loading...

Selasa, 17 Maret 2015

Mencari separuh jiwa yang tersisa


Ilustration

Pagi-pagi sekali ponselku sudah berdering. Aku masih duduk di beranda sambil membaca sebuah buku ilmiah, dengan lekas kuamati 12 angka yang tertera di layar ponsel itu. siapa? Bathinku.

“Halo, Lan,” sapanya.
“Iya. Ini siapa?” tanyaku.
“Ini Alan kan? Gue Ruby, kakaknya Lola.”

Ruby? Memori otakku berputar, mencari ingatan tentang seseorang bernama Ruby, kakaknya Lola. Ya. Akhirnya ketemu juga. Ternyata dia Ruby, kakaknya Lola teman SMA ku dulu.

“Oh elo By, ada apa? Apa kabar?” tanyaku berbasa-basi.
“Baek, loe gimana? Masih di Malang kah?” tanyanya balik.
“Yups. Kenapa emang?”
“Lan, gue butuh bantuan loe, Lola sedang sakit keras di rumah sakit,” jelasnya.
“Ha, sakit apa?” aku terperanjat.
“Nggak ada yang tahu apa penyakitnya, tapi menurut ahli psikologi, sakitnya karena kehilangan seseorang yang ia cintai, yaitu Reymond.”

Aku terdiam sejenak. Reymond? Aku tahu jika Lola sangat mencintai Reymond. Mereka sudah berpacaran sejak kelas tiga SMA. Dulu, Lola sering bercerita denganku perihal Reymond. Dan dua pekan yang lalu, tersiar kabar jika Reymond meninggal karena kecelakaan pesawat. Pesawat yang ditumpanginya menuju jakarta, jatuh menabrak gunung salak di bogor. Seluruh penumpang tewas. Termasuk Reymond.

“Apa yang bisa gue bantu, By?” tanyaku.
“Loe bisa kesini, Lan? Lola sangat terpukul atas kematian Reymond. Ia telah kehilangan separuh jiwanya. Keadaan Lola kian hari kian memburuk, please, gue butuh loe buat support dia,” pinta Ruby.

Mensupport? Sejak lulus dari SMA aku memang lama tak berkomunikasi dengan Lola. Sesekali kami bertukar sapa di facebook. Aku terlalu sibuk kuliah dan bekerja. Begitupun Lola, ia kuliah jurusan Kedokteran, tentu waktunya sangat tersita. Sejak lulus, aku memilih kuliah ke Malang, sementara Lola mengambil kuliah ke Jakarta. Tapi? Apa yang bisa kuperbuat untuk kesembuhan Lola?

“Oke. Gue bakal jenguk dia, By. Di rawat dimana dia sekarang?” tanyaku.
“Di Rumah sakit dr. Soetomo Surabaya, Lan. Tolong banget ya, gue berharap loe bisa dateng secepatnya, soalnya kondisi Lola udah kritis banget. Gue takut nyawanya nggak tertolong,” jawab Ruby memelas.

Aku terpaku sendiri. Begitu parahkah kehilangan seseorang yang ia cintai? Sampai-sampai sakit parah dan dokter pun tidak mampu mendeteksi apa penyakitnya. Jika Reymond meninggal apa ia juga akan ikut meninggal. Ah, aku masih ingat kata-katanya dulu.

“Gue sayang banget sama Reymond, Lan. Gue nggak mau berpisah ma dia, dia udah jadi bagian dalam hidup gue. Kalau dia sakit, maka gue juga bakal sakit.”

Aku bangkit dari dudukku. Hari ini juga aku akan ke Subarabaya untuk menjenguk Lola. Sudah lama pula aku tak bertemu dia. Aku berharap dia tidak pergi secepat ini, ia harus bangkit dari keterpurukannya. Ia tak boleh terus-terusan meratapi kepahitan hidupnya yang telah kehilangan Reymond.

Aku siapkan beberapa perlengkapan seperlunya. Dengan langkah cepat, aku  menuju jalan raya dan menanti angkot AG untuk menuju terminal Arjosari dan dengan jasa Bus jurusan Malang-Surabaya, aku akan menemui Lola. Kali ini, otakku dipenuhi oleh bayangan Lola. Perempuan lincah, centil dan manja itu kini tengah terbaring tak berdaya. Menanti ajal. Tapi benarkah separah itu? benarkah Lola selemah itu?.

