loading...

Minggu, 22 Maret 2015

Ijinkan aku mencium keningmu (1)



“Jikalau rumput tak menyadari keberadaan embun, haruskah embun berhenti meneduhkannya kala pagi?”

Malang, Juli 2009
Kata-kata itu selalu terngiang di benakku, sesaat setelah pengumuman SNMPTN itu datang dan aku harus segera mempersiapkan segala berkas untuk registrasi di kampus tersebut. Ada rasa gamang berpadu risau, aku harus meninggalkan kota ini untuk sementara waktu, itu berarti, aku juga harus meninggalkanmu. Aku harus pergi tatkala dirimu belum menerima kata-kata yang sudah lama bergejolak di hatiku, ini sungguh membingungkan.

Ku tatap jam dinding, dua jam lagi aku harus segera ke stasiun, karena tiket sudah terlanjur kubeli dan aku tak punya banyak waktu lagi. Sementara sejak dua hari yang lalu, kau tak juga bisa kuhubungi, handphonemu mati dan rumahmu sepi. Ah, tanpa kabar apapun, lalu kucoba menyapamu di jejaring sosial, namun tak ada respon sedikitpun. Kemanakah dirimu?

Aku tak meminta lebih, aku tahu siapa diriku, sekalipun rasa itu tlah memuncak untuk memilikimu, aku sadar diri, tak kan mampu tanganku menggenggam manis jari-jarimu, aku sadar betul jika terlalu banyak perbedaan diantara kita yang tak akan mungkin disatukan, kecuali jika Tuhan berkehendak. Entahlah, aku hanya ingin berpamitan. Setidaknya, untuk empat hingga lima tahun kedepan.

Akhirnya aku harus segera merapikan barang bawaanku, memasukkannya ke koper, dan menelepon taksi untuk mengantarkanku ke stasiun. Ini langkah yang begitu berat, karena harus meninggalkan kota ini tanpa sepatah katapun darimu, begitu sunyi rasanya, tapi biarlah.

Masih hangat di benakku, saat pertama kali kita bertemu, di kantin sekolah itu, kau tersenyum manis ke arahku, lalu karena hampir semua tempat duduk telah penuh terisi dan hanya tersisa dua kursi di depanku, kau duduk disana, dengan malu-malu kau mengulurkan tangan, mengajakku berkenalan. Dengan senang hati aku menyambutnya.

Setelah itu kita sering bertemu di banyak kesempatan, dan aku memberanikan diri untuk mengajakmu jalan-jalan, kau menerimanya dengan tangan terbuka, saat itulah aku mengenalmu, semakin jauh, semakin ada yang salah dengan perasaan ini, sampai akhirnya aku tahu jika aku terlalu terendam dalam gejolak perasaan ini ; aku suka padamu.

Sebagai lelaki aku harus memulainya, ketika malam hari aku datang ke rumahmu dan berniat mengutarakan segala perasaan ini, sekalipun kita masih SMA, tapi bagiku cinta bukan soal usia, cinta adalah soal keberanian dan kesucian, dan perasaan ini harus segera diungkapkan agar tak terus-terusan menjadi beban yang menyesakkan dada.

“Emm....” sulit sekali kata-kata itu terucap.

“Ada apa, ayo masuk dulu,” pintamu.

Lalu aku masuk ke rumahmu, kulihat ruang tamu yang tertata rapi dengan hiasan bunga yang elok. Aku tahu jika kau begitu menyayangi bunga-bunga itu, dan dengan anggunnya kau berjalan sambil membawakan segelas teh hangat.

“Silahkan,” ucapmu sambil meletakkan secangkir teh itu di atas meja tamu, dan tak sengaja pula kulihat cincin putih melingkar di jari manismu.

“Sya,” pekikku.

“Iya.”

“Cincinmu bagus,” lanjutku.

Kulihat wajahmu memerah tersipu.

“Terimakasih, ini cincin pemberian Abang,” jawabmu.

“Abang?”

My Plukme

My Plukme
Klik gambar