loading...

Rabu, 18 Maret 2015

Ritus Kesunyian (28)





#6
Menemukan Rindu itu

 
Di kantor kepala sekolah
Bu Mira terbeliak dengan surat yang masuk, sebuah desakan datang dari banyak pihak, selain dari Guru dan Komite sekolah, juga dari pihak orang tua. Mereka menuntut supaya Egar dikeluarkan dari Sekolah itu, karena kehadirannya bisa menjadi bom waktu yang akan meledak kapanpun. Ia bingung harus bersikap, sepertinya mereka telah membaca berita di koran dan memutuskan untuk menulis surat-surat ini.
“Bagaimana, Bu?” tanya Pak Dibyo, sebagai Waka Kesiswaan, tentu ini merupakan bagian yang sangat penting baginya.
“Mengeluarkan Egar dari sekolah ini?” Bu Mira terlihat risau, “Tapi disisi lain kita tidak bisa mengacuhkan surat-surat ini,” lanjutnya sambil memandangi tumpukan kertas itu.
“Apa kita perlu memanggil Egar untuk menanyakan langsung benarkah dia sekolah disini hanya untuk mengetahui sisi buruk dari sekolah ini?” Pak Dibyo memberikan usulan.
“Saya paham betul karakter anak itu, Pak. Kalau menurut Pak Dibyo, bagaimana baiknya?”
“Hmm... kalau saya menyarankan, kita memang harus tegas dengan anak itu, Bu. Kita harus memilih dua opsi ; mempertahankan dia atau mengikuti kemauan guru, komite dan orang tua wali.”
Bu Mira tercenung, sejak kemarin malam berbagai sms telah masuk ke ponselnya, isinya hampir sama, mengharapkan agar siswa yang bernama Egar itu dikeluarkan dari Sekolah. Sebuah keputusan yang tidak mudah, karena ada misi tertentu yang sedang ia rencanakan, dan jika berhasil ini akan merubah banyak hal, tapi tentu itu butuh banyak waktu.
“Kasih saya waktu untuk memikirkan ini, dalam waktu dekat saya akan memberikan jawaban.”
***
Setelah kejadian itu, Edo mulai menjaga jarak dengan Egar. Ia tahu jika preman-preman itu adalah orang yang disuruh Egar untuk membalaskan perlakuannya pagi itu. Tensi antara keduanya semakin menegang, namun Awan mencoba meredam, sekalipun Awan juga sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Egar.
Egar sendiri hanya terlihat sibuk dengan tablet mininya, ia menulis banyak hal, termasuk keburukan sekolah itu, ia berharap jika ini akan menjadi rekomendasi untuk setiap orang tua agar tidak menyekolahkan anaknya kesini, sekolah yang hanya akan mengajarkan seseorang menjadi kejam seperti halnya Kak Refan, orang yang pernah ia banggakan dan kini sangat ia benci.
“Jika Refan menyayangi kamu, tidak mungkin dia meninggalkan kamu dengan cara seperti ini, dia bunuh diri karena terbawa perasaannya, dia tidak pernah memikirkan kamu. Sekarang kamu nilai sendiri, bukankah Refan yang kamu banggakan itu begitu kejam? Sekarang terima sendiri konskwensinya, coba kalau Refan nurut dengan Mama, dia tidak akan mungkin terjerumus ke hal-hal seperti ini,” kata-kata Ibunya itu masih melekat kuat dibenaknya.
Selama ini itulah yang ia yakini, sebelum kematiannya, Refan memang sering menentang cara mendidik Mamanya. Mamanya bersikap sangat ketat, ia melarang Refan untuk menggambar, melukis, menari dan segala hobi seninya. Mamanya itu juga pernah membakar buku-buku sastra yang dengan susah payah dibeli Refan.
“Buku-buku sampah seperti ini harus dibuang, mau jadi apa kamu, sastrawan? Seniman? Kamu harusnya tahu siapa diri kamu, kamu itu anak Mama, seorang akademisi, bukan anak seniman. Ngerti!”
Egar terus-terusan mengenang peristiwa pahit tersebut, sampai pada pucaknya, Refan memutuskan untuk bunuh diri dengan menenggelamkan tubuhnya di arus sungai brantas yang dalam. Sampai saat ini, jasadnya saja masih belum ditemukan. Ia tak mau seperti Refan, mati secara sia-sia, ia harus melakukan banyak hal untuk hidup ini, termasuk meluruskan konsep pendidikan yang salah kaprah ini.
Di ruang komite sekolah
Jam istirahat, Pak Dibyo memanggil Egar, disana sudah hadir beberapa orang, termasuk Bu Mira dan Pak Daus, selaku wali kelas. Juga sudah hadir wakil dari komite sekolah. Panggilan itu begitu mendadak, Komite sekolah bersikap sangat over reaktif. Pemberitaan di media itu agaknya menimbulkan reaksi besar. Kini Egar harus melawan berbagai pertanyaan tentang statement Ibunya di media beberapa hari lalu.
“Katakan dengan sejujurnya, Nak. Kamu pindah ke sekolah ini atas keinginan kamu sendiri atau suruhan dari Ibu kamu?” tanya Pak Yusliar, wakil dari komite sekolah itu.
“Dua pertanyaan yang jawabannya sama. Bukankah anda tidak senang dengan Ibu saya? Untuk itulah saya pikir anda tidak perlu menanyakan hal sepele itu,” jawab Egar dengan tenang.
“Kamu ingin mempelajari keburukan sekolah ini?” Pak Yusliar mencecar.
“Apa itu salah?”
“Jelas salah.”
“Apa anda yakin sekolah ini benar-benar bagus?”

My Plukme

My Plukme
Klik gambar