Aku sering membaca roman percintaan, dan faktanya memang ada. Banyak yang benar-benar terjatuh karena masalah percintaan. Banyak yang bunuh diri gara-gara percintaan. Banyak pula yang menjadi gila karena percintaan. Agaknya hipotesis yang dulu pernah aku buat manjur juga ; lelaki harus playboy, harus brengsek, agar ketika di putus cewek dia bisa dengan mudah melupakannya dan mencari pengganti. Agar tak terlalu lama terjatuh dalam kesedihan.

Jika Lola sakit parah hanya gara-gara kematian Reymond. Menurutku itu berlebihan, ia tak memikirkan orang lain. Andai Lola meninggal, betapa sedih kedua orang tuanya, begitu pula Ruby, kakak kandungnya. Dan aku juga akan sangat kehilangan sesosok sahabat lucu seperti dia. Tapi apa yang bisa aku perbuat untuk menolong Lola? Ah. Gelap.
***
Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya aku sampai di depan gerbang rumah sakit. Rumah sakit yang lumayan besar. Tapi aku yakin, siapapun yang memasuki tempat ini, di hatinya pasti ada rasa kesedihan, kekhawatiran, dan ketakutan. Aku membaca ulang sms Ruby ; ruang melati nomor 47. Aku lekas melangkahkan kaki ke ruangan itu.

Dadaku berdegupan. Takut-takut telah terjadi sesuatu dengan Lola. Menurut informasi terakhir dari Ruby, keadaan Lola sangat memprihatinkan. Apakah ini akan menjadi pertemuan terakhirku dengan Lola? Ah, aku tidak berharap demikian. Lola harus tetap hidup. Ia tak boleh mati secepat ini. Apalagi dengan alasan yang sangat tidak logis ; kehilangan separuh jiwa.

“Lan,” Ruby menyapaku dari kejauhan. Ia berlari dan memelukku.
“Gimana keadaan Lola?” tanyaku.
“Loe lihat sendiri ya,” jawabnya sambil menuntunku menuju ruangan berbau obat itu. disana sudah ada seorang dokter dan dua orang suster
“Ini memang aneh. Saya tak bisa mendeteksi apa penyakit yang ia derita. Ini sangat misterius,” ucap dokter itu. dari raut wajahnya, sepertinya dokter itu sudah pasrah, putus asa.

Aku melihat Lola terbaring dengan masker oksigen terpasang di mulut dan hidungnya. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, rambutnya tergerai kaku. Alat deteksi jantung masih memberikan sinyal negatif. Denyut nadinya dari hari ke hari kian melemah. Ada apa denganmu, Lola? Kemana perginya Lola si anak lincah, centil dan manja itu?.

Aku duduk di sampingnya. Dengan lembut kupegang tangan kanannya yang terpasang slang infus. Dingin. Lemas. Tak berdaya.

“La, ni gue Alan. Loe kenapa La? Kenapa Loe jadi kayak?” bisikku lirih ditelinganya.

Ruby berdiri di belakangku dengan raut sedih. Begitupula dokter dan dua suster itu. Ruby bercerita, satu hari setelah pemakaman Reymond. Lola jadi sering diam, menyendiri, dan susah makan. Ia lebih sering melamun dan mengigau. Ia berulang kali menyebut nama Reymond. Sampai akhirnya ia terkulai pingsan dan dibawa ke rumah sakit ini. dokter sudah meneliti tubuhnya, tak ada penyakit kronis.

Sekitar sepuluh menit berada di samping Lola, tiba-tiba tangannya bergerak. Ia meremas tanganku yang sedari tadi menggenggam tangannya. Dokter dan kedua suster itu terksiap, begitu pula Ruby.

“La, loe sadar La. La,” ucapku.
“A...Lan,” panggilnya lirih. Suaranya parau.
“Dek, kamu sadar,” sahut Ruby dengan mata berbinar.

Aku menggenggam tangan Lola dengan erat lalu menciumnya. “La, loe harus kuat La. Loe pasti bisa nerima kenyataan ini. gue yakin, loe pasti bisa,” ucapku menguatkannya.

Lola menganggukkan kepala. Terlihat senyum simpul di wajahnya. Sementara dokter dan kedua suster itu hanya mematung sambil mengamati alat deteksi jantung yang mulai bergerak normal.

“Bagaimana mungkin?” dokter itu keheranan.

