loading...

Rabu, 11 Maret 2015

Ritus Kesunyian (21)



Kini giliran Awan yang tersentak, ia langsung mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Mamang. Bagaimana mungkin Mamang bisa berbohong juga?.
“Sejak kapan? Bukankah Mamang dan Awan baru kali ini bertemu? Dan Awan sudah menyebut nama Refan satu minggu yang lalu. Sepertinya kalian telah bersekongkol,” ucap Egar.
“Kami sudah lama kenal, semenjak pertama kali den Egar masuk sekolah baru itu, tapi mungkin den Egar tidak pernah mengetahuinya,” Mamang menjelaskan dengan lancar.
Awan mengangkat kepala dan memandang ke arah Mamang, terlihat lirikan mata Mamang yang menyimpan sesuatu berbarengan dengan senyum penuh tanda tanya. Kenapa dengan Mamang? Bathin Awan.
Egar tak merespon, lalu ia membuang muka.
“Untuk apa Mamang lakukan itu, bukankah Mamang tahu jika Refan adalah orang yang sangat saya benci, terlebih ada orang yang sikapnya mirip dengan dia disini, apa saya perlu membayar orang untuk menyingkirkannya?” tanya Egar.
Awan terhenyak, kaget tak kepalang. Sejurus kemudian ada rasa ngeri yang menyergap pikirannya. Betapa bencinya Egar dengan orang yang bernama Refan, sampai-sampai dia berkata seperti itu.
“Kamu harus jujur, sebenarnya kamu tidak pernah benci dengan Refan, justru kamu .......”
“Tau apa kamu soal Refan? Saya lebih tahu, karena dia saudara saya, mulai sekarang berhentilah bertingkah seperti Refan, karena saya sudah muak,” potong Egar.
Mamang memberikan sinyal ke arah Awan untuk segera meninggalkan ruangan, karena dia tahu betul tipikal Egar ketika sedang berada pada posisi seperti ini, segalanya bisa terjadi, sekalipun itu diluar nalar.
Awan mengalah, ia berjalan keluar ruangan, kemudian Mamang mengikutinya dari belakang. Mereka terhenti di balkon rumah sakit.
“Kenapa Bapak berbohong?” tanya Awan.
“Ini untuk kebaikan den Egar,” jawab Mamang dengan singkat.
“Kebaikan?”
“Iya, supaya den Egar bisa kembali mengingat den Refan.”
“Apakah Mamang bisa menjelaskan lebih detail?” Awan mulai menelisik.
“Dulunya den Egar tidak sedingin itu, dulu dia ceria, sama seperti anak pada umumnya. Tapi semenjak kematian den Refan, sikapnya berubah drastis, dia menjadi dingin, kaku, dan jauh dari den Egar yang dulu. Mamang sudah merasakan perubahan sikapnya selama dua tahun ini,” jelas Mamang.
“Jadi begitu?” Awan tercenung. “Itulah kenapa Bu Mira begitu memperdulikannya?” bathin Awan.
Mereka berdua pun terdiam, sampai kemudian adzan magrib berkumandang dan terdengar handphone Awan memekik dari saku baju, sebuah isyarat dari Ibunya agar segera pulang ke rumah.
Awan berjalan kembali ke kamar Egar untuk mengambil tasnya, sementara Egar baru saja mengakhiri perbincangan melalui telepon.
“Egar, aku pulang dulu ya?” pamitnya.
Namun Egar tak merespon, wajahnya memerah, terlihat aura kebencian terpancar dan tertuju ke arah Awan. Sementara Awan memasang tasnya dan tersenyum ke arah Egar. Ia berjalan menuju pintu untuk keluar, namun ia terhenti sejenak dan mengatakan sesuatu.
 “Gar, hidup manusia tidak hanya dinilai dari seberapa banyak ia meraih nilai bagus dalam rapor. Tapi lebih dari itu, sejauh mana keberadaannya mampu melengkapi kehidupan orang lain, manusia tidak hanya memiliki akal rasional, tapi dia juga memiliki hati dan perasaan,”
Awan bergegas meninggalkan ruangan itu, sementara Egar dengan geram memandanginya, sebuah kata-kata yang sangat ia benci. Ia berjanji akan menyingkirkan orang-orang seperti Refan, karena merekalah yang telah mengajarkan kesedihan. Ia ingat betul kata-kata Ibunya, sesaat selepas kematian kakaknya.
“Buat apa kamu menangis? Kakakmu telah memilih jalan hidupnya sendiri, Mama sudah bilang sejak awal, manusia yang terlalu menggunakan perasaannya hanya akan memberikan kepedihan. Seperti juga Kakak kamu, dia terlalu melankolis, pekerjaannya hanya melukis dan menggambar. Sampai kapanpun orang-orang seperti dia hanya akan mengajarkan kesedihan, jika kamu terus mengikuti kakak kamu, maka akan banyak kesedihan yang kamu alami.”
“Saya harus menghancurkan dia, saya harus menghancurkan sekolah itu,” Egar mengancam.
Sepertinya pertemuannya dengan Awan tak memberikan kesan baik, justru sebaliknya, ada luka yang kembali menyeruak. Sekalipun Awan telah menolongnya hari ini, namun mengingat senyum Awan, justru semakin membakar amarahnya.
Apalagi dengan kalimat Awan yang terakhir itu, kata-kata itu amat ia benci, ia pernah mendengar kata-kata itu tiga tahun yang lalu, tepat dua hari sebelum Kakaknya mati bunuh diri.
“Manusia itu punya hati dan perasaan, dek. Bukan robot yang harus diperlakukan semaunya, ia punya kehendak dan keinginan yang berbeda dari orang lain.”
Agaknya rencana Bu Mira akan terbalik, Egar tak akan kembali lagi seperti dulu, Justru dia akan menjadi musuh baru, dan ia jadi punya alasan yang kuat kenapa harus menyingkirkan orang-orang seperti Awan dan menghapus sistem pendidikan yang buruk itu.

My Plukme

My Plukme
Klik gambar