loading...

Jumat, 13 Maret 2015

Ritus Kesunyian (23)




#5
Diam dalam kerinduan

“Ha?” perempuan itu tertegun melihat berita di media massa, sebuah berita negatif yang bisa saja merusak reputasinya. Memang, setelah sukses dengan karir akademiknya, segala hal tentang perempuan itu selalu di sorot, terlebih isu-isu hangat terkait Pendidikan. Pagi ini, sebuah media online memberitakan tentang kepindahan anaknya ke sebuah sekolah yang pernah ia kritik.
“Ini yang aku takutkan,” pekiknya. Lalu ia mengambil handpone dan menelepon Egar. Ia geram dengan berita pagi ini.
“Halo, kamu sudah melihat ulah kamu? Apa kamu ingin merusak reputasi Mama?” keluhnya.
“Mama jangan khawatir,” jawab Egar, pagi ini ia tengah duduk di balkon ditemani secangkir teh hijau, kondisinya masih belum pulih betul pasca kecelakaan beberapa waktu lalu, “Saya akan tetap berada di pihak Mama, saya sadar jika konsep Pendidikan Mama adalah konsep terbaik,” lanjutnya.
“Lantas kenapa kamu memilih pindah kesana? Segera pindah, kalau tidak pemberitaan akan semakin kencang.”
“Saya memiliki misi sendiri di sekolah itu, Ma. Saya pindah kesana bukan karena kagum dengan konsep Pendidikannya, tapi saya akan menunjukkan jika sekolah itu sangat buruk.”
“Apa maksud kamu?”
“Suatu kelak akan saya ungkapkan ke media tentang kelemahan mendasar dari sekolah itu, saya berniat menghancurkan sekolah itu.”
Perempuan itu terdiam sejenak, ia tak pernah berfikir jika anaknya memiliki pemikiran seperti itu. Tapi lumayan juga rencana itu.
“Bagaimana caramu menghancurkan sekolah itu?”
“Saya akan mempelajari sekolah tersebut, dan tiba saatnya nanti, ketika sudah banyak data yang saya dapatkan, saya akan ungkap keburukan sekolah itu hingga tak ada satu anak pun yang sudi bersekolah disana.”
“Sejak kapan kamu punya pemikiran seperti itu?”
“Sejak....,” Egar berhenti sejenak, ia mengingat kembali wajah Awan dan juga Kak Refan, “Sejak saya bertemu anak itu, anak yang mirip dengan Refan,” lanjutnya.
Belum sempat Ibunya membalas, Egar mematikan telepon. Ada perasaan tak menentu muncul, ia tahu jika sekolah itu akan melahirkan banyak orang-orang seperti Refan, dan ia tak ingin tertular. Ia sangat benci dengan Refan, meskipun memiliki sikap kepedulian yang tinggi, tapi baginya Refan adalah seorang yang kejam dan pengecut. Ia membuat orang lain bergantung padanya, tapi disisi lain ia dengan sengaja meninggalkan orang tersebut.
Berulang kali ponselnya berdering, sebuah telepon dari Mamanya, tapi ia acuhkan.
***
Di kantor kepala sekolah
Bu Mira terdiam lama di depan layar komputer, ia tidak bisa membayangkan bagaimana geramnya Ibu Egar membaca berita itu. Anak satu-satunya, rela pindah ke sebuah sekolah yang selama ini mendapatkan kritik tajam darinya. Sungguh kontradiktif, ketika sang Ibu melarang para orang tua untuk menyekolahkan anaknya disini, justru anaknya sendiri pindah ke sekolah ini.
Bu Mira sendiri sangat terkejut dengan keputusan Egar untuk pindah ke sekolah ini, namun Ayahnya, pernah menghubunginya dan mengatakan jika Egar tengah merindukan sesuatu, dan mungkin saja ia akan menemukan banyak hal disekolah itu. Bu Mira tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Permisi, Bu?” sebuah suara memanggilnya. Ia terkesiap dan lekas membersihkan wajahnya dengan tisu. “Iya, masuk,” balasnya.
“Ada tamu dari tim survey, sekarang sedang menunggu di ruang tamu, Bu.”

My Plukme

My Plukme
Klik gambar