loading...

Kamis, 26 Maret 2015

Ritus Kesunyian (36)



#8
Bagaimana caramu bahagia?
 
Sebuah tulisan di media massa dengan tajam mengkritik SMA Cahaya hati Malang, Bu Mira beserta jajaran akhirnya melakukan rapat mendadak untuk merespon tulisan tersebut. Apalagi penulisnya bukan orang asing, orang yang sudah sejak lama bersikap sinis dengan sekolah itu.
“Jika terus begini, saya takut banyak orang tua yang terprovokasi dan memindahkan anaknya dari sekolah ini, Ibu juga tahu jika setiap tahun peminat sekolah ini semakin berkurang,” keluh Pak Dibyo.
Bu Mira terdiam, Egar telah bertindak begitu jauh, ia tidak pernah berfikir jika Egar akan melakukan hal seperti ini.
Sementara itu, Egar berjalan menuju taman sekolah, siang itu masih begitu sepi, karena para murid sedang belajar. Ia menelepon Mamanya.
“Kenapa Mama begitu cepat bertindak? Bukankah saya bilang jangan dulu, tunggu dulu sampai saya mendapatkan data yang banyak,” protesnya.
“Tidak, kondisinya sudah kian mendesak, Mama tidak ingin media mendahului pemberitaan yang negatif tentang Mama. Mama ingin seluruh dunia tahu jika kepindahanmu disana hanya bagian dari upaya untuk semakin melemahkan sekolah itu. ternyata kamu lebih pintar dari yang Mama kira ya, jadi sekarang kamu sudah paham tentang Refan?”
“Tentu, saya bukan anak bodoh, saya lebih pintar dari Mama dalam mengkritik, selama ini Mama tidak mengkritik dengan tegas sekolah ini. Kenapa Mama tidak bilang jika kematian Refan karena terpengaruh oleh konsep bodoh sekolah ini?”
“Mama ingin kamu mengetahuinya sendiri, sebelum meninggal, Refan sangat dekat dengan Mira. Dia jadi menentang segala perintah Mama, akhirnya prestasinya menurun dan dia kehilangan arah hidup karena terlalu bebas berjalan dengan perasaannya, seandainya dia mengikuti apa yang Mama katakan, dia pasti tidak akan menjadi seperti ini. Dia pasti akan menjadi seperti kamu sekarang ini.”
“Saya tahu Ma, tapi apa yang Mama lakukan ini bisa membuat saya dikeluarkan dari sekolah ini dan saya tidak bisa lagi meneliti banyak hal tentang keburukan sekolah ini.”
“Sudah cukup, kamu memang harus segera keluar dari sekolah itu, tulisan Mama itu direspon positif oleh dewan Pendidikan, dalam waktu dekat sekolah itu akan mendapatkan teguran, mungkin saja, dalam waktu dekat sekolah itu akan dibubarkan,” jawab Mamanya dengan nada khawatir, sebenarnya ia takut jika Egar justru akan terpengaruh oleh konsep Pendidikan yang diajarkan Bu Mira.
“Jadi begitu?”
“Iya, andaikan Kakakmu masih hidup, pasti ia akan bertindak sama dengan kamu, ia ingin menunjukkan jika jalannya selama ini salah dan harusnya sekolah-sekolah seperti itu dibubarkan, karena hanya akan merusak mental peserta didik dan mengajarkan mereka kebebasan dan tidak taat aturan Pendidikan yang ada.”

My Plukme

My Plukme
Klik gambar