Tak lama kemudian, kedua orang tua Lola masuk ruangan, ada senyum sumringah di wajah mereka. Aku juga turut bahagia. Lola berhasil membuka matanya dan kini mata kami saling beradu.
***
Selama dua hari aku berada di Surabaya. Keadaan Lola semakin membaik, ia sudah bisa diajak berbincang-bincang. Meskipun nada suaranya masih lumayan berat. Aku sering mengajaknya untuk mengenang masa-masa SMA dulu, saat kita masih sama-sama Alay dan kekanak-kanakak. Kami saling bercanda.

Saat tengah asyik bercanda. Ruby masuk dengan lelaki tua, lelaki itu mengajakku berjalan ke pojok ruangan dan mengatakan beberapa hal.

“Kamu yang namanya Alan?” tanyanya.
“Iya, kek,” jawabku dengan penasaran.
Lelaki tua itu menepuk-nepuk pundakku. “Terima kasih. Berarti selama ini benar,” ucapnya.
“Benar? Maksud kakek apa?” tanyaku penasaran.
“Kamu tahu jika Lola sangat terpukul dengan kepergan Reymond. Lola telah kehilangan separuh jiwanya. dalam logika Psikologi, harusnya Lola sudah bunuh diri karena hidupnya sudah tak lagi berarti karena telah kehilangan separuh jiwanya,” jelas kakek itu.
“Lalu, apa hubungannya dengan saya?”
Kakek itu menatap mataku, senyumnya penuh tanda tanya, “Kamu tahu apa alasan dia untuk tetap bertahan hidup?”
“Saya tak tahu, kek.”

Kakek itu tertawa terbahak-bahak. Sesekali ia alihkan pandangan ke arah taman bunga. Aku semakin penasaran, apa yang di maksud kakek itu?.

“Itu karena Lola masih memiliki separuh jiwa yang tersisa. Dan separuh jiwa Lola itu ada di dirimu, nak Alan. Jika saja kau tidak datang kesini, mungkin Lola sudah mati,” jelas Kakek itu.
“Apa? Kakek jangan mengada-ada. Saya dan Lola hanya teman.”
“Teman? ya saya paham. Tapi kamu tidak pernah tahu jika Lola sebenarnya sangat mencintaimu. Separuh jiwa yang ada dalam dirimu jauh lebih dominan daripada separuh jiwa yang ada pada Reymond. Hanya saja, Lola tidak pernah mau mengungkapkannya.”
“Ha? Itu tidak mungkin. Lola sudah sejak lama berpacaran dengan Reymond. Dia sangat mencintai Reymond. Tidak mungkin Lola mencintaiku.”
“Benarkah? Lola melakukan itu hanya untuk menyakinkanmu jika ia baik-baik saja. Dalam artian, Reymond adalah orang yang mampu membatasi antara dia dengan kamu. Ketika Reymond pergi, ia khawatir karena antara dia dan kamu tak ada lagi pembatas. Untuk itulah ia memberikan separuh jiwanya kepada Reymond. Selama bertahun-tahun ia mencoba untuk mengalihkan separuh jiwanya yang ada dalam dirimu. Tapi ia gagal.”

Aku terdiam. Benarkah apa yang dikatakan kakek itu. Lalu siapa kakek itu? kenapa dia muncul begitu saja? Aku menjadi gamang.

“Tapi kenapa dia tidak bilang ke saya? Harusnya dia bilang sebelum memutuskan untuk berpacaran dengan Reymond, kami sudah berteman sejak SMP, tapi ia tak pernah berkata apapun soal perasaanya,” protesku.
“Itu sangat berat baginya. Karena satu hal.”
“Apa?” tanyaku.
Kakek itu terdiam, ia menghela nafas dalam-dalam, dengan berat ia bersuara.
“Coba kamu pikirkan kenapa dia tidak berani mengungkapkan perasaannya ke kamu,” lanjutnya. Lalu kakek itu berjalan meninggalkanku.

Aku tertegun. Terpaku. Ngilu. Mungkin kakek tadi adalah Psikolog yang pernah diceritakan Ruby kemarin. Aku mencoba mengingat-ingat masa lalu. kenapa Lola tidak berani mengutarakan perasaannya kepadaku? Dan aku pun terhenyak. Aku ingat kalau aku pernah berkata padanya.
            “La. Gue ini sebenarnya gay. Gue nggak suka cewek.”
            Aku terpaku sendiri. Menertawakan kebodohanku selama ini. jadi selama ini Lola mencintaiku? hanya saja aku ...... oh, maafkan aku, La.

Surabaya, 12 maret 2014
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar