loading...

Rabu, 25 Maret 2015

Jawaban atas pertanyaan tentang situs Islam Toleran


header situs Islam Toleran

Sekitar satu bulan setelah saya menulis “komentar” tentang situs Islam Toleran di Kompasiana, ada beberapa pesan yang mampir ke inbox facebook. Sebagian dari orang yang saya kenal, dan sebagian belum mengenal sama sekali. Ada yang sekedar mempertanyakan maksud saya menulis komentar itu, ada yang mengira jika saya adalah salah satu admin. Situs Islam Toleran sendiri juga sudah re-post tulisan saya ke websitenya tanpa penyutingan sedikit pun. Untuk itu, ijinkan saya menjelaskan sekaligus menjawab beberapa pertanyaan itu agar tak ada lagi yang bertanya. Karena sepertinya, banyak sekali yang ingin tahu tentang situs Islam Toleran.

Pertama, niat saya untuk membuat tulisan tentang Islam Toleran itu berangkat dari fenomena maraknya perang persepsi dan ideologi di dunia maya atau yang biasa disebut perang cyber. Kita harus akui, bahwa banyak sekali media online yang syarat dengan muatan ideologis. Terutama ideologi politik atau mahzab al fikr. Islam Toleran bagi saya termasuk yang mengusung hal itu. Hanya saja, jika kita amati situs-situs berlabel Islam, situs yang mengusung ideologi atau persepsi atau mahzab al fikr seperti yang diusung Islam Toleran, tidak lebih banyak daripada situs atau media online yang mengusung ideologi yang berseberangan dengannya.

Jadi, seperti yang saya tulis sebelumnya, hadirnya situs Islam Toleran bisa menjadi penyeimbang wacana. Terlepas beritanya yang disampaikan kontroversi, provokatif, belum cover both side atau tidak sesuai dengan kaidah penulisan Jurnalistik, silahkan ditanyakan ke pihak pengelola atau adminnya. Saya tidak tahu menahu dan tidak pernah membenarkan gaya penulisan seperti itu. lagi pula, kalau kita cermati, banyak media online yang memang seperti itu. Tidak hanya Islam Toleran, yang berseberangan dengan Islam Toleran pun juga kadang demikian.

Agaknya kita memang harus paham jika Media Online memiliki space yang lebih terbuka, lebih update, dan tidak terlalu terikat. Jadi, tulisan saya soal Situs Islam Toleran tersebut berangkat dari kenyataan. Bahwa ada atau tidaknya tulisan saya, toh situs Islam Toleran tetap ada dan memang sudah eksis. Dan karena jumlah situs sejenis Islam Toleran itu memang tidak sebanyak dengan situs yang berlawanan dengannya, maka saya secara khusus memang menulis komentar untuk situs Islam Toleran.

Lantas, apakah saya mendukung sepenuhnya situs Islam Toleran? Tentu tidak. saya harus akui, ada beberapa postingan yang menurut saya berlebihan. Tapi ada beberapa postingan yang menurut saya juga layak untuk dibaca. Begitu pun dengan situs Islami yang bertentangan dengannya, atau yang sering menyerang Islam Toleran. Keduanya memiliki dua sisi yang kadang kita harus sepakat, namun kadang juga harus berbeda.

Disanalah para pembaca dituntut untuk kritis dalam menelaah berita-berita yang disampaikan situs-situs Islami, tak terkecuali dengan situs Islam Toleran.  Sederhana kan?

Kedua, saya bukan bagian dari pengelola atau admin situs Islam Toleran. Dalam situs itu, saya bukan siapa-siapa, saya hanya sekedar reader. Jadi, jika ada yang bertanya bahwa situs Islam Toleran dibuat oleh non Muslim, saya pun tidak bisa menjawab. Meskipun ada beberapa media online (yang beseberangan dengan situs Islam Toleran) sudah menuliskannya bahwa situs Islam Toleran dibuat oleh non muslim, padahal tidak disertai data yang mendukung.

Ada dua logika yang bisa kita gunakan. Pertama, isu bahwa situs Islam Toleran didirikan oleh non muslim memang dimunculkan karena Islam Toleran sering memberitakan soal Ahok, dan sering menyerang situs-situs Islami yang bertentangan dengannya. Belum lagi, serangan terhadap salah satu parpol yang berbasis Islam. Islam Toleran jelas mengancam eksistensi lawan-lawannya. Maka bisa jadi, isu itu dimunculkan untuk memadamkan eksistensi situs Islam Toleran.

Kedua, jika kita mengkaji perkembangan pemikiran Islam. Ideologi yang diusung oleh Islam Toleran bukan hal yang baru. Misalkan, soal kritik terhadap ideologi Islam Transnasional, Islamic state atau Khilafah. Pergulatan pemikiran itu sudah muncul sejak lama, dan semakin santer setelah Reformasi bergulir. Secara umum, apa yang diusung oleh Islam Toleran bukan hal yang benar-benar baru. Jadi belum ada bukti riil, dan masih sekedar asumsi bahwa pengelola situs Islam Toleran adalah non muslim. Isu itu lebih tertuju ke arah perang pengaruh dan simpati publik terhadap keduanya.

Selebihnya, soal kepentingan politik atau berita yang berbau politik, saya tidak tahu menahu. Tapi sebenarnya sah-sah saja. Misalkan, kalau situs sebelah menulis sesuatu yang buruk tentang Presiden Jokowi, situs Islam Toleran mencoba membela dengan pemaparan yang berbeda. Lalu soal Ahok, Islam Toleran membela dan situs sebelah tidak. Saya kira impas-impas saja. Kenapa harus ada yang merasa terancam kalau memang tidak ada kepentingan?

Itu saja yang bisa saya sampaikan sebagai jawaban atas beberapa pertanyaan, kalau ada yang bertanya lagi soal situs Islam Toleran, alangkah baiknya ditanyakan langsung ke admin. (*)

A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar