Mamang berjalan meninggalkan mereka berdua.
Egar berjalan menaiki tangga, Awan dengan senewen mengikutinya.
“Di rumah sebesar ini, kau hidup sendiri?” tanya Awan sambil membuntuti Egar.
“Kamu sudah tahu, saya tak perlu menjawabnya.”
Di dekat garasi mobil, Mamang tersenyum bahagia sambil mencuci mobil, Bi Darsi yang melihat Mamang merasa aneh.
“Mang, ada apa kok senyum-senyum sendiri?” tanya Bi Darsi.
“Itu Dar, saya teh seneng den Egar sekarang tidak cuek lagi, sepertinya den Egar sudah mulai cair,”
“Maksud kamu op to Mang?”
“Itu, barusan ada temannya den Egar yang datang ke rumah.”
“Teman? Emange den Egar punya temen?”
Mamang hanya memberi jempol, Bi Darsi pun ikut tersenyum bahagia. Selama lima tahun bekerja di rumah itu, Bi Darsi dan Mamang tak pernah melihat Egar dikunjungi temannya. Ini adalah untuk yang pertama, dan itu adalah Awan.

My Plukme

My Plukme
Klik gambar